UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Longsor di Flores Menewaskan 8 Orang, Gereja Galang Bantuan

Maret 11, 2019

Longsor di Flores Menewaskan 8 Orang, Gereja Galang Bantuan

Warga di Culu, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat meratapi jenazah dua korban, Maria Margaretha Ersi (40) bersama anaknya Nelti (8) yang meninggal akibat longsor pada 7 Maret. (Foto: Arrio Jempau)

Gereja di Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur berupaya memberi bantuan kepada umat yang menjadi korban longsor dan banjir pada pekan lalu, di mana 8 orang tewas dan ribuan mengungsi.

Tim evakuasi telah berhasil menemukan para korban dalam proses pencaria yang telah berlangsung sejak kejadian pada Kamis malam, 7 Maret hingga Minggu kemarin. Korban meninggal semuanya merupakan warga Kampung Culu, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, yang Masuk wilayah Paroki Santa Theresia Lisieux Longgo, Keuskupan Ruteng.

Longsor yang terjadi menyusul hujan deras juga merusak jembatan dan badan jalan, yang membuat akses jalan utama di Pulau Flores dari Labuan Bajo menuju kota-kota lain masih lumpuh total serta merusakkan lahan pertanian warga.

Keuskupan Ruteng telah menginstruksikan paroki-paroki di wilayahnya untuk terlibat dalam upaya membantu para korban, di mana jumlah pengungsi diperkiran mencapai 2.000 orang.

Romo Yuvens Rugi, ketua Karitas keuskupan itu mengatakan, mereka telah mengunjungi sejumlah lokasi pada 10 Maret dan menyerahkan bantuan 1 ton beras, mie instan, air dan pakaian.

“Kami masih akan pergi lagi dalam pekan ini untuk memberi bantuan lanjutan,” kata Romo Yuvens kepada ucanews.compada 11 Maret.

Ia menjelaskan, warga yang mereka bisa bantu baru sekitar 300 orang karena sulitnya akses ke lokasi lain. Untuk sementara, kata dia, pengungsi lain dibantu secara spontan oleh warga di kampung lain yang masih aman.

Ia menjelaskan, pengungsi tidak bisa kembali ke kampung mereka dalam waktu dekat karena ada beberapa rumah yang sudah roboh dan muncul banyak retakan pada tanah.

“Saat ini kami fokus pada penanganan darurat, tetapi kami juga memikirkan langkah berikut, termasuk memperbaiki rumah mereka,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, Karitas telah membangun posko di lokasi dan terus berkordinasi dengan paroki setempat.

Upaya penggalangan dana untuk bantuan juga dilakukan oleh sejumlah komunitas lain, termasuk Perhimpunan Mahasiswa Katolik Rupublik Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat telah menetapkan status tanggap darurat bencana mulai 9 Maret, yang berlaku selama 14 hari, di mana hal yang menjadi target adalah pendirian dapur umum bagi para pengungsi, penyediaan obat-obatan dan membuka akses jalan.

Ini merupakan bencana terparah di wilayah Manggarai Barat selama beberapa dekade terakhir.

Venansius Haryanto, seorang peneliti di lembaga Sunspirit for Justice and Peace mengatakan, longsor kemungkinan dipicu oleh makin berkurangnya pohon-pohon penyangga akibat penebangan huta juga alihfungsi untuk bangunan

“Di wilayah yang dulu merupakan hutan lebat, sudah banyak berdiri bangunan,” katanya.

Ditulis oleh Ryan Dagur

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi