UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Perjalanan Spiritual Uskup Agung Sinaga dari Malim ke Katolik

Pebruari 15, 2019

Perjalanan Spiritual Uskup Agung Sinaga dari Malim ke Katolik

Mgr Anicetus Bongsu Antonius Sinaga, OFMCap (Foto: Dokpen KWI)

 Uskup Agung Emeritus Medan Mgr Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap  belum lama ini meluncurkan otobiografinya tentang kisah perjalanan spiritualnya dari Malim menjadi penganut Katolik.

Malim adalah sebuah agama tradisional yang dipraktekkan oleh warga suku  Batak, sebuah etnis di Sumatra Utara, yang didiperkirakan mulai muncul tahun 1870-1880.

Uskup Agung Sinaga, 77, lahir dan tumbuh dalam keluarga Parmalim, atau penganut Malim. Ayahnya, yang seorang petani adalah seorang imam Malim sementara ibunya seorang dukun.

Prelatus itu  mengatakan Malim menyampaikan doa-doa kepada Debata Mulajadi Nabolon, Tuhan raja awal-mula genesis, Tuhan Raja awal segalanya.

“Ayah mengajarkan saya tentang  Parmalim dan doa-doanya,” kata uskup agung emeritus itu kepada ucanews.com.

Bahkan setelah menjadi imam dan uskup, ia masih berdoa karena tidak berbeda dengan doa-doa Katolik, katanya.

Sistem kepercayaan tradisonal ini memiliki  30.000 penganut. Mereka tersebar di berbagai daerah di Indonesia dimana orang Batak tinggal.

Menjadi Katolik 

Uskup agung emeritus itu dibaptis menjadi Katolik ketika ia berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) setelah mengikuti katekese.

Sebelumnya, ketika masih Sekolah Dasar (SD) ia bertemu dengan seorang misionaris Belanda Pastor Beatus Jenniskens OFMCap, yang mengatakan kepada dia bahwa “suatu hari nanti Anda akan menjadi imam”.

Setiap saat ia selalu merenung kata-kata imam itu, kemudian ia memutuskan masuk seminari, dan ayahnya dibaptis menjadi Katolik tahun 1957 saat ia belajar di seminari.

Ia mengatakan  mudah bagi penganut Parmalim untuk menjadi Katolik karena sesuai dengan praktek agama tersebut dan juga simbol liturgi.

Misalnya, para penganut Malim mengurbankan kerbau pada festival panen Sipaha Lima (bulan kelima), tanggal yang paling penting dalam agama mereka.

Mereka percaya darah binatang itu menyucikan dosa-dosa mereka, sebuah praktek yang dianalogikan dengan pengurbanan domba sebagai simbol pengorbanan Yesus Kristus dalam Kristen.

Anak keempat dari lima bersaudara itu masuk novisiat Kapucin tahun 1963 dan ditahbiskan menjadi imam tujuh tahun kemudian.

Ia menyelesaikan doktor dalam bidang Teologi Moral di Universitas Katolik Leuven, Belgia, tahun 1975, dengan judul disertasinya, The Toba-Batak High God: Transcendence and Immanence.

Tahun 1979, ia diangkat menjadi Perfek Apostolik Kuskupan Sibolga, Sumatra Utara. Paus Yohanes Paulus II menahbiskan dia sebagai uskup di Vatikan tahun 1981.

Ia menjadi uskup agung Medan tahun 2009 hingga pensiun tahun lalu. Uskup Agung Kornelius Sipayung secara resmi menggantikan dia pada 2 Februari.

Keuskupan agung Medan memiliki 532.000 umat Katolik yang berasal dari berbagai etnis termasuk Batak, yang tersebar di 56 paroki.

Meskipun ia secara resmi telah mengundurkan diri, Mgr Sinaga masih melayani sebagai Administrator Apostolik Keuskup Sibolga menyusul wafatnya Uskup Ludovicus Manullang OFMCap pada September tahun lalu.

Inkulturasi 

Uskup Agung Sinaga mengatakan ia ingin menggabungkan unsur-unsur dari agama Malim ke dalam pelayanannya untuk melestarikannya dan membagikan nilai-nilai itu kepada umat Katolik.

“Saya ingin keuskupan agung saya mengikuti ajaran Konsili Vatikan II untuk mewartakan Injil kepada semua orang dan mempertahankan nilai-nilai budaya lokal, termasuk mengadopsi budaya lokal dalam pembangunan gedung gereja,” katanya.

Ia sering menggunakan pakaian tradisional Batak saat Misa dan menyampaikan homili dalam Bahasa Batak. Sejumlah gereja di keuskupan agungnya telah dibangun dalam gaya Batak.

Ia mengatakan pengalamannya bersama agama-agama lain membantu dia mengadakan dialog antaragama dan ekumene.

“Meskipun Gereja Katolik menghadapi tantangan, umat Katolik harus menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi bagian dari masalah,” katanya.

Maka, ekumene dan dialog adalah prioritas utama Uskup Agung Sinaga, khususnya umat Katolik tidak menganggap diri mereka sebagai minoritas di keuskupan agung itu.

Para pedagang Portugis memperkenalkan agama Katolik di Sumatra Utara pada abad ke-7, namun Pastor Sybrandus van Rossum, seorang misionaris Belanda yang tiba di wilayah itu tahun 1934, mulai menyebarkan Injil di kalangan orang Batak.

Sekarang ekumene dan dialog antaragama berjalan baik dalam kehidupan masyarakat di Medan, dimana Natal dan Paskah dirayakan secara bersama antara umat Katolik dan jemaat Protestan.

Bahkan keuskupan agung itu memiliki program live in dimana para pastor menginap di rumah para pendeta untuk saling mengenal dengan baik satu sama lain, katanya.

“Pada awalnya, ada sejumlah tantangan tapi sekarang semuanya berjalan dengan lancar,” kenang Mgr Sinaga, yang pernah memimpin Kantor Ekumene dan Dialog Antaragama Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC).

Pada 15 Maret 2018, ia menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan 13 denominasi Gereja di Sumatra Utara untuk menemukan cara-cara mengadakan gerakan ekumene menuju persekutuan.

Ia juga secara rutin mengunjungi komunitas Muslim dan para ulama lokal, khususnya saat Hari Raya Idul Fitri, dan pada Natal ulama Muslim mengirim parcel dan menyampaikan selamat Natal. 

Dihormati tokoh agama lain

Uskup Agung Sinaga telah mendapat penghormatan dari para tokoh agama lain baik lokal maupun nasional.

Pendeta S.A.E. Nababan, mantan sekum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), memuji kedekatan uskup agung itu dengan Gereja Protestan di Sumatra Utara.

“Uskup agung ini memiliki hubungan baik dengan semua denominasi Gereja,” katanya. “Ini membuat Gereja-gereja mudah untuk bekerjasama, menjadi saksi dan mewartakan Injil kepada semua orang.”

KH Said Aqil Siradj, ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, mengatakan Mgr Sinaga berperan penting  menjadi jembatan perbedaan di antara Muslim dan Katolik.

“Dalam seluruh kiprah hidupnya, Mgr AB Sinaga berusaha untuk menebar kasih saying, menumbuhkan keragaman, merayakan cinta kasih, dan memperjuangkan kemanusiaan. Ini selaras dengan perjuangan kiai-kiai yang mengajarkan nilai-nilai Islam untuk perdamaian dan ke-Indonesia-an,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi