UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Anggiasari Puji Aryati: Terjun ke Politik demi Sesama Kaum Disabilitas

Januari 25, 2019

Anggiasari Puji Aryati: Terjun ke Politik demi Sesama Kaum Disabilitas

Anggiasari Puji Aryati, 38 sedang memberi pelatihan bagi aktivis sosial di Yogyakarta. (ucanews.com)

Lahir sebagai penyandang disabilitas dengan postur tubuh yang pendek, Anggiasari Puji Aryati berhasil bangkit dari perasaan minder dan berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.

Sekarang, ia sedang berjuang untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat di tingkat nasional.

Perempuan berusia 38 tahun ini adalah anak kedua dari dua bersaudara, yang lahir di Jakarta dan kini menetap di Yogyakarta.

“Saya menyadari keadaan saya yang berbeda dengan yang lainnya saat saya masuk ke taman kanak-kanak,” katanya dalam sebuah wawancara via telepon pada pertengahan Januari.

“Kala itu, teman-teman saya mengatakan, ‘kok kamu pendek, tanganmu pendek’. Itu membuat saya sadar bahwa tubuh saya memang unik,” akunya.

Ia sempat malu dengan keadaaanya karena sering ada teman-teman yang mengejeknya. Namun beruntung karena keluarganya sendiri yang menjadi pendukung paling kuat.

Ibunya Dwi Priyatie, 67, mengatakan, ia mengetahui keadaan Aryati saat berusia empat bulan.

“Anak ini anak kok gak gede-gede, ga panjang-panjang,” katanya mengenang.

Namun, ia memilih keadaan anak bungsunya itu. “Saya ga pernah ngumpet-ngumpet, (menyembunyikan) dia, gak pernah malu. Saya membawanya ke mana-mana,” katanya.

Dan, bagi Anggi, hal itu yang membuat kepercayaan diriya tumbuh.“Kalaupun diejek di luar rumah, tetapi di rumah saya menemukan kedamaian,” katanya.

Anggi kemudian menempuh pendidikan dasar hingga menengah di sekolah-sekolah umum, hingga kemudian kuliah Bahasa Perancis di Universitas Gaja Mada Yogyakarta dan lulus pada 2002.

Pada 2007 ia juga meraih gelar B.A Sastra Inggris dari Lembaga Studi Bahasa Asing LIA di Yogyakarta.

Terlibat

Pergaulannya yang makin luas saat duduk di bangku kuliah membuat matanya kemudian terbuka dan menyadari bahwa banyak orang-orang seperti dirinya dan dengan beragam disablilitas lain yang tidak seberuntung dirinya, yang menghadapi diskriminasi dan eksklusi sosial.

Situasi itu kemudian menggerakkan Anggi untuk  terlibat dalam upaya advokasi hak-hak kelompok marginal, dengan bekerja di lembaga-lembaga sosial.

Pada 2006, ia bergabung dengan lembaga pelayanan Bunga Bakung di Jakarta yang fokus pada upaya memberi pelatihan untuk pemberdayaan ekonomi bagi anak jalanan dan mantan narapinada. Selama bekerja di sini, ia mengunjungi penjara-penjara dan daerah kumuh di Jakarta.

Ia juga sempat bergabung dengan Caritas Jerman, lembaga sosial karitatif Katolik yang membuka kantor di Yogyakarta. Selain menjadi penerjemah, di lembaga ini ia juga menjadai fasilitator untuk kursus-kursus terkait disabilitas dengan persepektif agama.

Sejak 2016, ia bergabung dengan dalam organisasi Human Inclusion, yang sebelumnya dengan nama Handicap International, dengan fokus pada pemberdayaan kelompok disabilitas.

Perannya di organisasi tersebut dalam bidang kampanye kesetaraan gender dan inklusi membawa Anggi pada kesempatan memberi training, tidak saja di Indonesaia tetapi juga di Timor Leste, Filipina dan Thailand.

Anggiasari Puji Aryati memilih masuk ke dalam politik demi memperjuangkan hak-hak mereka, yang dianggapnya masih belum banyak diperhatikan. (Foto: Ahan Harahap/ucanews.com)

Tantangan

Anggi menilai, di Indonesia, yang memiliki 8,56 persen atau 20 juta penduduk disabilitas menurut data pemerintah pada 2015, pemerintah sebenarnya sudah mulai menunjukkan perhatian pada penyangdang disabilitas.

Salah satunya, kata dia, adalah dengan penerbitan Undang-undang Penyandang Disabilitas Nomor 8 Tahun 2016 yang berisi tentang pemenuhan hak penyandang disabilitas. Undang-undang ini menjamin terpenuhinya hak dan kesempatan penyandang disabilitas, misalnya hak hidup, pekerjaan, pendidikan, akses fasilitas, hak bebas dari stigma, kesejahteraan sosial dan pelayanan publik.

Pada peringatan Hari Penyadang Disabilitas Desember 2018, Kementerian Sosial juga meluncurkan kartu penyandang disabilitas kepada 7.000 orang dan mendistribusikan sebanyak 7.070 alat bantu penyandang disabilitas berupa kursi roda, hearing aid, kruk, tongkat netra, kaki palsu, tangan palsu, dan lainnya.

Presiden Joko Widodo juga menyatakan rencana membangun pabrik khusus yang akan dikelolah oleh kelompok disabiitas.

Namun, kata Anggi, masih banyak hal yang belum diimplementasikan dari undang-undang itu.

Yang paling utama, jelasnya, adalah akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.

“Ketika akses terhadap pendidikan terbatas, maka otomatis juga akses kepada pekerjaan terhambat. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah bagi upaya advokasi,” tambahnya.

Selain itu, kata dia, pola pendidikan di Indonesia, masih belum bisa menempatkan kelompok disabilitas pada posisi setara.

“Masih ada kategori normal atau tidak normal dan tidak berupaya melihat ini sebagai bagian dari keragaman,” kata Anggi.

“Banyak orang yang belum sadar bahwa menjadi disable adalah bisa terjadi pada siapa saja. Orang yang disable tidak saja karena lahir, tetapi bisa juga karena kecelakaan,” lanjutnya.

Menuju Senayan

Situasi diskriminasi dan eksklusi kaum disabilitas, kata Anggi, menjadi dorongannya untuk memantapkan tekad maju dalam pemilihan legislatif pada 17 April mendatang.

Ia bergabung dengan partai beraliran nasionalis Nasional Demokrat dan mewakilii daerah pemilihan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

“Saya berpikir, mesti ada orang yang duduk langsung di parlemen untuk memperjuangkan hak kami,” katanya.

“Selama ini suara-suara kami tidak didengar karena tidak ada yang bisa langsung mewakili” katanya.

Ia kini akan berjuang bersama ribuan caleg untuk merebut 520 kursi di Senayan.

Singgih Purnama, salah satu rekan kerja Anggi memuji konsistensinya dalam perjuangannya, yang menurut dia berusaha mengahayati keterlibatannya dalam advokasi hak-hak sebagai penyandang disabilitas sebagai “sebuah panggilan.”

“Saya kira ruangnya akan lebih terbuka untuk mewujudkan harapannya bagi penghargaan terhadap hak-hak penyandang disabiitas dengan masuk ke dalam lembaga legislatif,” kata Singgih dalam wawancara via telepon.

“Sebagai difabel, ia tentu lebih tahu apa yang menjadi perhatian mereka,” jelasnya.

Sementara itu, Subardi, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nasdem di DIY mengatakan, “kami melihat Anggi ini memiliki potensi yang besar. Dia sosok yang cerdas.”

Kini Anggi sedang fokus pada kampanye, termasuk mengharapkan dukungan dari sesama kaum disabilitas.

Yang jelas, kata dia, entah terpilih atau tidak, ia akan tetap berada pada jalur perjuangan yang sudah dimulainya.

“Menjadi aggota legislatif hanya salah satu jalan. Apapun hasil yang akan saya peroleh nanti, saya akan tetap mendedikasikan diri untuk memperjuangkan hak-hak kami,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi