UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kristen dan Muslim Dalit Tuntut Hak Mereka Masuk dalam Manifesto Politik

Maret 14, 2019

Kristen dan Muslim Dalit Tuntut Hak Mereka Masuk dalam Manifesto Politik

Orang Kristen dan Muslim Dalit menggelar proves di New Delhi pada 12 Maret untuk menuntut pemerintah menyediakan mereka tunjangan kesejahteraan yang hanya dinikmati oleh kerabat mereka beragama Hindu selama ini. (Foto: Bijay Kumar Minj/ucanews.com)

Ratusan orang Kristen dan Muslim Dalit mengadakan aksi protes di New Delhi yang merupakan upaya terakhir mereka untuk mendapatkan tunjangan kesejahteraan mereka yang tidak diberikan.

Sekitar 500 umat Kristiani dan Muslim yang menyebut diri mereka sebagai komunitas Dalit bergabung bersama di New Delhi pada 12 Maret, dua hari setelah mengumumkan jadwal pemilu pada April-Mei.

“Negara ini sedang dalam suasana pemilu. Kami ingin menyampaikan tuntutan kami kepada pemerintah agar mereka mempertimbangkan hak-hak saudara-saudara Kristen dan Muslim kami,” kata Pastor Devasagaya Raj, sekretaris eksekutif Kantor Dalit  Konferensi Waligereja India dalam aksi itu.

Orang-orang Kristen dan Muslim dari kelompok Dalit menuntut agar mereka diberi tunjangan kesejahteraan sosial untuk mengangkat martabat orang-orang Dalit. Kedua komunitas ini tidak termasuk sebagai penerima manfaat program ini sejak 1950 karena pemerintah mengatakan agama mereka tidak mengikuti sistem kasta.

“Enam dekade bukanlah periode kecil (bahwa) kita telah menderita ketidakadilan ini,” kata Pastor Raj. “Ada batasan untuk semuanya. Kami telah memutuskan bahwa kami akan mendukung partai politik yang akan memasukan tuntutan kami dalam manifesto pemilihan mereka.”

Perintah presiden tahun 1950 mengatakan hanya orang Dalit dari agama Hindu yang dapat menikmati manfaat konstitusional seperti penerimaan dalam pekerjaan pemerintah, lembaga pendidikan dan beasiswa. Peraturan itu diubah dua kali untuk memasukkan Sikh tahun 1956 dan Buddha tahun 1990.

Buddha dan Sikh juga tidak mengakui sistem kasta, tapi mereka dimasukan setelah pemerintah menerima alasan mereka bahwa perubahan agama semata-mata tidak mengubah situasi sosial ekonomi seseorang.

Namun, argumen yang sama dikemukakan oleh orang-orang Kristen dan Muslim Dalit belum berhasil menerapkan amandemen lain. Para pemimpin Kristen mengatakan partai-partai politik takut melakukannya karena hal itu dapat memusuhi mayoritas pemilih mereka beragama Hindu.

“Kebanyakan partai politik telah berjanji untuk mempertimbangkan tuntutan mereka tapi tak seorang pun mewujudkan janji mereka ketika mereka berkuasa,” kata Pastor Raj.

Para delegasi  dari banyak negara bagian India menghadiri aksi protes itu yang diadakan oleh  Dewan Nasional Kristen Dalit dengan dukungan dari Konferensi Waligereja India dan Persekutuan Gereja-gereja di India.

Sekitar 30 persen dari 28 juta penduduk Kristen di India adalah orang Dalit. Mereka tersebar di berbagai negara bagian di India, dan berbicara dalam berbagai bahasa membuat koordinasi menjadi sulit, kata M. Mary John, anggota pendiri Dewan Nasional Kristen Dalit.

“Kami ada di 22 (dari 29 negara bagian di India). Selama hari-hari pemilihan ini, kami akan mendidik rakyat kami tentang pentingnya suara mereka,” kata John kepada ucanews.com.

Sister Anastasia Gill, anggota Komisi Minoritas Delhi, mengatakan pada pertemuan itu bahwa pengorbanan akan diperlukan bagi mereka untuk mencapai tujuan mereka.

“Mari kita tinggalkan perbedaan kita,” kata Suster Gill. “Tidak masalah jika Anda Katolik, Kristen atau Muslim, kita harus bersatu untuk tujuan mulia ini.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi