UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Menyeimbangkan Kembali Struktur Monarki Gereja

Januari 31, 2019

Menyeimbangkan Kembali Struktur Monarki Gereja

Para biarawati India dan para pendukung mereka dari kalangan Muslim melakukan protes di luar Pengadilan Tinggi di Kochi, Kerala, pada 13 Sept 2018 untuk menuntut penangkapan Uskup Franco Mulakkal, yang dituduh memperkosa seorang biarawati. (Foto AFP)

Penulis Prancis Andre Malraux dalam bukunya Anti-Memoirs mengatakan bahwa “abad ke-21 akan menjadi religius, atau tidak sama sekali.” Sementara itu, The Pew Forum memberi tahu kita bahwa 5,8 miliar dari 6,9 miliar orang di dunia terus mengklaim menjadi anggota beberapa afiliasi agama.

Setelah ideologi fasisme dan komunisme menjadi usang, orang-orang mulai melihat ke depan dengan harapan besar pada kembalinya agama yang ramah sebagai kekuatan publik. Sayangnya, kenyataannya sangat mengecewakan. Apa yang kita lihat di dunia saat ini adalah penyebaran agama patriarkal yang keras dan penuh kekerasan, bukan agama yang berbelas kasih dan penyayang.

Sangat disayangkan, dalam Katolik Roma, kekerasan itu bersifat internal, yang ditujukan kepada anggota-anggotanya yang paling rentan, yakni para remaja dan wanita. Dan itu adalah jenis kekerasan seksual yang sangat merendahkan, ditambah dengan tipu daya.

Saat ini kemarahan dan rasa jijik meningkat terhadap peran yang dimainkan hierarki gereja dalam menangani skandal pelecehan anak yang mengguncang Gereja Katolik di Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Amerika Latin.

Kita yang berada di India tidak boleh lantas dengan sombong mengatakan “ya, tapi itu tidak terjadi di sini!” karena laporan tentang imam lokal yang melakukan pelecehan seksual telah menjadi berita utama di negara ini, yang menunjukkan bagaimana kejahatan seks memang merupakan masalah global bagi Gereja.

Akan tetapi inti dari masalah ini bukanlah terutama seks dibandingkan klerikalisme , yakni menyangkut rasa berhak, kurangnya akuntabilitas, dan arogansi kekuasaan. Ini adalah menyangkut “apa pun yang saya lakukan, tidak ada yang bisa menyentuh saya.” Sikap inilah yang tampaknya dipegang oleh para imam dan pemangku kekuasaan tingkat atas, seolah-olah mereka milik kasta superior, yang terletak di penyakit ini.

Tidak sulit untuk melihat bagaimana sistem pemerintahan yang korup dapat melemahkan dan bahkan menghancurkan tatanan Gereja. Bagaimana anggota gereja yang setia dapat melangkah maju di masa krisis ini untuk melayani Gereja dengan sebaik-baiknya?

Salah satu solusinya adalah para uskup membagikan kekuasaan dan kepemimpinan dengan umat awam. Dari titik ini ke depan, umat Katolik awam harus disambut, bukan sebagai tanggapan sementara terhadap krisis saat ini, tetapi sebagai dukungan struktural mendasar bagi persatuan Gereja sepenuhnya.

Para uskup harus mendorong kaum awam dan mendukung inisiatif mereka sehingga mereka dapat mengambil tempat yang selayaknya dalam Gereja, sebagaimana digariskan oleh konsili Vatikan II. Menjamin partisipasi awam dengan otoritas yang setara dengan hierarki gereja harus menjadi bagian dari rencana restrukturisasi.

Dengan kata lain, kita perlu mengakhiri struktur monarki Gereja Katolik. Di banyak negara, para uskup tidak dapat mengevaluasi kinerja mereka sendiri secara kredibel. Ini adalah konsekuensi negatif dari apa yang disebut “hierarki Yohanes Paulus II,” di mana para uskup dipilih dan dipromosikan semata-mata atas dasar kepatuhan penuh mereka kepada paus, daripada berdasarkan pada integritas pribadi mereka.

Seperti yang dikatakan oleh sejarawan gereja terkemuka, Massimo Faggioli, “Jalan terbaik kita adalah mendapatkan kembali ruang-ruang gereja gerejawi yang menjadi milik umat Allah, dan bukan hierarki.”

“Jika kepemimpinan gereja tidak membersihkan kekacauan pelecehan seksual ini, otoritas sipil akan melakukannya. Tetapi otoritas sipil hanya dapat menangani kejahatan Gereja, dan tidak dapat mengembalikan integritas Gereja. Hanya umat beriman yang dapat melakukan itu,” Faggioli melanjutkan.

Itulah sebabnya mengapa berbagai organisasi yang bekerja untuk reformasi Gereja menuntut baik kaum awam pria maupun perempuan menjadi bagian dari pertemuan yang telah ditetapkan Paus Fransiskus bulan Februari bagi para ketua konferensi waligerea untuk mengatasi pelecehan anak di bawah umur. Para uskup tidak bisa lagi menjadi satu-satunya penentu kebijakan gereja. Pertemuan khusus ini akan kehilangan semua kredibilitasnya jika tidak memasukkan orang awam sebagai mitra yang setara dalam perencanaan tindak lanjut mereka.

Tetapi apakah ini akan terjadi?

Ini adalah tantangan nyata yang dihadapi Paus Fransiskus. Kredibilitasnya yang dipertaruhkan. Gembala yang ingin para imamnya menyatu dengan kawanan domba harus memastikan tidak ada serigala dengan pakaian domba di dalam barisannya. Ini mungkin kesempatan terakhir paus fransiskus.

 

Penulis Pastor Myron J. Pereira, SJ, tinggal di Mumbai, India

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi