UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Robot Agama Tidak Menjawab Ketidakpuasan Manusia Modern

Maret 12, 2019

Robot Agama Tidak Menjawab Ketidakpuasan Manusia Modern

Sebuah gambar robot yang diproduksi oleh Laboratorium Hiroshi Ishiguro Jepang yang disebut 'Kodomoroid' di Jepang tahun 2014 ketika ditampilkan pada pameran 2017 di Jepang. (Foto oleh Ben Stansall / AFP)

Jepang adalah pemimpin dunia dalam pengembangan dan penggunaan robot. Selain robot yang digunakan di pabrik, negara ini juga memiliki staf hotel robot, hewan peliharaan robot, pelayan robot, pengasuh robot untuk lansia dan berbagai pengganti lainnya untuk populasi manusia yang semakin berkurang di negara itu.

Sekarang, sebuah kuil Buddha di Kyoto telah memperkenalkan katekis android untuk menjelaskan ajaran Buddha kepada pengunjung.

Robot di Kuil Kodaiji yang tingginya sekitar 1,95 meter dan berat sekitar 60 kg, terlihat menyerupai android C3PO dalam film Star Wars, meskipun terbuat dari aluminium dan menyerupai perempuan.

Namun, tangan dan wajahnya yang terbuat dari silikon membuatnya tampak seperti manusia, bahkan dengan berbagai ekspresi wajah dan gerakan tangan untuk menunjang pidatonya.

Wajah robot yang bernama Mainda itu dibuat sesuai dengan pemahaman tradisional Jepang tentang Kannon, yang umumnya dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Dewi Kasih Sayang Buddha, sebuah deskripsi yang tidak akurat karena agama Buddha bersifat non-teistik, tanpa dewa atau dewi.

Pada konferensi pers baru-baru untuk memperkenalkan robot tersebut, Mainda memberikan ceramah tentang ajaran Buddha sementara terjemahan Cina dan Inggris diproyeksikan di dinding di belakangnya.

Ironisnya, ketika saya ingin meneruskan sebuah artikel tentang Mainda, saya harus mengklik sebuah kotak di situs surat kabar yang menyatakan “Saya bukan robot.”

Umat Katolik sudah memiliki aplikasi pengakuan dosa. Akankah kita juga akan segera melihat uskup agung android?

Dengan mempertimbangkan apa yang telah Gereja lalui akhir-akhir ini karena daging dan golongan darah, hal itu mungkin merupakan perkembangan yang diinginkan.

Sebenarnya, orang-orang Kristen telah menggunakan berbagai sarana yang mirip dengan Mainda selama berabad-abad, dengan hasil yang sama yang bisa diharapkan dari robot. Namun sarana itu belum elektronik tetapi sebaliknya mewujudkan sikap pemimpin Kuil Kodaiji yang mengatakan, “Jika gambar Buddha berbicara, ajaran agama Buddha mungkin akan lebih mudah dipahami.”

Pengkotbah Protestan evangelis dan bahkan Katolik membagi-bagikan Alkitab. Umat Katolik akan sering melakukan hal yang sama dengan katekismus, berpikir bahwa buku adalah cara paling pasti untuk menggerakkan hati dan pikiran.

Dalam beberapa kasus, hal itu terjadi, misalnya beberapa kasus yang dilakukan robot animasi. Banyak orang lainnya mengandalkan khotbah, homili dan seminar untuk mencapai pertobatan pada pendengar mereka.

Namun, sebagian besar upaya itu gagal. Kata-kata, entah diotomatisasi, dicetak atau diucapkan, jarang memiliki dampak yang besar kecuali ketika disajikan oleh seseorang dengan bakat luar biasa. Dan saya telah melewati berbagai khotbah yang tidak dianimasi untuk mengetahui bahwa bakat seperti itu, sungguh, luar biasa.

Jadi, jika pengkhotbah non-android, uskup dan paus hanya memiliki sedikit dampak pada pendengar mereka, tidak mustahil bahwa komputer akan melakukannya dengan lebih baik. Kecerdasan buatan belum -dan mungkin tidak akan pernah- berada pada titik di mana ia dapat menjadi model belas kasihan agama Buddha atau cinta Kristen.

Pada sebuah lokakarya baru-baru ini tentang “Robo-etika: Manusia, Mesin dan Kesehatan” yang disponsori oleh Akademi Kepausan Vatikan untuk Kehidupan, Marita Caballo, presiden Akademi Nasional Ilmu Pengetahuan Moral dan Politik Argentina, mengatakan: “Kontak mata, pelukan, tidak bisa digantikan oleh robot.”

Dengan kata lain, hubungan manusia yang diperlukan untuk menyampaikan pesan yang meningkatkan dan mengubah kehidupan, tidak dapat digantikan oleh mesin.

Sebuah puisi Jepang mengatakan: “Mereka yang berbicara adalah mulia; lebih mulia lagi mereka yang tanpa mengetahuinya namun berbicara dengan tubuh mereka. Mereka yang memberi bimbingan adalah mulia; mereka yang tanpa mengetahuinya membimbing dengan memberi contoh lebih mulia. ”

Perbuatan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Orang-orang tidak lagi mencari lebih banyak kata-kata dari Gereja. Kita memiliki perpustakaan yang penuh dengan dokumen lengkap. Orang ingin melihat buah dari keyakinan dalam tindakan. Mereka tidak akan percaya pada pembicaraan tentang kasih Tuhan jika mereka tidak terlebih dahulu mengalami kasih itu.

Berikut adalah video tentang Mainda:

Karena iman kristiani menyangkut suatu hubungan, maka orang akan berjumpa dengan Tuhan dalam hidup mereka lebih melalui hubungan daripada informasi.

Sayangnya, wajah publik Gereja, hierarki dan klerus menjadi contoh kurang bagus akhir-akhir ini dan kemungkinan akan tetap demikian selama satu generasi atau lebih, sampai Gereja menata rumahnya dan situasi saat ini tinggal sejarah. Jadi, wajah “pribadi” Gereja harus mengambil misi dengan penuh komitmen dan semangat tinggi.

Dengan kata lain, kaum awam yang selalu menjadi jantung Gereja harus lebih proaktif dalam evangelisasi. Hal itu dilakukan dengan dua cara. Yang pertama, umat awam harus membebaskan diri dari belenggu sikap pasif yang menganggap bahwa evangelisasi adalah tanggugjawab klerus. Mereka tidak perlu dan tidak harus menunggu izin atau panduan dari klerus. Roh Kudus menjadi panduan.

Kedua -dan mungkin lebih sulit- adalah bahwa kaum awam harus menyembuhkan para klerus dari penyakit klerikalisme yang merongrong Tubuh Kristus. Mungkin berkurangnya jumlah imam akan menjadi satu-satunya cara menyembuhkan infeksi ini.

Namun, kita berharap bahwa mereka tidak digantikan oleh robot.

Artikel ini ditulis Pastor William Grimm, MM, penerbit ucanews.com dan tinggal di Tokyo.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi