UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Dipecat Karena Pelecehan Seksual, Imam di Timor-Leste Ngotot Rayakan Misa

Pebruari 7, 2019

Dipecat Karena Pelecehan Seksual, Imam di Timor-Leste Ngotot Rayakan Misa

Misionaris kelahiran Amerika Serikat, Richard Daschbach, diberhentikan dari imamat karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah asuhannya di Panti Asuhan Topu Honis, Distrik Oecussi, Timor Leste.

Seorang misionaris asal Amerika Serikat yang telah diberhentikan oleh Vatikan karena diduga melecehkan anak-anak di panti asuhan yang didirikannya di Timor-Leste telah menolak instruksi Gereja untuk meninggalkan panti – tempat ia dituding melakukan kejahatan – dan dilaporkan masih merayakan Misa.

Richard Daschbach, 82, yang telah bekerja di negara mayoritas Katolik itu sejak 1966, dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa gadis di Panti Asuhan Topu Honis, yang didirikannya 27 tahun lalu di Distrik Oecussi.

Tuduhan itu muncul pada awal 2018.

Namun, meskipun dilaporkan mengakui tuduhan itu kepada polisi dan telah diberhentikan oleh Kongregasi Ajaran Iman, Vatikan pada November tahun lalu, menyusul langkah pemberhentian dari kongregasinya Serikat Sabda Allah (SVD), ia tetap berada di panti asuhan itu dan terus merayakan Misa.

Superior Jenderal SVD, Pastor Paul Budi Kleden SVD telah mengonfirmasi kepada ucanews.com lewat email pada 4 Februari tentang pemberhentian Daschbach pada bulan November, yang menurut dia dilakukan setelah Dasbach tidak menaati perintah agar ia menetap di biara SVD di Dili sambil mengurus kasusnya, baik melalui mekanisme hukum gereja, maupun hukum sipil.

Korban pelecehan Pastor Dasbahch, kata Pastor Budi, hanya melaporkan kasus ini ke SVD, namun SVD yang memutuskan untuk melaporkan kepada polisi agar ditangani sesuai hukum negara Timor Leste.

Ia mengatakan, korban meminta agar identitas mereka dirahasiakan.

Pastor Yohanes Suban Gapun, pimpinan SVD di Dili mengatakan kepada ucanews.com, ia telah melarang Daschbach kembali ke panti asuhan.

Namun, kata dia, imam itu kemudian diam-diam pergi. Dan, sebelum meninggalkan biara, ia menyerahkan surat pengunduran dirinya dari kongregasi.

“Ia mengatakan kepada saya bahwa tuduhan itu adalah tanggung jawabnya,” kata Pastor Gapun.

“Aku akan menghadapinya sendiri.,” lanjut pastor tersebut, mengutip Daschbach.

Itulah, yang menurut dia menjadi awal perjalanan proses pemberhentiannya dari SVD, lalu kemudian oleh Vatikan.

Pastor Gapun mengatakan, ia bersama Daschbach sudah memberi keterangan kepada polisi nasional Timor Leste, sekitar bulan Mei lalu.

“Kami diinterogasi dari pagi sampai sore. Dalam pemeriksaan itu, ia telah mengakui perbuatannya kepada polisi,” kata Pastor Gapun.

Masih Misa

Daschbach, menurut Tempotimor.com pada 1 Februari, masih tetap merayakan Misa. Keuskupan Dili sudah turun tangan menangani masalah ini dengan mengutus Vikaris Episkopal, Pastor Jovito Rêgo de Jesus Araújo ke Oecussi.

Dalam kunjungan pada 30 Desember, dilaporkan bahwa Daschbach baru saja merayakan Misa saat Pastor Jovito tiba.

“Saya marah, karena dia sudah mendapat surat dari Keuskupan, di mana ia dilarang merayakan Misa,” katannya.

“Saya memberi tahu umat: jika kamu ingin membantunya, lebih baik jangan menghadiri Misanya. Dia tidak dianggap sebagai pastor lagi. Dia menerima tuduhan (pelecehan seksual) itu,” tambahnya.

Pater Budi Kleden mengatakan, SVD akan “bekerja sama dengan pihak penegak hukum Timor Leste dalam penanganan kasus ini.”

“Tentu pengungkapan kasus-kasus seperti ini menorehkan luka yang dalam pada Gereja, terutama umat yang amat menghormati para pimpinannya,” katanya.

“Tetapi, kita  harus berani melewati proses seperti ini,” lanjutnya.

Sementara itu, Pastor Gapun mengatakan, kepolisian tampaknya ragu-ragu memproses kasus ini sehingga terkesan sangat lamban.

“Ia (Dasbach) dianggap memiliki kharisma khusus dan banyak orang besar yang mencintai dia, terkait jasa perjuangannya menuju kemerdekaan Timor Leste dari Indonesia pada 1999 dan upayanya memperhatikan hak-hak orang kecil,” katanya.

Namun, tambahnya, kasus ini sudah beralih ke Ministerio Publico atau kejaksaan negara tersebut pasca muncul pemberitaan di media.

“Saya mendapat laporan bahwa tim dari Ministerio Publico sudah turun tangan,” katanya. “Kami berharap kasus ini bisa bisa diselesaikan dengan baik demi keselamatan dan keutuhan Gereja.”

Ucanews.com belum berhasil mendapat komentar dari Dascbach dan aparat hukum Timor Leste terkait kasus ini.

Lahir di Pittsburg, Daschbach dikenal karena karya sosialnya di Timor-Leste.

Ia mendirikan Topu Honis pada tahun 1993. Lembaga ini menangani anak-anak dari keluarga miskin, kaum disabilitas dan perempuan yang melarikan diri karena kekerasan dalam rumah tangga, demikian menurut situs resminya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi