UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pejuang Hak Petani Sulawesi Dapat Yap Thiam Hien Award

Januari 24, 2019

Pejuang Hak Petani Sulawesi Dapat Yap Thiam Hien Award

Eva Susanti Hanafi Bande menerima Yap Thiam Hien Award dari Emil Salim, mantan Minteri Lingkungan Hidup  di era Soeharto, pada 21 Januari di Perpustakaan  Nasional, Jakarta. (Foto: Konradus Epa/ucanews.com)  

Setelah memenangkan Yap Thiam Hien Award 2018, Eva Susanti Hanafi Bande, seorang aktivis yang berjuang bagi hak-hak para petani miskin dan lingkungan,  mengatakan ia mendedikasikan penghargaan itu untuk para petani dan rekan-rekannya yang saat ini berada di balik jeruji besi.

Dilahirkan di Luwuk, sebuah kota kecil di Provinsi Sulawesi Tengah, Bande, 40, secara militan membantu para petani di kabupaten  Banggai. Ia membantu para petani untuk mempertahankan lahan mereka yang dicaplok oleh perusahaan-perusahaan besar dan mengkonversi menjadi perkebunan kelapa sawit dan juga tambang.

Ia dan warga lokal khususnya para petani berjuang melawan perusahaan-perusahaan melalui Front Rakyat Advokasi  Sawit (FRAS), sebuah organisasi yang didirikannya tahun 2010.

Di bawah payung kelompok ini, mereka menentang para pengusaha yang mengambil alih lahan para petani termasuk  PT Kurnia Luwuk Sejati, sebuah perusahaan kelapa sawit di kabupaten Banggai.

Sejak 1996, perusahaan itu mendapat izin dari pemerintah lokal untuk mengelola halan seluas 13.000 hektare untuk menanam pohon akasia dengan menerima dana sekitar  Rp 11 miliar dari pemerintah, namun uang itu tidak dikembalikan dan lahan itu dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Pada Mei 2010, Bande dituduh memprovokasi para petani melawan perusahaan itu. Dalam konflik tersebut para petani membakar sejumlah aset dan falitas perusahaan itu.

Ia kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara 4,5 tahun di 2010. Ia dibebaskan pada  22 Desember 2014 setelah Presiden Joko Widodo memberikan grasi kepadanya.

“Saya berharap bahwa  presiden menyelesaikan konflik-konflik agraria dan membebaskan para petani yang masih di penjara,” kata Bande usai menerima penghargaan itu pada 21 Januari di Jakarta.

Sekitar 146 petani dan aktivis berada di balik jeruji besi untuk melindungi lahan mereka menentang invasi korporasi besar.

Ia mengatakan bahwa bersama dengan para petani ia sedang membantu mereka untuk mendapatkan sertifikat tanah mereka, dan di bawah program pemerintahan Joko Widodo saat ini  untuk membantu para petani dengan sertifikat gratis.

Eva Susanti Bande menyampaikan sambutan saat penganugerahan di Jakarta pada 21 Januari. (Konradus Epa/ucanews.com)

Penghargaan itu sebagai pemantik

Bagi Bande, penghargaan itu menjadi pemantik api bagi aktivismenya dan mendedikasikan bagi para pembela HAM yang masih berjuang.

Penghargaan itu bukan hanya sebuah apresiasi terhadap karyanya bagi para petani di Banggai, tapi para petani dimana pun seluruh Indonesia yang terus menerus menghadapi ketidakadilan, katanya.

“Ini adalah hasil dari kerja kolektif masyarakat yang berjuang bersama saya,” kata Bande, seraya menambahkan bahwa penghargaan itu meningkatkan semangat aktivisme yang ia geluti sejak 1998.

“Bagi saya, ketidakadilan tidak bisa ditolerir, meskipun saya sadar bahwa keadilan itu masih harus diperjuangkan terus menerus, seperi memanjat bukit yang terjal dan berduri,” katanya.

“Saya belum mencapai puncak bukit, baru sebagaian. Tapi, saya tidak takut, apalagi menyerah.”

Yoseph Adi Prasetyo, salah satu dewan yuri Yap Thiam Hien Award, mencatat bahwa trend konflik yang berkembang melibatkan korporasi besar dan warga lokal.

“Ada banyak konflik di antara para petani dan perusahaan, baik tambang maupun perkebunan kelapa sawit,” kata awam Katolik itu.

Ia mengatakan bahwa  Bande dipilih karena ia berperan penting dan sudah lama melindungi para petani dan lingkungan dari kerusakan yang disebabkan oleh  korporasi.

Perjuangannya menjadi lebih bermakna karena ia membela masyarakat adat yang sering menjadi target dari tindakan represif dan penganiayaan.

Sekitar 80 persen pelanggaran HAM terhadap para aktivis dan pembela HAM dari tahun 2014 hingga 2018 melibatkan aktivis lingkungan, banyak yang dipenjara tanpa proses hukum, demikian data dari Protection International Indonesia.

Azriana Manalu, ketua Komnas Perempuan, mengatakan Bande layak mendapatkan penghargaan itu.

“Penghargaan seperti ini seharusnya diberikan oleh pemerintah, bukan LSM karena ia berkontribusi untuk melindungi lingkungan,” katanya kepada ucanews.com.

Ia mengatakan Bande juga berjuang untuk kaum ibu dari komunitas adat yang rentan ketika mereka berjuang untuk lahan-lahan mereka.

“Penghargaan ini dapat membuka akses bagi kesetaraan kaum perempuan,” katanya.

Selain Bande,  Sedulur Sikep,  dari Jawa Tengah, juga meraih  penghargaan tersebut. Sedulur Sikep merupakan sebuah kelompok petani yang berjuang melindungi lingkungan hidup di sekitar pegunungan Kendeng.

Kelompok petani Sedulur Sikep dari Jawa Tengah dapat  Yap Thiam Hien Award 2018. Mereka hadir dalam acara penyerahan penghargaan tersebut pada 21 januari di Jakarta.

 

Mereka berjuang menolak kehadiran pabrik semen di wilayah mereka dan bahkan mengadakan protes di depan Istana Presiden Jakarta dengan menyemenkan kaki mereka.

Penghargaan Yap Thiam Hien mengambil nama seorang etnis Thionghoa, seorang pakar hukum dan juga aktivis HAM. Penghargaan itu dimulai  10 Desember 1992 yang bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Internasional.

Penghargaan itu telah diberikan kepada 30 individu dan kelompok yang memiliki komitmen menegakan HAM di Indonesia, termasuk sejumlah orang Katolik seperti Pastor John Jonga dan Maria Catharina Sumarsih.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi