UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gerakan ASAK: Berbagi Berkat Dengan Orang Tidak Mampu

Pebruari 19, 2019

Gerakan ASAK: Berbagi Berkat Dengan Orang Tidak Mampu

Yanto Jayadi Wibisono (berkaos merah duduk di depan), penggagas Gerakan ASAK, berfoto bersama anak-anak penerima manfaat dari Gerakan ASAK seusai peluncuran Gerakan ASAK di Paroki St. Agustinus di Karawaci, Banten, pada 10 November 2018. (Foto: Yanto Jayadi Wibisono)

Sekitar empat tahun lalu ketika Gregorius Fransiskus Xaverius Anton Endrawan masih duduk di bangku kelas 12 di SMK St. Fransiskus 2 di Kramat, Jakarta Pusat, ia tidak tahu apakah ia mampu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi meskipun jika ia lulus ujian dengan nilai baik.

Orangtuanya berpisah saat ia masih kecil. Sejak saat itu, ibunya harus bekerja keras setiap hari dengan penghasilan rata-rata hanya sekitar Rp 50.000 per hari.

Dengan kesulitan ekonomi seperti itu, nampaknya ambisinya untuk menjadi auditor akan kandas.

Namun suatu hari Anton dikenalkan dengan pengurus Seksi Pengembangan Sosial-Ekonomi (PSE) Paroki St. Yoseph di Matraman, Jakarta Timur.

“Saya tahu Gerakan Ayo Sekolah, Ayo Kuliah (ASAK) dari Seksi PSE Paroki Matraman,” katanya.

Paroki tersebut meluncurkan Gerakan ASAK pada 2013. 

Gerakan ASAK merangkul umat paroki dengan mendorong mereka agar memberi sumbangan secara rutin untuk membantu para pelajar dari keluarga-keluarga Katolik yang kurang mampu supaya mereka mendapat pendidikan yang layak. 

Berkat program Ayo Kuliah, Anton – yang kini berusia 22 tahun – bisa kuliah di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi di Kalbis Institute yang terletak di Kayu Putih, Jakarta Timur, sejak 2015.

“Sekarang saya semester 8,” katanya, seraya menambahkan bahwa semua biaya kuliah ditanggung oleh program itu.

Bagi Anton – yang saat ini tinggal bersama ibunya di sebuah ruangan kecil berukuran sekitar 2×3 meter di Kelurahan Pisangan Baru, program itu merupakan berkat terindah. 

“Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Ini sebuah berkat buat saya,” katanya.

Anton adalah satu dari 5.918 umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang menerima manfaat dari Gerakan ASAK, sebuah gerakan yang digagas oleh seorang awam Katolik bernama Yanto Jayadi Wibisono. 

Semakin banyak umat Katolik yang akan merasakan manfaat dari Gerakan ASAK di sejumlah wilayah lain di Indonesia.

Bertempat di bumi perkemahan Situ Gintung, penerima manfaat dari Gerakan ASAK mengikuti kemah rohani yang diselenggarakan oleh Paroki St. Nikodemus di Ciputat, Banten, pada 20-21 Oktober 2018. (Foto: Yanto Jayadi Wibisono) 

Karya Roh Kudus

Gagasan itu muncul di benak Yanto beberapa tahun lalu ketika ia tengah mengikuti Misa di Kapel St. Vincentius a Paulo – RKZ di Surabaya, Jawa Timur. 

“Pikiran saya terganggu dengan itu. Saya waktu itu baru lulus kuliah di Bandung, terus pergi ke Surabaya. Suatu hari saya ke Kapel St. Vincentius a Paulo – RKZ diajak teman saya. Jadi selama Misa, pikiran saya fokus ke sana,” katanya.

Pada 1991, setelah menghubungi beberapa mantan teman kuliah di Universitas Katolik Parahyangan di Bandung, Jawa Barat, ia membentuk sebuah komunitas yakni Friendship and Humanity. Melalui komunitas ini, mereka mengumpulkan uang dari gaji mereka sendiri untuk menyantuni biaya pendidikan beberapa anak dari keluarga tidak mampu.

Pada 2006, ketika parokinya – Gereja St. Thomas Rasul di Bojong Indah – di Jakarta Barat tengah mempersiapkan perayaan peringatan 25 tahun paroki dan perayaan peringatan 200 tahun Gereja Katolik di Jakarta, ia diminta oleh dewan paroki untuk memberi beberapa ide.

“Saya dipanggil, ditanya dan saya kasih ide ini. Ide ini digodok dan dibahas. Cukup lama, hampir delapan bulan. Dewan paroki maju-mundur. Tapi kemudian saya jelaskan konsepnya dan akhirnya mereka oke,” kata Yanto, kini berusia 52 tahun.

Ide tersebut sebenarnya berbasis pada program amal komunitasnya.

Ketika paroki itu akhirnya meluncurkan program Ayo Sekolah pada Juni 2007, sejumlah uang disantunkan kepada 60 anak dari keluarga tidak mampu di paroki tersebut.   

Dua tahun kemudian, paroki itu meluncurkan program Ayo Kuliah. Hanya ada lima remaja yang mendapat santunan dari program itu untuk angkatan pertama.

“Suatu hari saya dan isteri saya beserta Romo mengunjungi anak. Ada satu anak SLB namanya Aji. Ia kelas 12. Kami ngobrol-ngobrol, tanya Aji nanti lulus sekolah mau kemana. Dia bilang mau kuliah,” katanya.

“Pulang dari sana, saya dan isteri berpikir: kami baru punya program Ayo Sekolah, sementara Aji mau kuliah. Akhirnya saya call teman-teman untuk bagi-bagi tugas untuk survei beberapa universitas dan biaya kuliahnya,” lanjut ayah dua anak itu.

Gerakan ASAK yang juga bekerjasama dengan sekitar 16 perguruan tinggi itu kemudian berkembang dan menyebar di banyak paroki di wilayah KAJ. Saat ini, 61 paroki dan dua stasi menjalankan Gerakan ASAK. Dua paroki lain akan segera meluncurkan Gerakan ASAK. 

Saat ini, program Ayo Sekolah merangkul 4.952 anak dan program Ayo Kuliah menyantuni 905 remaja. Selain itu, 61 seminaris juga merasakan manfaat dari Gerakan ASAK – yang juga memiliki sekitar 2.500 alumni.  

Sementara itu, beberapa paroki di Keuskupan Tanjungkarang dan Keuskupan Agung Pontianak sedang menjajaki Gerakan ASAK.

“Saya merasa ini bukan kami yang kerja, tapi Roh Kudus yang kerja. Saya hanya punya satu kalimat: saya hanya tunduk dan taat saja,” kata Yanto.

Jika sebuah paroki telah meluncurkan Gerakan ASAK, paroki ini bertanggungjawab untuk membiayai gerakan tersebut dengan mengandalkan donasi dari umat paroki. Untuk beberapa kasus, sebuah paroki kaya bisa membantu beberapa paroki lain yang mengalami kesulitan karena kurangnya jumlah donatur.

Di ruangan berukuran sekitar 2×3 meter ini, Gregorius Fransiskus Xaverius Anton Endrawan tinggal bersama ibunya di Kelurahan Pisangan Baru, Jakarta Timur. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Donasi dan Pencarian Dana

Sekitar 3.600 donatur secara rutin menyumbangkan uang untuk Gerakan ASAK yang membutuhkan biaya miliaran rupiah setiap tahun. 

“ASAK ini program karitatif. Jadi sebagai orang Katolik, bila kita punya suatu kemampuan – saya rasa tidak terlepas dari seberapa mampunya, seberapa besar atau kecilnya – saya ikut,” kata Ivo Aryanto, seorang donatur dari Paroki St. Bartolomeus di Taman Galaksi, Bekasi.

Gerakan ASAK juga didukung dengan berbagai kegiatan pencarian dana. Baru-baru ini, misalnya, Paroki St. Bartolomeus di Taman Galaksi, Bekasi, menggelar konser amal untuk menggalang dana guna mendukung Gerakan ASAK yang diluncurkan paroki itu pada 2010.

Kebaikan hati para donatur memberi harapan bagi Veronika Endrawati Marta, ibu dari Anton.

“Saya tidak bisa berkata-kata. Luar biasa. Tanpa Gerakan ASAK dan para donatur, anak saya sampai saat ini mungkin tidak bisa kuliah. Ini buat masa depannya. Saya sangat bersyukur,” kata ibu rumah tangga berusia 55 tahun itu. 

Bagi Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Gerakan ASAK bertujuan untuk menampilkan wajah Allah Sang Kasih melalui pelayanan kasih yang amat konkret yaitu pelayanan pendidikan.

Menurut prelatus itu, hal yang perlu ditanamkan dan disebarkan adalah semangat belarasa. 

“Semoga paroki-paroki kita yang belum tergerak atau belum melihat jalan untuk ikut menyebarkan virus belarasa melalui Gerakan ASAK, pada waktunya akan sampai juga,” kata Mgr Suharyo.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi