UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Romo Paschalis Sesalkan Hukuman Ringan Bagi Pelaku Perdagangan Orang

Pebruari 5, 2019

Romo Paschalis Sesalkan Hukuman Ringan Bagi Pelaku Perdagangan Orang

Tersangka pelaku perdagangan orang Rusna saat sidang di Pengadilan Negeri Batam pekan lalu. (Romo Paschal/ucanews.com)

Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus Pr dari Paroki Kerahiman Ilahi di Batam, Propinsi Kepulauan Riau, baru-baru ini menyuarakan keprihatinan terkait keputusan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut hukuman penjara hanya 1,5 tahun untuk seorang terduga pelaku tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang mengeksploitasi seorang remaja putri berumur 16 tahun.

Koordinator Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau Keuskupan Pangkalpinang itu mengatakan JPU yang menangani kasus tersebut pada sidang yang digelar pada 29 Januari lalu di Pengadilan Negeri Batam “mengabaikan sama sekali” UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO yang menjadi isi dakwaan.

Menurut UU itu, setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun.

Romo Paschalis menyampaikan keprihatinannya dalam sebuah surat tertanggal 31 Januari yang disampaikan kepada jaksa agung, jaksa agung muda tindak pidana umum, jaksa agung muda tindak pidana khusus, jaksa agung muda bidang pengawasan, jaksa agung muda bidang pembinaan dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia.

Terduga pelaku TPPO bernama J. Rusna, direktur perusahaan penyalur tenaga kerja PT Tugas Mulia, dituduh mengeksploitasi seorang remaja putri asal Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan mengirimkankannya kepada seorang majikan dan mengantongi gaji bulanannya selama dua tahun sejak 2016.

“Dalam tuntutan tersebut, saya sangat heran, bagaimana mungkin jaksa bisa mengajukan tuntutan untuk pelaku utama tindak pidana perdagangan orang hanya dengan tuntutan 1 tahun (dan) 6 bulan,” kata Romo Paschalis.

“Ini sangat tidak adil bagi pihak korban dan sangat mencederai ‘rasa’ keadilan ditengah maraknya usaha memberantas tindak pidana perdagangan orang yang terjadi di Batam,” lanjutnya.

Ia mengatakan tuntutan JPU terhadap Rusna tidak sebanding dengan hukuman yang diberikan hakim pada Desember lalu kepada paman korban yang dihukum penjara selama empat tahun berdasarkan UU tersebut.

Paman korban, Paulus Baun, terbukti bersalah telah membawa korban kepada Rusna.

“Tetapi untuk pelaku utama J. Rusna, tuntutan jaksa menjadi berbeda. Ini sangat ganjil dan membingungkan; untuk seorang pekerja lapangan dituntut 4 tahun penjara, dengan UU TPPO,  tetapi untuk pelaku utama malah dituntut 1 tahun dan 6 bulan, dengan UU Perlindungan anak. Ada apa kejaksaan?” tanya Romo Paschalis.

Martinus Gabriel Goa Sola, direktur Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia (PADMA Indonesia), juga mempertanyakan tuntutan JPU dan meminta penyelidikan dan tindakan tegas aparat penegak hukum jika ditemukan adanya jual-beli putusan.

“Jika diduga kuat terlibat jual-beli putusan, maka KPK segera melakukan operasi tangkap tangan,” katanya.

Seorang JPU, Samuel Pangaribuan, menolak memberikan komentar ketika dihubungi oleh ucanews.com.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi