UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Zen: Komunis Menghancurkan Fondasi Kesetaraan

Pebruari 11, 2019

Kardinal Zen: Komunis Menghancurkan Fondasi Kesetaraan

Dalam foto yang diambil pada 5 Maret 2018 ini, Kardinal Joseph Zen, 86, mantan Uskup Hong Kong, sedang menyimak pertanyaan saat wawancara di Hong Kong. (Foto oleh Anthony Wallace / AFP)

Kardinal Joseph Zen Ze-kiun menerima Medali Kebebasan Truman-Reagan dari Yayasan Korban Komunisme Peringatan di ibukota Amerika Serikat, Washington D.C pada 28 Januari.

Medali itu diberikan setiap tahun kepada individu-individu dan lembaga-lembaga yang telah menunjukkan komitmen seumur hidup terhadap kebebasan dan demokrasi dan menentang komunisme serta semua bentuk tirani lainnya, menurut situs web yayasan itu.

Uskup emeritus Hong Kong yang berusia 87 tahun telah berulang kali menulis artikel yang menentang perjanjian sementara Vatikan-Cina tentang pengangkatan para uskup dan menyuarakan keprihatinan Gereja Katolik bawah tanah Cina.

Berikut pidato yang disampaikannya pada upacara penghargaan:

Saya mengutip dari Yesaya (61: 1): Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara.

Dalam sejarah manusia selalu ada orang miskin, tahanan, yang tertindas.

Sayangnya, Revolusi Industri disertai dengan kebangkitan kapitalisme liar. Kaum kapitalis, yang memiliki alat-alat produksi, mengeksploitasi kaum proletar, menjadikan mereka budak.

Karl Marx muncul sebagai nabi. Ia mengajarkan pembebasan melalui perjuangan kelas, yang berarti revolusi berdarah. Obat itu malah lebih buruk daripada penyakitnya. Kekerasan tidak pernah menjadi solusi untuk masalah apa pun. Masalahnya ada di hati manusia: keegoisan, keserakahan. Tanpa hati yang penuh kasih, sistem apa pun akan menjadi tidak manusiawi.

Komunis mengajarkan kesetaraan, mengajarkan persaudaraan, tetapi mereka menghancurkan fondasi kesetaraan dan persaudaraan yang berada dalam martabat kita sebagai manusia yang berakar pada asal usul kita dari Bapa Kita di Surga.

Semua negara komunis, sejauh yang kami ketahui, hanya mencapai kemiskinan yang setara untuk semua orang. Ekspor utama mereka adalah manusia yang melarikan diri dari surga komunis (sebelum mereka meninggalkan Marxisme).

Secara pribadi saya belum mengalami penderitaan karena Partai Komunis Tiongkok. Saya datang ke Hong Kong pada tahun 1948 (untuk bergabung dengan Novisiat Salesian). Komunis baru setahun kemudian mengambil alih kekuasaan pada tahun 1949. Kerabat saya menderita karena semua keluarga menderita di bawah rezim yang tidak manusiawi itu, terutama saudara ipar saya, suami dari kakak perempuan saya, seorang yang paling baik.

Suatu hari mereka datang untuk menangkapnya tanpa mengatakan sepatah kata pun, tanpa mengatakan kejahatan apa yang dituduhnya. Mereka mengirimnya untuk bekerja pada konstruksi atau perbaikan kereta api, di bawah terik matahari. Mereka bahkan menggunduli kepalanya. Setelah beberapa bulan, mereka membebaskannya, mengirimnya kembali ke rumah, juga tanpa ada penjelasan.

Adik laki-laki saya, seorang siswa yang cerdas di Universitas Shanghai Jiao Tong, lulus dalam bidang teknik kelautan. Tetapi mereka menolak untuk memberinya ijazah dan mengirimnya untuk bekerja jauh dari Shanghai di Fujian, tempat yang sangat miskin. Mereka mengatakan itu karena dia sedang dilatih sebagai agen di Hong Kong.

Apa yang disebut kediktatoran proletariat, yang seharusnya bersifat sementara menurut Marx, ternyata berubah menjadi kekaisaran komunis.

Saya berkesempatan mengunjungi kota asal saya, Shanghai pada tahun 1974 -setelah 26 tahun absen- menjelang berakhirnya Revolusi Kebudayaan. Kami tidak tahu mengapa mereka membuka pintu bagi orang-orang Hong Kong yang berani datang. Itu di luar perkiraan. Seluruh negeri itu menjadi kamp konsentrasi.

Semua agama telah menghilang. Gereja-gereja ditutup atau diubah menjadi pabrik, gudang, atau keperluan lainnya. Gereja paroki saya menjadi “klub rakyat” di mana orang bisa mendapatkan makanan sederhana dan fasilitas rekreasi.

Dengan kebijakan terbuka, segalanya sangat berbeda. Saya mendaftar untuk mengajar di Seminari Shanghai pada tahun 1984 namun izin baru keluar pada akhir tahun 1988. Saya pergi ke Shanghai pada musim gugur 1989, tepat setelah kejadian Lapangan Tiananmen, ketika semua orang keluar dari Tiongkok. Mereka memperlakukan saya dengan sangat baik. Kemudian mereka mengundang saya untuk mengajar di seminari lain: Xian, Wuhan, Shijiazhuang, Beijing, Shenyang. Saya bisa mengajar di China, selama enam bulan dalam setahun, selama tujuh tahun (1989-96).

Mereka memperlakukan saya dengan sangat baik tetapi saya tahu bagaimana mereka memperlakukan dan merendahkan orang-orang kita di Gereja Katolik. Pelecehan dialami mereka yang berada di bawah tanah (yaitu yang selamat dari penjara atau kamp kerja paksa setelah lebih dari 20 tahun, selamat dari krumunan penghuni di penjara), dan tidak menghormati para uskup di Gereja resmi (sama seperti yang selamat dari penjara dan kamp kerja paksa).

Saat ini, sisa-sisa Marxisme yang sesungguhnya sangat sedikit, tetapi ateis dan kediktatoran tetap utuh.

Anda tahu soal pengetatan kontrol baru-baru ini terhadap semua agama di Tiongkok. Anda juga tahu situasi di Hong Kong, di mana sisa otonomi tinggi yang dijanjikan sangat sedikit. Hong Kong akan segera menjadi salah satu kota di Cina.

Saya berada di sini hari ini menerima medali dengan penuh syukur bukan untuk kehormatan saya, karena saya hampir tidak membayar apa pun untuk kebebasan saya, tetapi bagi mereka yang kebebasannya benar-benar dikukung di Cina dan di Hong Kong.

Saya menerima medali ini untuk mereka yang layak menerimanya tetapi tidak bisa datang ke sini untuk menerimanya.

Saya ingin mengenang semua pahlawan yang mengorbankan hidup mereka demi martabat dan kebebasan manusia. Kami tidak meratapi mereka karena mereka berada dalam pelukan Tuhan dalam kebahagiaan abadi. Mereka yang mencoba menghancurkan martabat mereka hanya mempermalukan dan merendahkan diri mereka sendiri.

Saya ingin mengenang semua pahlawan yang menderita di Cina dan di Hong Kong karena menyuarakan rasa hormat mereka terhadap martabat manusia, kebebasan dan demokrasi, mereka yang terkenal maupun yang tidak.

Semoga kehadiran saya di sini hari ini mengukuhkan karya mulia Anda sekalian dalam mendukung mereka dan semoga kehadiran kita hari ini dan doa-doa kita setiap hari memberi mereka kenyamanan dan kekuatan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

 

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi