UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tenaga Kerja Wanita Masih Menjadi ‘Ekspor Utama’ Filipina

Maret 14, 2019

Tenaga Kerja Wanita Masih Menjadi ‘Ekspor Utama’ Filipina

Kaum perempuan di Baguio City memperingati Hari Perempuan Dunia pada 8 Maret. (Foto oleh Karl Romano/ucanews.com)

Emer de Lina, 59, berharap bahwa ketika dia kembali ke Filipina, jalan-jalan dan layanan dasar sudah diperbarui, serta harga yang cukup stabil untuk kebutuhan sehari-hari

Dia tidak berharap adanya kekecewaan besar setelah menghabiskan sekitar separuh dari hidupnya bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga.

Namun, yang membuatnya kecewa, kondisi kehidupan di tanah airnya telah memburuk.

“Saya bekerja di luar negeri karena saya tidak dapat menemukan pekerjaan dengan gaji yang layak,” katanya.

“Sekarang, saya dihadapkan dengan harga beras yang terus meningkat.”

De Lina adalah salah satu ‘ekspor utama’ dari Filipina, sebuah negara kepulauan Asia yang luas.

Data dari Badan Ketenagakerjaan Luar Negeri Filipina mengkonfirmasi bahwa dari 10 juta tenaga kerja luar negerinya, tenaga kerja pria kurang dari 40 persen.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pusat Sumber Daya Wanita, sebuah lembaga non-pemerintah, mencatat bahwa bekerja di luar negeri telah menjadi satu-satunya pilihan yang layak bagi banyak wanita Filipina.

Karena mereka menjaga ekonomi Filipina tetap bertahan, mereka dijuluki oleh pemerintah sebagai pahlawan modern.

Pada tahun 2017, Filipina menerima remitansi sebesar $28,1 miliar dari orang Filipina yang bekerja di luar negeri.

Pemerintah juga menerima pendapatan dari biaya wajib pengurusan dokumen dan lainnya yang harus dibayar oleh para pekerja migran Filipina agar dapat meninggalkan negara itu.

Seperti banyak pekerja migran perempuan lainnya, De Lina bekerja keras untuk mendapatkan dolar yang sangat dibutuhkan untuk dikirim ke keluarganya di rumah.

Dia pertama kali bekerja di Singapura, tetapi gajinya di sana hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Setelah tiga tahun, ia pindah ke Hong Kong pada tahun 1993 dan tinggal di sana selama dua puluh tahun, dan menerima gaji yang relatif lebih tinggi.

Dari tahun 2013 dia bekerja di Makau sebelum kembali ke Filipina pada 2017.

Emer de Lina mengenang bagaimana dia bekerja sebagai asisten rumah tangga di luar negeri yang dimulai ketika fajar.

“Tidak ada kesempatan untuk beristirahat atau bahkan duduk,” katanya.

“Anda selalu berada dalam kendali majikan Anda. Sehingga anda tidak bisa berbuat apa-apa selain bekerja,” lanjutnya.

Dari semua tantangan yang dia hadapi, malam-malam tanpa tidur adalah yang paling sulit karena dia akan terbangun dan memikirkan anak-anaknya sendiri di Filipina.

“Mereka anak-anakku, tetapi mereka menjadi orang asing bagiku,” kata De Lina.

“Mereka menyalahkan saya karena tidak ada di sana untuk membimbing mereka.”

Kebijakan pemerintah Filipina yang disebut sebagai ‘Kebijakan Ekspor Tenaga Kerja’ telah menghasilkan lebih banyak orang Filipina yang terpaksa bekerja dan menanggung kesulitan di luar negeri untuk mendukung keluarga mereka.

Selain menjadi pembantu rumah tangga, orang Filipina juga bekerja di luar negeri dalam berbagai pekerjaan lain, termasuk sebagai ahli terapi pijat, manajer hotel, perawat dan koki.

Akan tetapi menurut Migrante International, sebuah organisasi pekerja migran Filipina, sebagian besar pekerja migran Filipina tetap berada dalam lingkaran “pekerjaan dasar” seperti melakukan pekerjaan rumah tangga.

Sebuah kelompok perempuan yang disebut Gabriela mencatat bahwa hanya sebagian kecil saja dari pekerja kontrak perempuan di Filipina yang dicakup oleh serikat pekerja.

Uskup Ruperto Santos, ketua Komisi Episkopal untuk Pelayanan Pastoral Buruh Migran dan Perantau, mengatakan bahwa negara itu tidak kekurangan pekerjaan

“Tidak benar bahwa tidak ada pekerjaan di sini,” kata prelatus itu pada peringatan Hari Minggu Migran pada 10 Maret.

“Masalahnya adalah orang Filipina tidak diprioritaskan. Pekerjaan yang diperuntukkan bagi mereka diberikan kepada orang lain.”

Prelatus itu mengutip pengumuman Departemen Tenaga Kerja bahwa setidaknya ada 400.000 ‘izin kerja orang asing’ dan sekitar 180.000 ‘izin kerja khusus’ telah dikeluarkan oleh Pemerintah Filipina.

Setelah jauh dari rumah selama beberapa dekade, De Lina kembali dengan tangan kosong. Semua gaji yang diperolehnya dengan susah payah dihabiskan untuk menghidupi anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya.

Saat ini, De Lina terpaksa bergulat dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi