UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Mengapa Paus Fransiskus Harus Datang ke China?

Pebruari 22, 2019

Mengapa Paus Fransiskus Harus Datang ke China?

Paus Fransiskus ikut serta dalam upacara penyambutan di Campo Santa Maria La Antigua, Panama dalam acara Hari Pemuda Sedunia pada 24 Januari. Ia mengatakan kepada seorang peziarah Hong Kong bahwa dia akan mengunjungi Cina. (Foto oleh Alberto Pizzoli / AFP)

Oleh John Lo, seorang imam Katolik di China.

Dalam upacara penyambutan untuk Hari Pemuda Sedunia 2019 di Panama bulan lalu, Paus Fransiskus diminta oleh seorang peziarah muda Hong Kong untuk berdoa bagi Hong Kong dan China. Paus pun menjawab, “Saya harus pergi ke sana .”

Ini bukan pertama kalinya paus menyatakan keinginannya untuk datang ke China, tetapi ini adalah pertama kalinya dia mengatakan “HARUS”.

Tetapi untuk tujuan apa paus harus datang ke China? Untuk mengemban tugas pastoral saat Partai Komunis China (PKC) menjalankan pemerintahan yang ateistik? Untuk merasakan suasanaketika tidak ada kebebasan untuk menjalankan agama? Untuk melihat implementasi dari perjanjian sementara Sino-Vatikan tentang penunjukan uskup ketika Gereja Katolik bawah tanah masih ditekan? Untuk mempromosikan hubungan diplomatik Sino-Vatikan ketika otoritas China menolak intervensi asing?

Karena itu, apa yang benar-benar ingin dilihat paus ketika dia “harus” datang ke China?

Jika paus harus datang ke China, saya menyarankan dia melihat Gereja bawah tanah kami, untuk melihat bagaimana PKC terus menekan kami, menahan para uskup dan imam kami, dan terutama bagaimana Gereja bawah tanah dihina dan dipaksa untuk bergabung dengan Asosiasi Patriotik Katolik China, yang diakui pemerintah.

Jika paus harus datang ke China, saya akan menyarankan dia meminta untuk mengunjungi para uskup kami yang ditahan dan hilang, termasuk Uskup Su Zhimin dari Baoding dan yang baru-baru ini dibebaskan Uskup Koadjutor Augustine Cui Tai dari Xuanhua, untuk melihat bagaimana mereka menjalankan imam mereka.

Jika paus harus datang ke China, saya akan menyarankan dia mengunjungi kaum klerus yang diakui pemerintah untuk melihat bagaimana mereka menggelapkan uang gereja; bagaimana para korban dari model investasi yang dikelola gereja memasang spanduk untuk mencari kompensasi atas kerugian mereka akibat ulah uskup; dan bagaimana sekularisasi Gereja China sekarang menjadi fakta kehidupan yang tidak dapat disangkal lagi..

Namun, itu tidak mudah bagi paus karena praktik umum PKC dalam menerima pemimpin asing adalah hanya membiarkan mereka melihat apa yang pemerintah ingin agar mereka lihat dan bukan apa yang benar-benar ingin mereka lihat.

Dia hanya akan dapat melihat sisi baik dan cerah dari negara yang hebat ini dan semua orang yang dia temui harus diatur oleh pemerintah. Saya bisa membayangkan bahwa orang-orang itu pasti akan mengatakan bagaimana orang-orang beriman di China menikmati kebebasan beragama mereka, bagaimana hak asasi manusia dan kebebasan beragama dijamin, bagaimana gereja-gereja di China dilindungi oleh pemerintah dan bagaimana pemimpin besar Xi Jinping menyelamatkan mereka.

Saat menerima pemimpin asing, Partai Komunis China memastikan bahwa semua orang termasuk kaum klerus yang dicap anti pemerintah dan mengganggu masyarakat diusir, ditahan atau dihilangkan.

Pengabaian HAM

Sejujurnya, alih-alih datang ke Tiongkok, Paus Fransiskus seharusnya mengutuk perbuatan jahat PKC.

Ketika PKC mengabaikan hak asasi manusia dan persekusi terhadap agama menjadi kian serius, banyak negara yang berani berdiri dan mengutuk kekejamannya. Baru-baru ini, setelah dilaporkan bahwa seorang musisi Uyghur di Xinjiang telah meninggal, Turki menuntut PKC untuk menutup semua kamp reedukasi di kawasan itu.

Namun, paus tidak hanya tidak mengutuk penindasan PKC terhadap Gereja di China tetapi juga memilih untuk bekerja sama dengan PKC dengan menggunakan perjanjian sementara Sino-Vatikan untuk mendorong orang beriman menerima kepemimpinan Asosiasi Patriotik. Ini tidak lain dari melemparkan kawanan domba ke serigala yang ganas.

Vatikan selalu menjelaskan bahwa perjanjian sementara itu bertujuan untuk membantu Gereja dalam karya penginjilannya di kawasan dan mendorong pemerintah China mengakui status paus.

Kardinal Fernando Filoni, prefek Kongregasi Evangelisasi Bangsa-Bangsa, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan media Taiwan, “Saya merasa bahwa di dalam Gereja Katolik di China ada harapan besar akan rekonsiliasi, persatuan dan pembaruan untuk sebuah pertumbuhan yang lebih pasti dalam karya evangelisasi. “

Pernyataan seperti itu tampaknya menyangkal pencapaian evangelisasi oleh Gereja di daratan. Tampaknya dikatakan bahwa sejak Asosiasi Patriotik menyebabkan munculnya fenomena Gereja bawah tanah dan Gereja terbuka di China, belum ada penginjilan.

Dari sudut pandang lain, Kardinal Filoni tampaknya mengatakan bahwa evangelisasi tidak berkembang dan tidak kuat karena perpecahan Gereja China.

Dari permintaan Vatikan kepada Gereja bawah tanah untuk menerima Asosiasi Patriotik, kegigihan Gereja bawah tanah tampaknya disalahkan sebagai penghambat evangelisasi di China.

Gereja bawah tanah telah didukung dan dipuji oleh Tahta Suci, tetapi sekarang dituduh tidak setia. Perubahan sikap yang cepat ini benar-benar membingungkan.

Berbicara tentang perjanjian Sino-Vatikan, Kardinal Filoni mengatakan: “Sehubungan dengan perjanjian itu, peran spesifik paus diakui. Apa yang disebut prinsip kemerdekaan sekarang perlu ditafsirkan kembali dalam kaca mata hubungan antara otonomi pastoralyang sah dari Gereja China dan persekutuan yang tak tergantikan dengan Penerus Petrus.

“Karena itu saya berharap tidak mendengar atau membaca tentang pejabat pemerintah setempat menggunakan perjanjian sementara mengenai penunjukan uskup untuk memaksa orang melakukan apa yang bahkan tidak diharuskan oleh hukum di China, seperti bergabung dengan Asosiasi Patriotik.”

Dalam komentar kardinal, apakah penafsiran kembali atas prinsip kemerdekaan berarti pengakuan atas kemerdekaan Gereja atau adakah penjelasan lain?

Juga, jika dia berharap untuk tidak mendengar tentang pejabat pemerintah setempat memaksa anggota Gereja bawah tanah untuk bergabung dengan Asosiasi Patriotik menggunakan alasan perjanjian sementara, tolong katakan itu lebih keras bagi PKC, daripada ambigu, karena dapat dengan mudah menyebabkan kesalahpahaman di antara umat.

Jika Kardinal Filoni tahu bahwa PKC telah menggunakan perjanjian itu sebagai alat untuk memaksa orang percaya melakukan sesuatu yang tidak adil, apakah ia memberi tahu paus tentang situasi seperti itu? Atau apakah dia menyembunyikan kebenaran dari paus? Atau apakah Paus mengabaikan kata-katanya?

Kenyataannya, apa pun yang dikatakan dan dilakukan Vatikan dan paus, tampaknya mengungkapkan pesan bahwa mereka berusaha untuk bekerja sama dengan PKC dengan segala cara. Apakah lebih penting untuk membangun hubungan diplomatik dengan PKC daripada menegakkan keadilan? Bisakah kebenaran Allah diabaikan?

Sebagai seorang Katolik di China, tentu saja saya sangat berhasrat agar Paus Fransiskus datang ke China jika dia akan berbicara untuk Gereja bawah tanah, hak asasi manusia dan kebebasan beragama, alih-alih mendukung pemerintah yang totaliter. Jika dia ingin melakukan itu, dia benar-benar harus datang.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi