UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Jurang Antara Kaya dan Miskin di Bangladesh Semakin Lebar

Januari 22, 2019

Jurang Antara Kaya dan Miskin di Bangladesh Semakin Lebar

Dalam foto ini seorang pekerja Bangladesh mengangkat muatan ke atas kendaraannya dekat Sungai Buriganga di Dhaka. in this file image. Dua penelitian global melaporkan jurang antara kaya dan miskin yang semakin lebar di negara tersebut. (Munir Uz Zaman/AFP)

Kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin di Bangladesh terus melebar, dan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan jumlah orang kaya paling cepat, menurut dua penelitian global baru-baru ini.

Bangladesh berada di peringkat kelima di belakang India, Nigeria, Kongo, dan Etiopia untuk kemiskinan ekstrem, menurut laporan Poverty and Shared Prosperity 2018 oleh Bank Dunia. Setelahnya ada Tanzania, Madagaskar, Kenya, Mozambik dan Indonesia.

Laporan itu mengatakan Bangladesh memiliki 24,1 juta orang yang sangat miskin (dari lebih dari 160 juta penduduk) yang berpenghasilan kurang dari $1,90 per hari, ambang kemiskinan dunia.

Laporan ini muncul disaat kemajuan luar biasa negara mayoritas Muslim itu dalam mengurangi tingkat kemiskinannya dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut Biro Statistik Bangladesh yang dikelola pemerintah, tingkat kemiskinan turun dari 44,2 persen pada 1991 menjadi sekitar 15 persen pada 2016-17 karena pertumbuhan tahunan 6 persen selama periode ini.

Bangladesh akan mencatat pertumbuhan tercepat ketiga dalam jumlah orang yang berpenghasilan tinggi di dunia dalam lima tahun ke depan, demikian laporan terbaru oleh Wealth-X, sebuah perusahaan riset yang berbasis di New York.

High Net Worth Handbook 2019 memberikan analisis terhadap populasi jutawan dunia (mereka yang memiliki kekayaan bersih $ 1-30 juta), naik 1,9 persen menjadi 22,4 juta orang pada 2018 dan diperkirakan akan meningkat 6,2 persen lagi lama lima tahun berikutnya.

Jurang pemisah yang semakin lebar antara kaya dan miskin menunjukkan perbedaan dalam distribusi kekayaan dan pembagian dividen ekonomi yang tidak adil di Bangladesh, kata para analis.

“Memang benar bahwa Bangladesh berkembang pesat menjadi ekonomi yang berkelanjutan dari sebelumnya lemah. Namun, masalahnya adalah distribusi kekayaan tidak cukup adil dan diskriminasi masih tinggi. Ada juga kecenderungan untuk menjadi kaya melalui cara ilegal dan tidak bermoral,” kata Anu Muhammad, seorang profesor ekonomi di Universitas Jahangir Nagar di Dhaka, kepada ucanews.com.

Bangladesh masih harus menempuh jalan panjang untuk memastikan upah minimum yang adil bagi orang-orang kelas pekerja, kebijakan perpajakan yang adil, pengeluaran di sektor sosial dan peningkatan kesempatan kerja yang proporsional, katanya.

“Kisah sukses ekonomi dibayangi oleh peningkatan kesenjangan kekayaan yang berlipat ganda. Ini bahaya. Tidak ada kemajuan yang berkelanjutan jika kita gagal mengurangi diskriminasi dan kesenjangan kekayaan,” kata Muhammad.

Jibon D. Das, direktur regional lembaga amal Katolik, Caritas Khulna, yang mencakup wilayah pesisir selatan Bangladesh yang miskin, setuju.

“Kedua laporan itu mencerminkan kenyataan di Bangladesh. Orang kaya semakin kaya dengan mengencangkan otot ekonomi dan politik mereka, sering secara tidak bermoral dan kriminal, sementara orang miskin tetap diabaikan dan didiskriminasi. Situasi ini hampir merata di seluruh negeri,” kata Das kepada ucanews.com.

Hanya sedikit yang menjadi kaya dengan cara jujur dan adil, katanya.

“Orang-orang yang mengumpulkan kekayaan besar-besaran melakukannya melalui penyimpangan, korupsi, dan kejahatan seperti penjualan obat-obatan terlarang dan penyelundupan. Mereka tidak tersentuh hukum karena kekuatan ekonomi dan politik mereka. Pemerintah perlu memastikan akuntabilitas dan pemerintahan yang baik serta mengurangi diskriminasi dan ketidaksetaraan,” kata Das.

Pemerintah berkomitmen untuk mengentas kemiskinan dan mengurangi ketidaksetaraan, kata Muhammad Shamsul Alam, dari departemen perencanaan Kementerian Kesejahteraan Sosial.

“Bagi negara berpenghasilan menengah ke bawah seperti Bangladesh, sangat sulit untuk melewati ambang kemiskinan. Namun, pemerintah berkomitmen untuk pembangunan berkelanjutan bagi kaum miskin pada tahun 2021 dengan peningkatan pengeluaran sosio-ekonomi, dan menargetkan penghapusan kemiskinan secara penuh pada tahun 2030,” kata Alam.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi