UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Malaysia Akan Terima Warganya yang Ikut ISIS, Asalkan Mau Direhabilitasi

Maret 15, 2019

Malaysia Akan Terima Warganya yang Ikut ISIS, Asalkan Mau Direhabilitasi

Sejumlah wanita berkerudung, yang menurut laporan adalah istri dan anggota ISIS, berjalan di bawah pengawasan seorang pejuang perempuan dari Pasukan Demokratik Suriah di Kamp al-Hol di Suriah bagian timur laut pada 17 Februari lalu. Malaysia telah menyatakan bahwa warga negaranya diperbolehkan kembali ke tanah air. (Foto: Bulent Kilic/AFP)

Sejumlah warga Malaysia yang bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di luar negeri diperbolehkan pulang ke tanah air mereka, jika mereka mau direhabilitasi, demikian menurut seorang pejabat polisi.

“Tidak semua orang akan ditahan, tetapi semua eks-anggota ISIS yang kembali ke tanah air akan diinterogasi,” kata Ayob Khan Mydin Pitchay, wakil direktur Divisi Pencegahan Terorisme dari kantor kepolisian federal.

Semua eks-anggota ISIS yang kembali ke tanah air akan terus dipantau oleh aparat keamanan, para ulama dan psikolog “untuk mengevaluasi ideologi dan psikologi mereka,” katanya.

Ia menyampaikan komentarnya ketika beberapa negara di dunia mengalami kesulitan terkait penanganan eks-anggota ISIS.

Ribuan jihadis dan simpatisan ISIS dari luar negeri yang ditahan di kamp-kamp di seluruh Irak dan Suriah merasa tidak diakui dan diancam akan dipersekusi oleh pemerintah mereka jika mereka kembali ke tanah air.

“Kami akan membandingkan intelegensi yang kami terima dari lembaga-lembaga asing yang ramah. Jika terbukti ada seorang eks-anggota ISIS benar-benar terlibat dalam kegiatan kelompok militan itu, ia akan diadili,” kata Ayob.

Saat ini ada 11 eks-anggota ISIS asal Malaysia yang kembali ke tanah air. Delapan pria diadili dan terbukti bersalah. Sisanya adalah seorang wanita dan dua anak masing-masing berumur 3 dan 5 tahun.

Wanita itu menjalani program rehabilitasi yang diadakan oleh pemerintah sebelum ia diperbolehkan kembali ke tanah air. Ia terus dipantau, kata Ayob kepada media lokal. 

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, ayah dari wanita berusia 29 tahun yang diidentifikasi sebagai Lidia itu mengatakan anaknya meninggalkan Malaysia bersama suami dan bayi laki-laki mereka pada 2014 dan pergi menuju Suriah, dan kini anaknya meminta bantuan agar ia bisa kembali ke tanah air.

Ayah dari wanita itu mengatakan kepada media televisi tersebut bahwa anaknya mengirim pesan kepadanya dua minggu lalu dari sebuah wilayah yang diambilalih oleh Pasukan Demokratik Suriah untuk meminta bantuannya dalam memfasilitasi kepulangannya. 

Ayob mengkonfirmasi bahwa Lidia – yang kini berada di wilayah Kurdistan di Hasakah, Suriah, bersama dua anak laki-laki masing-masing berumur 2 dan 4 tahun – adalah satu dari 13 warga negara Malaysia di Suriah yang ingin kembali ke tanah air. Namun Ayob mengaku “sulit” memfasilitasi kepulangan mereka karena hal ini melibatkan banyak pihak dari berbagai negara.

Lidia – mantan teknisi laboratorium medis dari Negara Bagian Johor di Malaysia bagian selatan – telah menjanda dua kali. Ia kehilangan suami pertamanya dalam perang di Suriah. Suami keduanya juga tewas.

Menurut ayahnya, Lidia berada di kamp itu selama setahun dan merasa sulit dan “tidak nyaman” menjalani kehidupan di sana.

Sementara ISIS berada di ambang kehancuran di Irak dan Suriah, otoritas percaya bahwa masih ada warga negara Malaysia yang ingin berjuang bagi ISIS. Polisi yakin bahwa masih ada 51 warga negara Malaysia di Suriah termasuk 17 anak-anak.

Data kepolisian menunjukkan bahwa 102 warga negara Malaysia meninggalkan negara itu untuk bergabung dengan ISIS. Selain itu, 40 orang tewas dalam perang di Irak dan Suriah, termasuk sembilan orang yang mengakhiri hidup mereka dengan menjadi pelaku bom bunuh diri.

Kini muncul kekhawatiran bahwa kelompok Islam radikal yang tidak bisa pergi ke Suriah tengah melirik Mindanao di Filipina bagian selatan di mana kelompok-kelompok militan berjejaring dengan ISIS.

Langkah yang diambil Malaysia – sebuah negara multi-ras berpenduduk mayoritas Muslim – untuk mengijinkan kepulangan eks-anggota ISIS merupakan suatu langkah maju dibanding beberapa negara lain.

Banyak istri dan anak dari pejuang ISIS yang ditahan di pusat-pusat tahanan yang berada di seluruh wilayah kedua negara Timur Tengah yang terkoyak perang itu merasa bahwa mereka tidak memiliki negara.

Ketika ISIS berkuasa, kelompok itu bergantung sepenuhya pada taktik perekrutan puluhan ribu pejuang Islam radikal dari Timur Tengah, Eropa dan lainnya. Banyak orang muda dari sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Indonesia ingin bergabung dan mereka mengajak istri dan anak mereka.

Banyak keluarga jihadis ISIS berada dalam ketidakpastian hukum karena otoritas di Suriah ingin memulangkan mereka ke negara mereka masing-masing. Sementara negara mereka tidak bersedia menerima mereka kembali.

Inggris baru-baru ini mencabut kewarganegaraan tiga wanita eks-anggota ISIS di Suriah, termasuk remaja putri asal London, Shamima Begum, yang kasusnya dipublikasikan secara luas.

Otoritas Amerika Serikat juga bersikeras bahwa warga negaranya, Hoda Muthana, yang meninggalkan negara itu pada 2014 untuk menikahi seorang pejuang ISIS, tidak akan diijinkan untuk kembali ke tanah air.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi