UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

STF Driyarkara Rayakan 50 Tahun Mencerahkan Bangsa

Pebruari 28, 2019

STF Driyarkara Rayakan 50 Tahun Mencerahkan Bangsa

Para calon imam Fransiskan menari untuk menandai 50 tahun STF Driyakara Jakarta pada 16 Februari di aula Paroki Paskalis, Jakarta Pusat. (Foto: Konradus Epa/ucanews.com)

Ketika Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, yang didirikan bersama oleh Yesuit, Fransiskan dan Keuskupan Agung Jakarta, merayakan setengah abad pada  Februari tahun ini, para alumni merasa berutang budi terhadap almater tersebut atas kesuksesan mereka.

Mgr Adrianus Sunarko OFM, uskup keuskupan Pangkalpinang, mantan mahasiswa yang juga dosen teologi domatis di STF Driyarkara, mengatakan sekolah itu telah memberikan kontribusi untuk membangun bangsa Indonesia melalui dukungannya untuk demokrasi dan kebhinekaan.

“Saya berharap sekolah ini tetap setia pada misinya untuk mencari kebenaran dan menghormati perbedaan,” kata Uskup Sunarko kepada ucanews.com.

Meskipun tujuan utamanya adalah mendidik para frater untuk menjadi imam, STF Driyarkara juga menerima para mahasiswa dari Muslim dan Protestan. Sejumlah dosen dari agama lain juga mengajar di sekolah itu.

Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta memuji sekolah itu yang telah memberikan pencerahan kepada masyarakat tanpa melihat latar belakang mereka. 

“Saya pernah bertemu dengan seorang kyai yang mengatakan kepada saya bahwa ia bangga  mengikuti kuliah di STF selama satu tahun,” katanya.

Lima dekade lalu, sekolah itu telah mendidik para seminaris dan hingga kini lebih dari 500 orang telah menjadi imam dan dua uskup – Mgr Pascalis Bruno Syukur OFM dan Uskup Sunarko.  

Para alumni lain sebagian besar adalah orang awam yang sekarang berada dalam berbagai profesi termasuk politisi, analis, jurnalis, dan pendidik.

Lucius Karus, mantan mahasiswa sekolah itu, dan juga seorang pengamat politik, mengatakan kepada ucanews.com bahwa sekolah itu telah membentuk dirinya menjadi seorang yang berpikir kritis.

Misa konselebrasi merayakan 50 tahun STF Driyarkara Jakarta di Gereja St Paskalis, Jakarta Pusat, 16 Februari 2019. (Foto Konradus Epa/ucanews.com)

“Ilmu filsafat yang saya pelajari di STF sangat membantu saya untuk menganalisa situasi dengan cepat dan mendalam untuk memahami lebih baik berbagai fenomena demokrasi yang berkembang di Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan untuk mengkritik parliamen dan pemerintah dan tidak akan takut dengan institusi yang kuat seperti itu demi kepentingan bangsa dan negara.

“Nilai-nilai kekatolikan yang diajarkan dalam berbagai mata kuliah teologi membantu saya untuk memertahankan integritas di tengah kian pragmatisnya demokrasi di Indonesia,” kata mantan salon imam CICM, yang didirikan oleh Theophile Verbist di  Belgium tahun 1862.

Frater Wifridus Papin OFM, 24, yang kini memasuki tahun keempat belajar di STF, mengatakan banyak orang menganggap filsafat itu sebagai sesuatu yang abstrak, tapi apa yang ia belajar mendorong dia untuk menentang ketidakadilan dalam masyarakat.

Hingga hari ini, ia masih bergabung dengan sebuah kelompok dari para korban pelanggaran HAM, keluarga korban, dan aktivis mengadakan protes diam pada acara Kamisan di seberang istana presiden untuk menunut keadilan bagi para korban yang terjadi di era Orde Baru.

Romo Simon Petrus Lili Tjahjadi, rektor STF Driyarkara mengatakan STF telah memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia melalui tulisan-tulisan yang disajikan para dosen dan mahasiswa.

“Kita ingin memberikan pencerahan kepada masyarakat,” kata Romo Tjahjadi.

Sekolah itu didirikan pada 1 Februari 1969 dengan mengambil nama Romo Nicolaus Driyarkara SJ, seorang guru besar filsafat yang mengajar di Universitas Indonesia di Jakarta dan Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta.

Awalnya sekolah itu hanya memiliki delapan mahasiswa dan tiga dosen. Sekarang sekolah itu memiliki lebih dari 200 mahasiswa dari program S1, S2 dan S3, dan diajarkan oleh 27 dosen.

Sekolah itu mendirikan extension courses teologi dan filsafat bagi warga Jakarta.

Romo Tjahjadi mengatakan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi telah memberikan penghargaan kepada STF sebagai salah satu dari 100 perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia. Ia menerima penghargaan itu pada 12 Februari atasnama sekolah itu.

Sekolah itu membuka program S2 tahun 1996 dan program doktor tahun 2007, yang mahasiswanya kebanyakan dari orang awam, sementara program S1, kebanyakan diikuti oleh para mahasiswa calon imam dari sejumlah tarekat dan diosesan.

“Tantangannya adalah untuk mempertahankan tingkat kualitasnya,” kata Romo Tjahjadi.

Ia mengatakan kini banyak universitas dan perguruan tinggi lain di Indonesia terpaksa ditutup atau dimerger karena fasilitas dan manjemen yang buruk.

“Tapi, sekolah ini akan terus eksis ke depan,” kata imam diosesan keuskupan agung Jakarta itu.

Salah satu universitas tertua di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM), juga memberikan penghargaan kepada dosen STF itu pada Oktober 2017, ketika Fakultas Filsafat UGM itu menandai 50 tahun, kepada Romo Franz Magnis-Suseno SJ, atas “kontribusinya yang besar” untuk studi filsafat di tanah air.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi