UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Mencegah Pelecehan Seksual Adalah ‘Masalah Global’ Gereja

Januari 18, 2019

Mencegah Pelecehan Seksual Adalah ‘Masalah Global’ Gereja

Dalam foto pada 3 Mei 2014 ini, Pastor Hans Zollner SJ dari Jerman, anggota Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak sedang menghadiri konferensi pers di Vatikan. Ia adalah anggota komite pelaksana untuk pertemuan para uskup pada Februari di Roma yang diadakan oleh Paus Fransiskus untuk membahas masalah pelecehan seksual terhadap anak. (Foto:Tiziana Fabi / AFP)

Dengan mengundang pimpinan konferensi para uskup dan perwakilan dari ordo religius sedunia ke Vatikan pada bulan Februari untuk membahas krisis pelecehan seksual dan perlindungan anak di bawah umur, Paus Fransiskus sedang mengirim pesan bahwa menjaga kaum muda adalah isu global.

Meskipun perhatian media dan hilangnya kepercayaan publik atas kegagalan gereja telah terfokus di sekelompok kecil negara, para ahli di bidang pelecehan dan para korban tahu bahwa itu tidak berarti seluruh dunia kebal dari skandal pelecehan ini atau dapat menunda mengambil tindakan untuk memastikan keamanan semua anggota gereja.

Sementara para pemimpin Gereja Katolik di beberapa negara mungkin tidak mengakui hal ini sebagai masalah global, kantor Vatikan yang menerima laporan tuduhan pelecehan memiliki “gagasan yang jelas tentang seperti apa situasinya sekarang karena tudingan datang dari seluruh penjuru dunia,” kata Pastor Hans Zollner SJ, anggota Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak

Ia juga menjabat sebagai presiden Pusat Perlindungan Anak di Universitas Kepausan Gregorian dan anggota komite pelaksana untuk pertemuan pada Februari.

Karena gereja mengamanatkan bahwa semua tuduhan yang bisa dibuktikan tentang pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur oleh klerus harus disampaikan ke Kongregasi untuk Ajaran Iman di Vatikan, kata dia, “kami tahu tuduhan apa yang datang dari berbagai belahan dunia.”

Tuduhan datang dari negara-negara berbahasa Inggris dan Jerman yang telah menjadi pusat skandal pelecehan selama beberapa dekade “telah berkurang jauh” karena langkah-langkah perlindungan yang telah diterapkan, katanya kepada Catholic News Service pada awal Januari.

Tetapi di negara-negara di mana pelecehan belum dibicarakan di masyarakat dan di gereja, katanya, tuduhan baru mulai muncul.

Kongregasi Ajaran Imam tidak pernah merilis data statistik tentang distribusi geografis dari kasus-kasus pelecehan seksual kaum klerus yang dilaporkan. Di masa lalu, Kongregasi hanya mempublikasi jumlah total kasus yang dilaporkan dan jumlah imam yang jubahnya ditanggalkan karena terlibat pelecehan.

Data terakhir yang dirilis oleh Kongregasi Ajaran Imam adalah untuk kasus-kasus yang diadukan pada tahun 2015. Disebutkan bahwa pada tahun tersebut, ada 518 kasus yang tergolong graviora delicta (“kejahatan berat”); sebagian besar kasus tersebut berhubungan dengan pelecehan seksual anak di bawah umur, termasuk kepemilikan pornografi anak, juga masuk kategori pelanggaran serius terhadap sakramen.

Hal yang tidak diketahui adalah jumlah kasus pelecehan secara umum dalam masyarakat, kata Pastor Zollner.

“Tidak ada statistik yang jelas dan diverifikasi secara ilmiah untuk prevalensi pelecehan seksual dalam masyarakat di seluruh dunia. Hanya ada perkiraan yang berkisar antara 7 hingga 25 persen,” katanya.

Namun, karena pelecehan adalah fenomena global, katanya, gereja – sebagai jaringan global dengan orang-orang dan lembaga-lembaganya di setiap sudut dunia – diposisikan sempurna untuk menjadi bagian dari solusi terhadap isu ini.

Faktanya, sementara pertemuan pada Februari didesain untuk menyatukan kepemimpinan gereja dalam solidaritas, kerendahan hati dan dialog serta memperkuat komitmen untuk melayani mereka yang paling terluka dan rentan, upaya di level akar rumput dalam menjamin perlindungan terhadap anak telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Universitas Kepausan Gregorian, Keuskupan Agung Munich dan Freising di Jerman dan yang lainnya telah mendirikan lembaga Pusat Perlindungan Anak pada tahun 2012.

“Pada waktu-waktu awal lembaga ini, ketika kami hanya memiliki program e-learning, idenya adalah untuk menyebarkan studi online dalam berbagai bahasa dan membuatnya dapat diakses di seluruh dunia,” katanya.

Pusat Perlindungan Anak itu juga menjangkau lembaga-lembaga pendidikan dan akademik lainnya sehingga kursus di bidang perlindungan anak menjadi bagian dari kurikulum bagi mereka yang belajar psikologi, ilmu sosial atau teologi, kata Pastor Zollner, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Akademik di Universitas Gregorian di Roma dan dekan Institut Psikologi.

Lembaga itu telah mengembangkan jaringan organisasi global – dimulai dengan beberapa universitas kepausan dan universitas Katolik – yang berkomitmen untuk bekerja dengan para ahli di tingkat lokal dan bertukar informasi konkret.

Pusat Perlindungan Anak ini juga menawarkan kursus diploma multidisiplin dan program master – dalam melindungi mereka yang rentan – bagi para imam, religius, dan orang awam dari seluruh dunia.

Kongregasi untuk Evangelisasi Umat menawarkan kepada konferensi para uskup di Afrika dan Asia beasiswa penuh untuk program apapun untuk enam orang setiap tahun.

“Ini adalah pandangan yang maju karena di negara-negara itu hampir tidak ada sumber daya yang baik di masyarakat atau di gereja yang memiliki keahlian khusus di bidang ini,” katanya.

Para lulusan kembali ke negara asal mereka, keuskupan, ordo atau lembaga-lembaga, kebanyakan untuk bekerja dalam bidang perlindungan anak, membuat program, menawarkan lokakarya dan memberikan ceramah untuk pengurus-pengurus gereja dan siapa saja yang meminta bantuan mereka.

Di daerah yang sangat miskin atau terpencil, kadang-kadang mereka adalah satu-satunya ahli yang tersedia – bahkan untuk pemerintah.

Tanggapan dan penerimaan bagi para lulusan kursus perlindungan saat mereka kembali “sangat beragam karena pasti ada semacam keengganan dan keraguan dan kadang-kadang perlawanan pasif” di beberapa tempat, kata Pastor Zollner.

Salah satu tantangan besar adalah memberikan para lulusan itu “dukungan berkelanjutan sehingga mereka dapat mendorong dan … bertukar strategi yang akan membantu mereka dan gereja untuk benar-benar memahami situasi di negara mereka,” tambahnya.

Pastor Zollner mengelilingi dunia melakukan lokakarya dan memberikan ceramah tentang perlindungan anak atas undangan konferensi para uskup dan ordo religius.

Selama 2018 saja dia diundang ke Papua Nugini dan Malaysia – dua negara yang “dua atau tiga tahun yang lalu orang-orang tidak pernah berpikir bahwa ada kemungkinan untuk berbicara tentang (pelecehan), baik di masyarakat atau di gereja,” katanya.

Para anggota Komisi Perlindungan Anak juga diundang untuk berbicara di seminar, konferensi, dan lokakarya di seluruh dunia untuk memberikan pendidikan dan wawasan, termasuk kesaksian para penyintas kepada uskup dan staf baru di Vatikan.

Pastor Zollner mengatakan memiliki orang-orang yang terampil dan termotivasi di lapangan untuk menerapkan dan berbagi langkah-langkah perlindungan akan sangat penting bagi para pemimpin gereja yang menghadiri pertemuan puncak pada Februari.

“Karena begitu Anda memiliki beberapa orang baik, terlatih dengan baik dan sangat berkomitmen, dan semuanya benar-benar berkomitmen, Anda akan menemukan hubungan dengan orang lain, lembaga dan organisasi gereja lain dan mungkin pemerintahan yang mungkin, (kemudian) Anda benar-benar dapat membuat perbedaan, ” dia berkata.

Adalah kesalahpahaman yang “sangat disayangkan” bahwa di banyak tempat tidak ada yang dilakukan dalam bidang perlindungan dan pencegahan, kata Pastor Zollner.

“Di banyak tempat di dunia, prosedur perlindungan didiberlakukan, orang dilatih,” katanya. “Sekolah, panti asuhan dan sebagainya sekarang harus memiliki pelatihan untuk perlindungan dan penyaringan bagi para personel.”

“Sekali lagi, ini tidak 100 persen hadir di semua negara dan di semua lembaga. Jauh dari itu,” katanya. “Tapi ada contoh yang sangat baik bahkan di daerah di mana beberapa tahun yang lalu tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan, dan mengapa melakukan hak yang diperlukan untuk melindungi anak di bawah umur.”

“Saya berpikir positif, terutama tentang negara-negara yang saya kunjungi di Amerika Tengah atau beberapa bagian di Afrika dan Asia, di mana para uskup benar-benar berada di dalamnya, para religius ada di dalamnya; mereka setidaknya memiliki potensi untuk melakukannya secara berbeda, untuk bertindak sebelum mereka dipaksa untuk bertindak. ”

“Satu-satunya pilihan yang mereka miliki adalah apakah kita menghadapinya hari ini, hal yang membutuhkan keberanian dan energi, atau Anda akan dipaksa, atau penerus Anda akan dipaksa untuk menghadapinya di hari eesok,” katanya.

“Tapi tidak ada pilihan untuk menghindarinya atau tidak menghindarinya. Kita harus menghadapinya cepat atau lambat.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi