UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Bom Bunuh Diri Istri Tersangka Teroris di Sibolga Bukti JAD Masih Berbahaya

Maret 14, 2019

Bom Bunuh Diri Istri Tersangka Teroris di Sibolga Bukti JAD Masih Berbahaya

Polisi saat melakukan investigasi terhadap teroris di Jawa Timur pada 5 Juli, 2018 setelah terjadi ledakan bom. Baru-baru ini polisi tidak berhasil membujuk istri seorang tersangka teroris yang meledakkan dirinya dan dua anaknya di rumah mereka di Sibolga, Sumatra Utara pada 13 Maret 2019. (Foto oleh Juni Kriswanto/AFP)

Isteri terduga teroris yang meledakkan dirinya di Kabupaten Sibolga, Sumatera Utara menjadi salah satu bukti nyata bahwa Jamaah Ansharut Daulah (JAD) masih aktif dan siap melakukan serangan kapan saja

Polisi mengatakan, isteri dari Husein alias Abu Hamzah, terduga teroris memilih meledakkan diri pada 13 Maret pukul 02.00 WIB bersama dengan dua anaknya setelah rumah mereka dikepung polisi.

Polisi sempat berupaya merayunya selama sekitar 12 jam untuk menyerahkan diri, termasuk dengan meminta suaminya dan tokoh agama setempat berbicara lewat pengeras suara di masjid terdekat, memintanya untuk menyerah.

“Tolong menyerahlah, ingat anakmu. Jangan kau korbankan anakmu. Bicara baik-baik kalau ada masalah. Karena tidak ada agama yang mengajarkan hal yang seperti itu. Ayo menyerahlah,” seru seorang tokoh agama setempat, seperti dilaporkan media lokal.

Namun, ia tetap bertahan di dalam rumah.

Polisi mengetahui ada bom di rumah mereka setelah menangkap Hamzah pada 12 Maret sore. Saat dibawah ke rumahnya untuk digeledah, sempat ada bom yang meledak dan melukai polisi.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut polisi mengidentifikasi Hamzah setelah penangkapan terduga teroris bernisial RIN alias Putra Syuhada di Provinsi Lampung, ujung timur Sumatera pada 9 Maret. 

Penangkapan ini bermula dari laporan orang tua RIN yang mengetahui bahwa anak mereka telah terpengaruh paham radikal.

Karnavian mengatakan, mereka adalah bagian dari Jamaah Ansharut Daulah yang berafiliasi dengan ISIS.

Jamaah Ansharut Daulah dituduh berada di belakang pemboman bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, yang menewaskan 18 orang pada 13 Mei tahun lalu. Dua pembom dalam serangan itu termasuk dua anak laki-laki.

Pastor Sebastian Sihombing OFMCap, Vikaris Jenderal Keuskupan Sibolga mengatakan, kasus ini “mengejutkan.”

“Kami kaget karena selama ini wilayah Sibolga terkenal aman dan baru sekarang ada kasus seperti ini,” katanya pada 13 Maret.

Ia menjelaskan, memang tidak ada Gereja di lokasi ledakan dan saat ini belum ada langkah pengamanan untuk gereja.

“Namun, kami akan membahas langkah apa yang bisa dilakukan oleh internal Gereja untuk meningkatkan kewaspadaan,” katanya.

“Ini alarm bagi kami juga bahwa bahaya kelompok teror ini bisa selalu datang, tanpa kita duga,” lanjutnya.

Stanislaus Riyanta, pengamat terorisme mengatakan, pola kelompok yang berafiliasi dengan ISIS telah berubah, dari biasanya bergerak dalam kelompok, kini beradaptasi menjadi unit yang lebih kecil setingkat keluarga.

“Ini adalah strategi untuk menghindari pelacakan dari aparat,” katanya.

Mereka, kata dia, juga tega melibatkan atau mengorbankan perempuan dan anak-anak dalam aksinya.

“Mereka juga menghasilkan pelaku teror tunggal atau lone wolf yang gerakannya sulit terdeteksi,” ungkapnya.

Ia menyatakan, aksi yang dilakukan oleh keluarga atau pelaku tunggal akan terus menjadi bentuk aksi teror ke depan. 

“ISIS memang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi