UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Manajemen yang Baik Meningkatkan Jumlah Peziarah di Banglades

Pebruari 5, 2019

Manajemen yang Baik Meningkatkan Jumlah Peziarah di Banglades

Pendevosi menghadiri Misa Kudus pada pesta tahunan di Tempat Ziarah St. Antonius dari Padua di Desa Panjora, Distrik Gazipur, di Banglades pada 1 Februari. (Foto: Stephen Uttom/ucanews.com)

Pengangkatan seorang imam sebagai pendamping rohani di sebuah tempat ziarah Katolik yang paling populer di Banglades meningkatkan jumlah peziarah saat pesta tahunan. Tempat ziarah ini didedikasikan untuk St. Antonius dari Padua.

Pada 1 Februari, sekitar 80.000 peziarah, sebagian besar Katolik dan sebagian kecil non-Katolik,  dari berbagai willayah di negara itu memadati tempat ziarah yang terletak di Desa Panjora, Distrik Gazipur, itu untuk berdoa dan memberi penghormatan kepada St. Antonius.

Kardinal Patrick D’Rozario dari Dhaka memimpin Misa untuk para peziarah.

Ribuan orang menunggu dalam antrian panjang untuk memberi penghormatan kepada Orang Kudus itu dengan menyentuh dan mencium patungnya. Banyak peziarah mempersembahkanmanots (hadiah yang diberikan agar permohonan dikabulkan) kepada St. Antonius dalam bentuk lilin, ornamen, uang, burung merpati dan kelinci.

Sebelum pesta tahunan, doa novena dan Misa selama sembilan hari diadakan di tempat ziarah itu. Ribuan pendevosi menghadiri kegiatan tersebut .

Menurut sejumlah petinggi Gereja, peningkatan jumlah peziarah disebabkan oleh manajemen yang baik termasuk perluasan tempat ziarah, peningkatan keamanan dan makanan dengan harga terjangkau serta pengangkatan seorang imam sebagai pendamping rohani.

Keuskupan Agung Dhaka mengangkat Pastor Leonard Poresh Rozario, 72, sebagai pendamping rohani para peziarah sepanjang tahun untuk menanggapi permintaan yang sudah lama disampaikan oleh para peziarah.

Pastor Rozario tiba di tempat ziarah itu pada 18 Januari.

“Saya senang berkarya di Tempat Ziarah St. Antonius untuk membantu para pribadi dan kelompok peziarah yang datang ke sini untuk berdoa dan memberi penghormatan kepada Orang Kudus yang luar biasa itu. Saya membantu mereka dalam pengakuan dosa, meditasi, refleksi dan juga memberi penghiburan rohani atas segala macam masalah dan intensi mereka,” kata imam itu.

 

Pendevosi memberi penghormatan kepada St. Antonius di tempat ziarah itu pada 1 Februari. (Foto: Stephen Uttom/ucanews.com)

 

“Cukup lama saya merindukan sebuah kehidupan monastik, sebuah kehidupan dalam pengasingan. Saya percaya tugas baru ini mengobati kerinduan saya,” lanjutnya.

Rabeya Begum, 40, seorang ibu beranak dua, menempuh perjalanan dari Distrik Munshiganj menuju tempat ziarah itu untuk mengucap syukur kepada St. Antonius atas “berkat luar biasa” yang diterimanya.

“Saya belum hamil juga setelah menikah selama lima tahun. Saya pernah datang ke sini untuk berdoa dan berjanji akan mempersembahkan manot kepada Orang Kudus itu jika permohonan saya terkabul. Hari ini saya bahagia karena telah memiliki dua anak dan saya berusaha untuk melakukan peziarahan setiap tahun,” katanya kepada ucanews.com.

Rosaline Gomes, seorang ibu berusia 56 tahun, menempuh perjalanan dari Distrik Rajshahi dengan membawa lima pasang burung merpati. Namun ia menolak menyebutkan permohonannya.

“Permohonan saya dikabulkan lewat perantaraan St. Antonius. Siapa saja yang meminta bantuan kepada Orang Kudus itu dengan penuh keyakinan pasti akan dikabulkan,” katanya kepada ucanews.com.

Peziarahan tersebut merupakan pertemuan tahunan terbesar di kalangan umat Kristen di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu. Umat Kristen terdiri atas kurang dari 50 persen dari jumlah penduduk yakni 160 juta orang.

Sejumlah sejarawan Gereja meyakini bahwa devosi kepada St. Antonius di Desa Panjora dimulai sejak beberapa abad lalu. Legenda menyebutkan bahwa sebuah patung kecil St. Antonius nampak dan nampak kembali beberapa kali di tempat di mana tempat ziarah itu berada saat ini dan orang-orang mulai mengunjungi tempat itu untuk berdoa.

Dom Antonio, seorang pengkotbah Katolik dari Suku Bengali, diyakini membantu memopulerkan tempat ziarah itu.

Dom Antonio adalah anak laki-laki dari seorang raja Hindu yang diculik oleh para bajak laut dan dijual kepada seorang misionaris Katolik dari Portugal yang mendorongnya untuk memeluk agama Katolik.

Antonio belajar agama Katolik, ketrampilan bahasa, musik dan tari. Ia menjadi seorang pengkotbah terkenal. Ia telah mendorong ribuan umat Hindu kasta rendah di wilayah Bhawal di Dhaka, sebuah wilayah yang berpenduduk mayoritas Katolik, untuk memeluk agama Katolik.

St. Antonius lahir di Lisbon, Portugal, pada 15 Agustus 1195. Ia ditahbiskan sebagai imam dan kemudian menjadi seorang biarawan Fransiskan. Ia dikenal secara luas atas kotbahnya yang luar biasa, cintanya yang begitu besar kepada orang miskin dan orang sakit dan pengetahuannya yang mendalam tentang Injil.

Ia meninggal pada 1231 di usia 35 tahun di Padua, Italia, akibat penyakit busung kronis. Vatikan mengkanonisasinya setahun kemudian.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi