UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Agung Jakarta Minta Umat Katolik Kurangi Pemakaian Kantong Plastik 

Januari 9, 2019

Uskup Agung Jakarta Minta Umat Katolik Kurangi Pemakaian Kantong Plastik 

Pasukan TNI mengangkut sampah plastik di pantai Muara Baru, Jakarta utara pada 21 Maret 2018. (Foto: Konradus Epa/ucanews.com)

Beberapa bulan lalu setelah TNI membersihkan ribuan ton sampah plastik  di teluk Jakarta, uskup agung  Jakarta Mgr Ignatius Suharyo telah bersuara ketidaksetujuannya terkait masalah sampah plastik yang meningkat di Indonesia dengan menyerukan umat Katolik untuk melakukan aksi.

Melalui Surat Gembala Tahun Berhikmat 2019 “Amalkan Pancasila: Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat”,  yang disampaikan di seluruh paroki KAJ dalam Misa-misa pada 5-6 Januari, prelatus itu menyampaikan  semua umat Katolik untuk mengurangi penggunaan plastik karena berdampak bagi lingkungan dan kehidupan manusia.

Isu sampah juga muncul di negara-negara lain di Asia yang menjadi  ancaman serius  karena sebagian dari sampah itu  masuk ke laut.

Thailand juga menyerukan para pedagang eceran  termasuk Villa Market yang sekarang diduga menggunakan kantong plastik.

Cina, Thailand dan Indonesia adalah tiga negara teratas di Asia terkait  buruknya manajemen   sampah.

Sekitar 8 juta ton plastik masuk ke laut setiap tahun, lapor Program Lingkungan Hidup PBB pada Desember lalu.

Indonesia menghasilkan sekitar 64 juta ton sampah plastik setiap tahun, 3,2 juta ton masuk ke laut, kata kelompok lingkungan. Sekitar 11 persen dari total tersebut diproduksi di Jakarta.

Angka tersebut menempatkan Indonesia di urutan kedua di dunia setelah Cina. Cina berkontribusi 8,8 juta ton sampah plastik tahun 2018.

“Kita sangat prihatin karena negara kita berada di urutan kedua produsi sampah plastik di dunia,” kata Uskup Agung Suharyo.

Para relawan memungut sampah di stasiun Gambir,  Jakarta Pusat untuk menandai  World Clean-up Day pada 15 September  2018. (Foto: Konradus Epa/ucanews.com)

 

Ia mencontohkan  seekor ikan paus mati pada 19 November 2018 di kabupaten  Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Di dalam perutnya ditemukan hampir enam kilogram plastik.

Thailand juga mengalami tragedi serupa.

Sekitar 80 potongan plastik dengan berat 8 kilogram ditemukan di perut ikan paus  pada  Juni lalu setelah otoritas selama lima hari berusaha mengeluarkannya guna menyelamatkan paus itu. Sebelum, paus itu meninggal, binatang itu mengeluarkan lima tas plastik, lapor Reuters.

Menurut penelitian, saat ini plastik-plastik sudah  menghasilkan partikel-partikel terkecil yang masuk melalui air minum, makanan laut dan garam, yang bisa menjadi ancaman  bagi lingkungan  dan kehidupan manusia.

Paus Fransiskus memberikan perhatian khusus tentang pentingnya melindungi lingkungan dalam ensikliknya  Laudato si’, yang dikeluarkan tahun 2016.

Uskup Agung Suharyo  mengajak umat Katolik untuk mengikuti ajakan Bapa Suci untuk peduli terhadap lingkungan dan meminta untuk mengurangi penggunaan plastik dan styrofoam secara bertahap.

Johanes Adi, dari Paroki St. Joseph Matraman, Jakarta Timur, memuji Mgr Suharyo yang mengambil isu ini dalam surat gembala tahun ini.

“Namun, seruan itu perlu didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah,” katanya.

Pemerintah pusat dan lokal harus melarang penggunaan sampah plastik di toko, mini-market dan supermarket serta memberikan sanksi bila mereka masih menyediakan tas plastik, katanya.

Umat Katolik di lingkungannya sepakat dengan uskup agung itu untuk membawa tas sendiri bila mereka pergi belanja, katanya.

Jakarta produsi sekitar 2,5 juta ton sampah setiap tahun, 357.000 ton adalah sampah plastik, kata Rahmawati, kepala Divisi Manajemen Sampah DKI Jakarta.

Ia mengatakan DKI Jakarta telah berkomitmen tahun 2017 untuk mengurangi sampah plastik sampai  70 persen hingga 2025.

Di tahun yang sama, pemerintah pusat meluncurkan  kampanye “Indonesia Bebas Sampah Tahun 2020”. Kebijakan itu dimulai dengan intruksi setiap orang yang belanja di minimarket harus membeli satu tas plastik 200 rupiah  yang digunakan untuk menggisi barang-barang belanjaan mereka.

Sejumlah pemerintah lokal di Indonesia telah membuat kebijakan untuk mengurangi sampah plastik.

Sejak April 2018, misalnya, walikota Surabaya telah mengajak para penumpang bus bisa membayar ongkos dengan menggunakan 18 botol dan gelas plastik bekas atau tas plastik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi