UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Cina Tepis Tudingan Amerika Soal Kebebasan Beragama

Maret 12, 2019

Cina Tepis Tudingan Amerika Soal Kebebasan Beragama

Duta Besar untuk Kebebasan Beragama Internasional Sam Brownback berbicara tentang "Kebebesan Beragama: Ancaman Global dan Jawaban Dunia" di Foreign Correspondents' Club di Hong Kong pada 8 Maret. (Foto: Anthony Wallace/AFP)

Seorang komisioner Cina di Hong Kong membantah tudingan Duta Besar Amerika Serikat yang mengatakan kurangnya kebebasan beragama di Cina.

Kantor Komisioner Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan pidato Sam Brownback merupakan serangan jahat dan memfitnah kebijakan agama an kebebasan beragama di negara itu. Ia juga mengatakan komentar dibuat mengabaikan fakta dan mengandung prasangka dan permusuhan.

Brownback mengatakan selama pertemuan sarapan pagi di Foreign Correspondents’ Club di Hong Kong pada 8 Maret bahwa Cina “berperang dengan iman.” Dalam pidato selama 27 menit, Duta Besar AS untuk kebebasan beragama internasional itu mencantumkan daftar kelompok-kelompok agama yang sedang menghadapi penganiayaan di tengah kontrol ketat Partai Komunis Cina (CCP).

Dalam sebuah pernyataan pada 9 Maret, komisioner itu meminta Amerika Serikat “menghentikan penggunaan isu-isu agama untuk mencampuri urusan internal Cina.”

Pernyataan itu mengklaim bahwa di bawah Konstitusi dan UU Cina “rakyat dari semua etnisitas dan dari semua daerah, termasuk warga Uyghur dan Tibet, menikmati kebebasan beragama secara penuh.”

Brownback mengacu pada satu juta Muslim etnis yang ditahan di kamp-kamp internal semuanya di Daerah Otonomi Xinjiang Uyghur bahwa terjadi penganiayaan fisik dan psikologi, indoktrinasi politik secara intens dan kerja paksa.

Dia mengatakan bahwa “besarnya penahanan ini benar-benar tidak sebanding dengan ancaman nyata apa pun yang dihadapi Cina dari ekstremisme” ketika Cina membenarkan apa yang disebutnya kamp pelatihan kejuruan dan praktik represif lainnya dengan mengklaim itu mencegah terorisme terjadi.

Brownback mengatakan CCP menghancurkan gereja-gereja dan biara-biara, melarang anak di bawah umur untuk mempraktikkan agama mereka dan memasukkan pengaruhnya dalam pemilihan pemimpin agama.

Selain ikut campur dalam pemilihan penerus Dalai Lama, pemimpin spiritual Buddha Tibet, CCP juga memilih para uskup Katolik melalui Asosiasi Patriotik Katolik Cina yang dikendalikan negara, yang akan menyediakan tiga kandidat untuk pemilihan Vatikan ketika ada lowongan, katanya.

Itu akan menghasilkan pemilihan individu yang “CCP anggap loyal pada kepentingannya,” kata Brownback.

Dalam sebuah wawancara dengan South China Morning Post, Brownback mengakui bahwa sementara saat ini tidak ada dialog antara kedua negara tentang kebebasan beragama, ia percaya tidak ada waktu yang lebih baik untuk menekan Cina mengenai masalah ini ketika negara itu masih terjerat dalam perang dagang dengan Amerika Serikat.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi