UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kelompok Minoritas Agak Pesimis dengan Pilpres Mendatang

Pebruari 6, 2019

Kelompok Minoritas Agak Pesimis dengan Pilpres Mendatang

Presiden Joko Widodo (tengah), yang mencalonkan diri pada periode kedua, Cawapresnya Ma'ruf Amin (ketiga dari kiri), Ketua TKN Widodo-Ma'ruf Erick Thohir (media dari kiri) dalam deklarasi damai menjelang kampanye pilpres di Monas, Jakarta pada 23 September 2018. (Foto: Adek Berry/AFP)

Menjadi sasaran persekusi selama bertahun-tahun, Yendra Budiana, seorang pengikut Ahmadiyah tidak kaget ketika dalam debat pertama calon presiden dan wakil presiden sama sekali tidak disinggung tentang masalah pelanggaran kebebasan beragama.

“Itu bukan hal yang mengejutkan,” katanya kepada ucanews.com. “Sudah diduga bahwa itu tidak dibicarakan,” lanjutnya.

Debat pertama kandidat presiden incumbent Joko Widodo, yang berpasangan dengan ulama Maruf Amin dan mantan Jenderal Prabowo Subianto, dengan pasangannya pengusaha Sandiaga Uno berlangsung pada 17 Januari, dengan tema hukum, hak asasi manusia, terorisme dan korupsi banyak dikritik karena hanya mengawang-awang.

“Saya harapkan ada pembicaraan yang lebih konkret, misalnya terkait bagaimana sikap mereka terhadap jemaah kami yang sudah15 tahun mengungsi di Lombok,” kata Yendra, meyinggung ratusan jemaah Ahmadiyah yang masih tnggal di pengusian di Provinsi Nusa Tenggara Barat karena ditolak oleh kelompok Muslim setempat.

“Saya pesimis akan ada hal positif yang dilakukan ke depan,” lanjutnya.

Para aktivis banyak mengkritik Widodo yang selama berkuasa tidak menunjukkan upaya signifikan dalam mengatasi masalah hak asasi manusia, termasuk terkait kebebasan beragama, di mana ia lebih banyak fokus pada pembangunan infrastruktur..

Ia mendapat sorotan karena tidak juga membantu menyelesaikan persekusi terhadap Ahmadiyah dan Syiah, kelompok yang dianggap menyimpang oleh Muslim mayoritas.

Aksi intoleran terus menyasar kelompok tersebut. Selain penutupan masjid yang marak, juga pembatasan terhadap aktivitas mereka, termasuk pada Januari lalu, di mana diskusi untuk bedah kelomopok Ahmadiyah di Bandung dibubarkan paksa.

Pilihan Widodo berpasagan dengan Ma’ruf Amin, juga menjadi catatan buram.

Selama menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia, Amin dikenal sangat konservatif, termasuk dengan mengeluarkan fatwa yang menyatakan ajaran Ahmadiyah sebagai aliran sesat, hal yang kemudian menjadi landasan bagi kelompok intoleran untuk melakukan persekusi.

Ia juga mengeluarkan fatwa bahwa lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) diharamkan, hal yang membuat persekusi terhadap kelompok minoritas ini semakin menguat.

Pada 2016, Amin juga  menyatakan Gubernur DKI Jakarta kala itu, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, telah melakukan penodaaan terhadap Islam, pernyataan yang salah satunya menjadi pemicu gelombang demonstrasi anti-Ahok dan membuat Ahok dibui karena melanggar Undang-Undang Penodaan Agama.

Meski kecewa dengan Widodo, namun, kata para aktivis, harapan juga tidak bisa diberikan kepada Prabowo yang mendapat dukungan dari kelompok garis keras.

Kekecewaan kelompok minoritas terhadap keduanya, mendorong gelombang seruan golput yang meningkat.

Salah satu di antara pendukungnya adalah Pendeta Palti Panjaitan, pimpinan jemaat Gereja Huria Batak Protestan Filadelfia di Bekasi, Jawa Barat, yang sejak 2009 tidak bisa beribadah karena ditentang kelompok Muslim.

Pendeta tersebut bahkan menulis di Facebook-nya bahwa ia akan golput dalam Pilpres ini.

“Saya selalu berharap ada perbaikan, bahwa negara menjamin kebebasan beragama dan beribadah, siapapun presiden terpilih,” kata Palti kepada ucanews.com.

“Namun, melihat rekam jejak para kandidat saat ini, saya kurang yakin, terutama karena maraknya politisasi agama untuk cari dukungan politik,” katanya.

Baru-baru ini, para aktivis hak asasi manusia juga menyatakan dukungan terhadap golput

Lini Zurlia, seorang pengacarayang pada 2014 memilih Widodo salah satu yang terus terang mengatakan akan golput.

“(Calon) wakil presiden yang ia pilih punya rekam jejak yang ‘sungguh sangat maha dashyat’, memberikan kontribusi terhadap tajamnya konflik pada agama, yang melahirkan konflik berdarah-darah… Banyak sekali rekam jejak Ma’ruf Amin yang sangat intoleran,” katanya.

Sementara itu, Prabowo, katanya, bukan merupakan pilihan karena rekam jejaknya dalam kasus pelanggaran HAM.

Sejumlah survei menyebutkan bahwa, Widodo akan menang dalam Pilpres, namun masih ada 13 persen pemilih mengambang, sementara 1 persen sudah menyatakan akan golput.

Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan kelompok-kelompok yang tidak direpresentasikan dengan baik oleh kedua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden, mungkin memilih untuk golput.

“Ketika tidak tersalurkan representasi kepentingan politik mereka, kedua sosok ini juga dipandang tidak bisa menjawab persoalan, tidak bisa membawa harapan baru untuk mereka, ya automatically mereka akan golput,” katanya.

Di tahun 2014, angka golput mencapai sekitar 30%, termasuk orang-orang yang tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan tidak mendapat undangan untuk memberi hak suara.

Sementara itu, Romo Paulus Christian Siswantoko dari Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengatakan, dua kandidat ini memang sama-sama memiliki kelemahan.

“Saya setuju bahwa masing-masing memiliki rapor merah dalam masalah hak asasi manusia. Memang tidak ada yang ideal,” katanya ucanews.com.

Namun, kata dia, KWI mendorong agar semua warga tetap memilih. Ia juga mengatakan, dalam mempertimbangkan pilihan, petimbangan untuk memilih juga mesti ditelakkan dalam perspektif yang lebih luas, selain soal masalah hak asasi manusia.

Menurut Romo Siswantoko, ikut memilih merupakan bagian dari upaya mendukung agar yang berkuasa bukanlah yang terburuk dari keduanya.

“Kita tentu saja tidak akan mendapatkan pemimpin yang ideal, tetapi setidaknya kita mencegah agar yang lebih buruk dari dua itu tidak akan berkuasa,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi