UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pecandu Narkoba di Filipina Memulai Hidup Baru Berkat Bantuan Paroki

Januari 17, 2019

Pecandu Narkoba di Filipina Memulai Hidup Baru Berkat Bantuan Paroki

Penerima manfaat dari program rehabilitasi yang dijalankan gereja untuk para pemakai narkoba menghadiri pelatihan di paroki Nuestra Señora Dela Candelaria di kota Tacurong, Filipina selatan. (Foto oleh Bong Sarmiento / ucanews.com)

Jonathan Padrones telah kecanduan narkotika ilegal selama bertahun-tahun tetapi berusaha “menebus” dirinya dengan bantuan gereja parokinya, katanya.

Padrones, 44, mengatakan dia pertama kali mencoba hidroklorida, sebuah metamfetamin yang dikenal dengan sebutan “shabu” di Filipina, karena penasaran ketika dia berusia 20-an.

“Saya akhirnya ketagihan,” katanya, dan menambahkan hal itu membuatnya “menjadi musuh publik nomor satu” di komunitasnya.

Padrones mengatakan dia tidak segan menghabiskan hingga $20 -(sekitar 250.000 rupiah) sehari untuk membeli sabu. Akhirnya, ia mulai menjajakan obat terlarang itu untuk mempertahankan kecanduannya.

Ketika Presiden Rodrigo Duterte memulai “perang melawan narkoba” pada tahun 2016, Padrones ditempatkan pada daftar pengawasan polisi. Ia pun bersembunyi. Hal itu berubah ketika dia mendengar program yang dijalankan Gereja Katolik untuk pecandu narkoba yang disebut “Bantuan Peduli untuk Perubahan, Harapan dan Pembelajaran.”

Pastor Salvador Robles, pastor paroki Kota Tacurong di Filipina selatan, mengatakan bahwa ketika Duterte meluncurkan kampanye melawan narkotika, setidaknya 100 orang memanfaatkan program itu.

Perang pemerintah terhadap narkoba telah merenggut lebih dari 20.000 jiwa, menurut kelompok hak asasi manusia. Pada Agustus 2017, Duterte bersumpah untuk melanjutkan kampanye anti narkoba meskipun tentara menggambarkannya sebagai “perang yang tidak dapat dimenangkan.”

Pastor Robles mengatakan, program gereja itu menerapkan “pendekatan holistik yang mencakup penataan kehidupan rohani, perubahan perilaku, pelatihan keterampilan, dan peluang mata pencaharian.”

Pakar Kristen dan Muslim dalam bidang ini mengelola program itu, yang menurut imam itu “bertujuan untuk membantu para korban narkoba mendapatkan kesempatan hidup baru.”

Dia menggambarkannya sebagai pendekatan komunitas terapeutik yang mendorong keluarga dan anggota masyarakat untuk mendukung para penguna narkoba dengan memaafkan dan menerima mereka setelah mereka menyelesaikan program.

Banyak dari mereka yang mendaftar untuk program itu menyerah kepada polisi sebagai bagian dari kebijakan Oplan Tokhang yang kontroversial dari pemerintah. Tokhang adalah “portmanteau” yang diterjemahkan secara bebas sebagai “ketukan untuk memohon,” yang mengacu pada cara petugas saat mengunjungi rumah-rumah terduga penjual dan pengguna narkoba dan mencoba meyakinkan mereka untuk menghentikan kegiatan ilegal itu.

Pastor Robles mengatakan empat kelompok telah lulus dari program itu, yang telah menjadi pelayanan khusus Keuskupan Agung Cotabato di Mindanao. Program ini mencakup seminar lima hari tentang spiritualitas dan pentingnya menjaga nilai-nilai utama.

Setelah menyelesaikan ini, para peserta menjalani “program rehabilitasi berbasis komunitas” selama enam bulan yang mencakup pertemuan untuk penilaian mingguan di paroki.

Pada akhir periode rehabilitasi, para penerima manfaat, yang dikenal dengan sebutan “saudara yang dikuatkan” diberikan peralatan sesuai pilihan mereka yang disediakan oleh lembaga pemerintah untuk membantu mereka membangun mata pencaharian baru.

Padrones meminta “alat salon kecantikan.” Kenakalannya di komunitas sekarang tinggal menjadi sejarah masa lalu, katanya.

Walikota Lina Montilla dari kotamadya Tacurong di Provinsi Sultan Kudarat bahkan memuji Padrones atas transformasinya.

“Ketika Anda punya kemauan, Anda dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif,” kata Montilla saat upacara kelulusan dari angkatan keempat pada 11 Januari.

Selain membantu mengorganisir kegiatan masyarakat, Padrones telah mulai meminta sumbangan untuk anak-anak sekolah yang miskin.

“Melalui keterlibatan sosial ini, saya berharap dapat menghapus stigma negatif yang disebabkan oleh kecanduan saya di masa lalu,” katanya kepada ucanews.com.

 

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi