UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus Fransiskus Bicara Soal Dialog, Pelecehan Terhadap Religius Wanita 

Pebruari 6, 2019

Paus Fransiskus Bicara Soal Dialog, Pelecehan Terhadap Religius Wanita 

Paus Fransiskus berbicara kepada wartawan di dalam pesawat terbang yang membawanya pulang ke Roma seusai melakukan kunjungan ke Abu Dhabi pada 3 Februari. Paus berbicara tentang dialog antaragama dengan para pemimpin Muslim dan pelecehan terhadap kaum religius perempuan. (Foto: Vincenzo Pinto/AFP)

Paus Fransiskus mengatakan ia lebih takut akan konsekuensi jika ia tidak melibatkan diri dalam dialog antaragama daripada salah persepsi terhadap dirinya oleh sejumlah tokoh agama Islam.

Menurut Paus, orang selalu mengatakan bahwa ia membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh seseorang “termasuk wartawan, tetapi ini bagian dari tugas mereka.”

Hal tersebut disampaikan Paus kepada wartawan saat ia terbang kembali ke Roma dari Abu Dhabi pada 5 Februari.

“Bagi saya, hanya ada satu bahaya besar saat ini: kehancuran, perang, kebencian di antara kita,” kata Paus, seraya menjelaskan mengapa ia dan Syeik Ahmad el-Tayeb, imam besar dari al-Azhar, menghabiskan waktu setahun untuk merampungkan dokumen tentang “persaudaraan manusia” dan pemahaman umat Kristen-Islam yang ditandatangani pada 4 Februari di Abu Dhabi.

“Jika kita, umat beriman, tidak mampu mengulurkan tangan, merangkul dan juga berdoa, iman kita akan terkalahkan,” kata Paus.

Dokumen Abu Dhabi itu, kata Paus, “lahir dari iman akan Allah yang adalah bapa bagi semua orang dan bapa perdamaian.”

Paus Fransiskus menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan oleh wartawan selama 35 menit meskipun ia bersikeras hanya menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan perjalanan tersebut. Artinya Paus belum menjawab satu pertanyaan tentang pelecehan seksual yang dilakukan sejumlah klerus terhadap kaum religius perempuan.

Dalam edisi Februari, suplemen perempuan untuk surat kabar Vatikan mengangkat sebuah kisah tentang pelecehan terhadap kaum religius perempuan. Ketika ditanya tentang hal ini, Paus Fransiskus mengatakan: “Benar, ini sebuah masalah,” khususnya dalam sejumlah komunitas Katolik dan kongregasi religius yang baru.

“Ada sejumlah imam dan bahkan uskup yang melakukannya,” kata Paus. “Dan saya menduga hal ini masih terjadi sampai saat ini karena hal ini tidak akan berakhir hanya karena orang mengetahuinya.”

“Kami sudah cukup lama menangani hal ini,” kata Paus Fransiskus. “Kami telah memberhentikan sejumlah imam, mengasingkan mereka karena hal ini dan – saya tidak yakin kalau seluruh proses ini telah rampung – tetapi kami juga telah membubarkan beberapa kongregasi religius perempuan,” kongregasi religius yang baru di mana korupsi dan pelecehan seksual ditemukan.

“Perlu upaya lagi? Ya,” kata Paus.

Gereja Katolik berhutang banyak atas “keberanian” Paus Benediktus XVI yang mengawali penanganan terhadap masalah itu, kata Paus Fransiskus. Sebagai prefek Kongregasi Ajaran Iman, Kardinal Joseph Ratzinger berusaha menyelidiki sebuah kongregasi religius di mana sejumlah perempuan diduga mengalami pelecehan, katanya, tetapi penyelidikan itu dihalangi.

Paus Fransiskus tidak menyampaikan penjelasan detil namun mengatakan bahwa ketika Kardinal Ratzinger diangkat sebagai Paus, ia meminta data-data yang pernah disampaikannya dan kembali melakukan penyelidikan.

Paus Benediktus XVI, kata Paus Fransiskus, membubarkan sebuah kongregasi religius “karena perbudakan perempuan, termasuk perbudakan seksual, telah menjadi bagian di dalam kongregasi religius itu.”

Alessandro Gisotti, direktur interim Kantor Pers Vatikan, mengatakan kongregasi religius yang dibubarkan itu adalah Kongregasi Suster-Suster Israel dan Kongregasi St. Yohanes. Namun ia tidak menyampaikan informasi tentang siapa yang sebenarnya menghalangi penyelidikan yang dilakukan oleh Kardinal Ratzinger saat itu.

Paus Fransiskus juga ditanya soal perang di Yaman dan persyaratan yang dibutuhkan sebelum Tahta Suci menawarkan mediasi atas krisis politik berkepanjangan di Venezuela.

Terkait pertanyaan tentang intervensi di Venezuela, Paus Fransiskus mengatakan ia mendapat informasi bahwa surat dari Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang berusaha menguasasi negara itu telah sampai.

Ketika ditanya apakah ia siap melakukan mediasi, Paus Fransiskus mengatakan Vatikan akan menawarkan bantuan hanya jika kedua pihak meminta bantuan Vatikan dan jika kedua pihak menunjukkan kesediaan untuk mengatasi krisis tersebut.

Mengingat jutaan orang di Yaman terancam kelaparan karena perang yang terjadi selama empat tahun, Paus Fransiskus mengatakan ia mengutarakan situasi di sana kepada para pejabat pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), anggota aktif koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi dalam melawan gerakan bersenjata Houthi.

Meskipun menolak menyampaikan detil percakapan pribadinya dengan para pemimpin UEA tentang perang itu, Paus Fransiskus hanya mengatakan bahwa ia mendapati “itikad baik untuk memulai proses perdamaian.”

Seorang wartawan bertanya kepada Paus tentang perasaannya memiliki nama Fransiskus serta tentang dirinya yang melakukan perjalanan untuk mempromosikan perdamaian dan kemudian disambut oleh jet-jet militer dan tembakan meriam sebanyak 21 kali sebagai bentuk penghormatan seperti yang terjadi di Abu Dhabi.

“Saya menginterpretasikan semua bentuk penyambutan ini sebagai gestur itikad baik,” kata Paus Fransiskus. Setiap negara merancang upacara penyambutan menurut tradisi dan kebudayaan masing-masing. UEA, katanya, “ingin melakukan segalanya” untuk memperlihatkan kepadanya dan juga dunia betapa penting kunjungan itu dan “mereka ingin saya merasa disambut.”

Meskipun Paus Fransiskus mengatakan bahwa tidak cukup baginya hanya menghabiskan waktu kurang dari 48 jam di Abu Dhabi, ia mengatakan ia menghargai keterbukaan para pemimpin Muslim di negara itu dan keinginan mereka untuk menjadi tuan rumah pertemuan Persaudaraan Manusia dan penandatanganan dokumen dialog itu.

Sejumlah umat Katolik mungkin tidak menghargai dokumen itu dan penghormatan yang ditunjukkan oleh dokumen itu untuk agama Islam, tetapi dokumen itu berdasarkan pada ajaran Konsili Vatikan II, kata Paus Fransiskus.

Menurut Paus, ia telah meminta sejumlah teolog termasuk ‘teolog dari rumah tangga kepausan, seorang Dominikan” untuk membacanya guna meyakinkan bahwa dokumen itu sesuai dengan ajaran Katolik.

“Dokumen itu ditulis dengan semangat Vatikan II,” kata Paus Fransiskus.

Ketika ditanya tentang alasan mengapa ia tidak berbicara lebih tegas di depan publik tentang persekusi terhadap umat Kristen dan bagaimana kebebasan beragama mencakup kebebasan beribadah, Paus Fransiskus mengatakan ia sering berbicara tentang berbagai hal tersebut, tetapi fokus di Abu Dhabi adalah “soal persatuan dan persaudaraan.”

“Kebebasan merupakan suatu proses,” kata Paus. Sebuah proses “yang harus kita hormati dan pantau” karena ini menyangkut berbagai bangsa yang memiliki itikad baik dan keterbukaan.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi