UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Bruder Pudi Nyalakan Semangat Santo Fransiskus Lewat Pertanian Organik

Maret 9, 2019

Bruder Pudi Nyalakan Semangat Santo Fransiskus Lewat Pertanian Organik

Br. Kristoforus Pudiharjo, OFM mengembangkan teknologi pertanian organik bagi petani di Ciloto, Jawa Barat. (Foto oleh Siktus Harson/ucanews.com)


Mengenakan sweater dan sepatu bot di tengah hujan yang rintik-rintik, Bruder Kristoforus Pudiharjo OFM memperkenalkan cara pembuatan pupuk organik, pengembangan benih, pertanian hidroponik, lalu bagaimana merawat sayur, juga tanaman komoditi seperti kopi.

Bruder 66 tahun itu menghabiskan hari-harinya di Ciloto, mengolah lahan 3 hektar milik tarekatnya untuk mengembangkan apa yang ia sebut sebagai teknologi pertanian untuk orang miskin.

Setiap hari pukul 07.00 ia meninggalkan tempat tinggalnya di Biara St Yusuf, Sindanglaya dan baru kembali pada sore hari.

“Ini adalah bagian dari cara saya mewujudkan panggilan sebagai Fransiskan,” katanya dalam wawancara di kebunnya dengan ucanews.com.

Aktivitas semacam itu menjadi rutinitasnya selama belasan tahun terakhir.

Awal ketertarikan Bruder Pudi pada pertanian organik kembali pada pengalamannya saat ia menjadi kepala sekolah di di Flores pada tahun 1990-an. 

Suatu malam, katanya, seorang suster di sebuah rumah sakit swasta di Manggarai mengabarinya bahwa ada seorang ibu yang mengalami pendarahan terus-menerus. 

Setelah diperiksa di laboratorium, darah ibu itu mengandung urea yang tinggi. Ia kemudian mendapat informasi bahwa ibu itu tinggal di dekat sebuah pasar dan setiap hari mengonsumsi sayur dari pasar itu.

“Pengalaman itu menggerakkan saya untuk mencari cara bertani dengan produk yang tidak merugikan alam dan tidak merusak kesehatan,” katanya.

Tekad itu kemudian ia wujudkan dengan mengembangkan pertanian organik di komunitasnya. Hal ini kemudian makin ia optimalkan saat ditugaskan di Jawa.

Selama lebih dari 20 tahun Br Kristoforus Pudiharjo OFM berkarya dalam pertanian organik. ( Foto oleh Siktus Harson/ucanews.com)

Memadukan teknologi dengan pengalaman

Untuk mendukung karyanya, Bruder Pudi menjalin kerja sama dengan sebuah komunitas para pakar pertanian di Institute Pertanian Bogor.

“Kami bertemu rutin. Saya bicara terkait aplikasi teknik pertanian di lapangan, lalu mereka membuat penelitian lebih lanjut, Hasilnya dikembalikan lagi ke saya untuk diaplikasikan kembali,” katanya.

Ia mengatakan, ia ingin membuat hal yang konkret karena sebenarnya teknologi pertanian berkembang pesat dan fakultas pertanian sangat banyak, hanya memang implementasi di lapangan masih kurang.

Visi Bruder Pudi adalah menjadikan petani sebagai produsen di bidang pertanian dan karena itu ingin melepaskan ketergantungan mereka pada produk-produk yang dijual di toko.

“Selama ini, para petani menjadi konsumen yang membeli benih-benih dan pupuk, yang seharusnya bisa mereka produksi sendiri,” katanya.

Bruder Pudi fokus pada pengembangan benih-benih lokal.  Salah satunya adalah bawang putih lokal, yang sedang dibudidayakan di lahannya saat ini.

Ia mengatakan, bawang putih lokal tidak dikembangkan selama ini karena pasar dimonopoli oleh bawah putih impor, hal yang menurut dia dipicu oleh politik pertanian yang tidak berpihak pada orang kecil.

“Bayangkan saja, seluruh Indonesia mengonsumsi bawang putih impor yang per hari dipasok dengan puluhan kontainer dari China,” katanya.

“Padahal, kita sendiri punya bawang putih lokal, yang meski ukurannya lebih kecil, tapi kualitasnya lebih bagus,” katanya.

Ia juga mengembangkan cara menghasilkan benih bermutu dengan memanfaatkan bakteri dari alam. Ia mengatakan, rebung misalnya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan bakteri perangsang tumbuh bagi benih.

“Sebelum benih ditabur, bisa dicampur dulu dengan rebung lalu disimpan beberapa hari,” katanya.

Hal yang juga diajarkan oleh Bruder Pudiarjo adalah tidak melihat serangga atau hewan lainnya sebagai musuh atau hama. Kehadiran mereka di lahan, menurutnya, justeru membawa pesan tertentu.

Br. Kristoforus Pudiharjo ingin membantu para petani di Jawa Barat mendapatkan hasil dari pertanian organik. (Foto oleh Siktus Harson/ucanews.com)

“Sebagai contoh, ketika belalang dalam jumlah yang banyak datang ke kebun sayur, mereka sedang memberi tahu bahwa kadar keasaman tanah kita tinggi. Maka kita tidak perlu membunuh belalangnya, tetapi menabur kapur untuk mentralkan keasaman tanah,” katanya.

“Dari pengalaman saya, ketika tanah sudah netral, mereka akan pergi dengan sendiri.”

Ia mengatakan, kalau petani menganggap sesuatu sebagai musuh, entah serangga, juga tumbuhan liar, maka ia akan kehabisan energi. 

“Tetapi kalau petani melihat segala sesuatu itu sebagai saudara, maka petani akan mendapat energi positif atau yang saya sebut energi rohani,” katanya.

Ia juga menjelaskan, setiap ladang memiliki mutiara terpendam, karena di dalamnya ada ribuan mikrobakteri yang membantu menyuburkan tanah.

Hanya, jelasnya, dengan pupuk kimia dan pestisida, mikroba banyak yang mati.

Karena pentingnya mikroba itu itu, bersama reka-rekannya mereka berusaha mendorong revisi undang-undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam yang tidak mengatur tentang perlindungan terhadap mikroorganisme dalam tanah.

“Kami ingin agar ada orang yang bertanggung jawab jika bakteri-bakteri dalam tanah mati semua karena tercemar oleh pupuk-pupuk kimia,” katanya.

Menjangkau banyak pihak

Hampir setiap pekan, orang-orang dari berbagai daerah dan latar belakang datang belajar ke kebun Bruder Pudi. Anak-anak sekolah pun ada yang mengadakan program live in di kebunnya.

Ia juga sering diundang memberi pelatihan ke banyak lokasi, baik di komunitas gereja, masjid, juga pesantren.

“Saya sudah memasuki belasan masjid untuk memperkenalkan pertanian organik ini,” katanya.

Saat ini, ia juga masih sering diminta untuk mendampingi para tentara di Jawa Barat yang hendak ditugaskan di desa-desa dan kemudian belajar pertanian organik.

Sejak tahun 2015, Bruder Pudi juga mengembangkan pertanian perkotaan yang mengajarkan penduduk kota membuat hidroponik dengan pupuk cair yang dibuat dari sisa makanan. Banyak paroki-paroki, terutama di Jakarta yang mengundangnya.Ia pun telah menulis buku panduan yang menjelaskan setiap tahapan pengembangan pola pertanian ini.

Bruder Pudi juga membuka ruang bagi kerja sama dengan banyak pihak. 

Saat ini, ia mengerjakan sebuah Proyek bersama alumni sebuah Sekolah Katolik di Jakarta untuk membantu mengolah lahan 100 hektar di Jawa Barat.

“Itu lahan mereka. Saya menjadi konsultan dan rencana saya melibatkan warga sekitar menanam benih lokal sorgum, agar mereka bisa akrab dengan pangan lain selain beras,” katanya.

Untuk pemberdayaan masyarakat sekitar kebunnya, sejak 2011 ia mengajak mereka menanam sayuran organik.  Saat ini, sekitar 100 orang yang mengembangkan pertanian organik. 

Br. Kristoforus Pudiharjo mengatakan bahwa pertanian organik memiliki aspek spiritual. (Foto oleh Siktus Harson/ucanews.com)

Mereka umumnya memasarkan sendiri hasil usahanya, namun seringkali juga dibantunya untuk menjalin komunikasi dengan konsumen, yang sudah lama mengenalnya.

Fransiskus Xaverius Djati, yang bertahun-tahun bekerja sama dengan Bruder Pudi mengatakan, permintaan untuk hasil pertanian organik memang selalu tinggi.

“Kami memasarkan dengan harga yang lebih mahal dibanding produk non-organik,” katanya.

Selain menyalurkan langsung ke konsumen yang menghubungi mereka, saat ini ada juga gerai khusus untuk produk organik di dua paroki di Jakarta.

Pastor Alsis Goa Wonga, direktur Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace and Integrity of Creation, JPIC) Fransiskan mengatakan, pengembangan pertanian organik sudah merupakan bagian dari program para Fransiskan selama beberapa tahun terakhir.

“Di Flores, kami punya pastoral ekologi atau ekopastoral, yang memang konsentrasinya adalah pertanian organik. Bruder Pudi menjadi salah satu orang penting di balik karya di Bidang ini,” katanya.

“Dalam konteks Jawa Barat, pertanian organik menjadi salah satu jalan bagi kami untuk menghadirkan diri di tengah-tengah saudara-saudari Muslim yang adalah mayoritas,” tambahnya.

Meski sudah bertahun-tahun menekuni pertanian organik, menurut  Bruder Pudi tidak mudah membuat banyak orang untuk menekuninya.

“Dari banyak orang yang sudah belajar di tempat saya,tidak banyak yang kemudian mengembangkannya ketika kembali,” katanya.

“Namun, yang terpenting adalah ada transfer pengetahuan dan kesadaran agar minimal mereka menyadari pentingnya memperlakukan alam ini dengan baik,” tambahnya.

Ditulis oleh Ryan Dagur

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi