UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Duterte: Saya Akan Terus Menyerang Mereka

Januari 16, 2019

Duterte: Saya Akan Terus Menyerang Mereka

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyampaikan pidato yang menyerang Gereja Katolik saat acara penyerahan sertifikat kepemilikan tanah kepada penerima manfaat reformasi agraria di Kota Kidapawan pada 29 Desember. (Foto: Kantor Komunikasi Presiden)

Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah berulangkali menyerang Gereja Katolik sepanjang perjalanan karir politiknya, tetapi dalam beberapa bulan terakhir serangannya terhadap gereja meningkat.

Kritikannya mencapai titik terendah ketika pada 29 Desember, saat upacara untuk penerima manfaat reforma agraria di Kota Kidapawan, ia mengejek salah satu prinsip utama dari iman Katolik, yaitu penyaliban Yesus Kristus, yang ia sebut sebagai “sesuatu yang tidak layak dipercaya.”

Mengapa presiden Katolik nominal dari sebuah negara yang sangat Katolik begitu masif menyerang gereja yang masih berpengaruh, tidak hanya karena catatan buruk pelecehan seksual tetapi juga karena doktrinnya yang membuat orang garuk-garuk kepala.

Namun masih banyak alasan lain yang mungkin bisa menjelaskan itu. Gagasan tentang upaya yang disengaja untuk mendelegitimasi salah satu dari sejumlah kecil lembaga dengan konstituensi nasional yang nyata adalah penjelasan yang tampaknya paling masuk akal bagi saya.

Tetapi bagaimana Presiden Duterte menyerang Gereja Katolik bukanlah sebuah misteri. Ia mengikuti suatu pola. Gaya bicara Duterte adalah asosiasi bebas. Belakangan dia mulai berbicara tentang Gereja Katolik dengan berbicara tentang kepresidenan sebagai hadiah Tuhan kepadanya.

Pada 29 Desember, dia mengatakan: “Kalian tahu, kepresidenan adalah pemberian dari Tuhan. Jadi, apa hadiah saya untuk kalian?” Pernyataannya sering berubah-ubah. Pada kesempatan lain dalam bahasa Filipina: “Tuhan memberiku sesuatu. Itu bukan keberuntungan.” Dan lagi dalam bahasa Inggris: “Ini pemberian dari Tuhan.” Kemudian dia berbicara dalam bahasa Filipina lagi: “Mengapa Tuhan memberi saya kursi kepresidenan sebagai hadiah, saya tidak tahu. Kita akan tahu ketika kita semua ada di surga.”

Dia sudah cukup mempersiapkan tempat untuk ide pemberian, jadi dia mulai dengan tema warisan lagi. Seringkali, serangannya terhadap gereja dimulai dengan pola yang sama. Ia bertanya kepada hadirin apakah ada imam di sekitarnya, yang memicu tawa. Kemudian dilanjutkan dengan penghinaan.

Dalam pidatonya pada tanggal 29 Desember, ia mengajak para pendengarnya untuk “meninjau kembali rekaman.” Kemudian dalam bahasa Filipina: “Saya tidak pernah mengatakan tidak ada Tuhan.”

Ini benar, karena apa yang dia katakan pada bulan Juni tahun lalu adalah bahwa orang Kristen menyembah “Tuhan yang bodoh.” Dia kemudian mengingat beberapa pernyataan menyakitkan yang dia dengar dari para uskup atau pastor Katolik tentang dia – bahwa dia “jahat,” bahwa seseorang berdoa untuk kematiannya saat Misa.

Untuk membalas mereka, katanya, dia menyerukan kematian para uskup di negara itu. “Jadi, semua uskupmu, bunuh mereka semua.” Dia mengakhiri rangkaian serangaan dengan: “Kamu memulainya, saya hanya melawan.”

Biasanya topik serangan pertama adalah konfrontasi terbaru dengan gereja. Presiden itu kemudian memperluas cakupan serangannya.

Dalam upacara reformasi agraria yang disebutkan di atas, ia menindaklanjuti pembenaran atas seruannya membunuh semua uskup dengan mengkritik semua imam. “Itu masalahnya dengan para imam. Karena mereka benar, kita salah.”

Dalam banyak serangan Duterte terhadap gereja, ia menggunakan alat peraga yakni kumpulan artikel yang ditulis oleh almarhum reporter Aries Rufo, yang disebut “Altar of Secrets.”

Dalam pandangan Duterte, investigasi Rufo tentang ketidakwajaran keuangan atau pelecehan seksual di berbagai bagian Gereja Filipina adalah bukti, namun bukan pencarian akan kebenaran oleh wartawan yang berdedikasi itu, tetapi kebenaran serangannya sendiri.

Buku yang sama dia berikan sebagai hadiah selama kunjungan ke Korea Selatan, termasuk kepada seorang wanita yang menikah yang dia cium, yang sempat menjadi kontroversi.

Ia juga membawa buku itu pada upacara di Kidapawan dan mendorong hadirin untuk membacanya. Dia membagikan beberapa buah buku, dengan beberapa olok-olok untuk meringankan suasana. (Alat bantu yang dia suka saat berbicara dengan unit militer adalah pistol, yang dia juga berikan kepada orang.)

Ketika Duterte punya waktu, ia akan memperluas cakupan serangan lagi. Itu yang dia lakukan Desember lalu. Dia menggambarkan negara berada di bawah kendali gereja (dalam cengkeraman gereja). Ia kemudian membuat generalisasi: “Semua negara yang dikendalikan oleh gereja benar-benar tidak berkembang. Semuanya. Ketika agama ikut camput. Ketika agama memasuki kehidupan warga sipil, mereka gunakan seperti tolok ukur. Jadi berantakan.”

Dia melanjutkan kekonyolan ini selama beberapa menit. Dia menceritakan kembali kisah rumit tentang pengakuan kepada seorang pastor bahwa dia melakukan pelecehan seksual terhadap seorang pembantu rumah tangga ketika dia masih muda, dan mengakhiri anekdot dengan pembenaran atas tindakan imoral: “Itulah yang sebenarnya terjadi. Setiap anak laki-laki mengalami hal itu.”

Dia kemudian mengaitkan kisah pelecehannya dengan pelecehan seksual yang dilakukan oleh beberapa imam. “Santai sajalah,” katanya memperingatkan para imam, dan menyarankan agar gereja membersihkan rumahnya sendiri terlebih dahulu sebelum berkhotbah.
“Jika tidak, maka saya akan menjadi musuh mereka. Dan saya akan terus menyerang mereka.”

Terkadang Duterte memasukkan sejarah palsu untuk memberikan ilustrasi tentang kesalahan gereja selama berabad-abad. Kadang-kadang dia menyebut uskup Filipina dengan nama, mengatakan dia mengerti situasi mereka. Dan terkadang dia menghina substansi keimanan itu sendiri.

Di Kidapawan, ia bertanya-tanya dengan sarkastis, bagaimana seorang Katolik bisa konsentrasi pada doa ketika Tuhannya disalibkan. “Itu tidak layak dipercaya,” katanya. “Saya Tuhan dan kamu memaku saya di kayu salib? Bajingan!

“Lalu saya katakan: ‘Petir, bunuh mereka semua. Bakar semua bidat.’ Dasar bajingan!”

Pidato yang sama dia sampaikan tentang misteri Tritunggal. “Hanya ada satu Tuhan, titik. Kamu tidak bisa membagi Tuhan menjadi tiga. Itu konyol.”

Dalam hal kritik langsung terhadap doktrin gereja, pidato 29 Desember menandai tahap baru. Juru bicara presiden segera memperbaiki kerusakan dengan menggunakan alasan yang sama. Presiden membuat lelucon. Atau, lebih kreatif, presiden ingin memancing diskusi.

Tetapi setiap penyangkalan tanggung jawab pribadi Duterte atas serangan-serangan itu adalah kebohongan, yang menjadi jelas tidak hanya melalui reputasi politik Duterte tetapi juga dengan kata-katanya sendiri.

Hampir setiap kali dia berbicara kepada publik, dia mulai dengan mengakui bahwa stafnya menyiapkan pidato untuknya – dan dia tidak pernah menyebutnya sebagai pendapatnya. Dia selalu membuat jarak antara dia dan penulis pidatonya.

Dia mengatakan, seperti yang disampaikannya pada 29 Desember: “Saya ingin sampaikan kepada anda sekalian. Saya tidak membuat [pidato] ini. Staf saya membuatnya.” Kemudian dia melanjutkan pidatonya sendiri. “Ini yang ingin saya katakan pada kalian,” katanya, dan kemudian berbicara dari hatinya yang bertentangan.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi