UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Imam di Filipina Diminta Serius Tanggapi Ancaman Pembunuhan

Maret 19, 2019

Imam di Filipina Diminta Serius Tanggapi Ancaman Pembunuhan

Pastor Albert Alejo SJ (kiri), Pastor Robert Reyes (tengah) dan Pastor Flavie Villanueva berbicara tentang ancaman pembunuhan dalam konferensi pers di Manila pada 11 Maret. (Foto: Maria Tan)

Seorang imam di Filipina yang pindah tugas karena takut kehilangan nyawa mengingatkan rekan-rekannya untuk menanggapi dengan serius ancaman pembunuhan, namun tidak perlu takut menyampaikan kebenaran.

Pastor Amado Picardal CSsR mengatakan hidupnya berada dalam bahaya sejak ia mengkritik rangkaian pembunuhan yang menjadi bagian dari upaya pemerintah memerangi narkoba.

“Saya menjadi sasaran upaya pembunuhan oleh pasukan maut,” kata imam itu. 

Ia mengatakan dia beruntung karena menerima informasi tentang rencana itu.

Mengakui keprihatinan akan keselamatan dirinya, Pastor Picardal meminta dipindahtugaskan, tetapi ia mengatakan akan terus berbicara menentang praktek pembunuhan.

“Saya tidak takut mati tetapi saya tidak akan membuat mereka mudah untuk membunuh saya,” katanya.

Pekan lalu, tiga imam di negara mayoritas Katolik itu mengaku telah menerima ancaman pembunuhan karena mengkritik kebijakan Presiden Rodrigo Duterte.

Uskup Kalookan, Mgr Pablo Virgilio David juga melaporkan menerima ancaman setelah berbicara menentang pembunuhan di keuskupannya.

“Saya berharap akan ada lebih banyak uskup yang mau mempertaruhkan hidup mereka untuk kawanan domba mereka,” kata Pastor Picardal.

Ia menggambarkan ancaman pembunuhan sebagai “manifestasi dari kejahatan yang Tengah berkuasa dalam masyarakat.”

Ketika ditanya apa yang harus Gereja lakukan dalam menghadapi ancaman semacam itu, Pastor Picardal mengatakan bahwa Gereja harus “dengan penuh semangat menjalankan misi profetisnya.”

Ia mengatakan ada kebutuhan untuk “membangkitkan hati nurani umat” karena Gereja harus menjadi “menara harapan” dan “bertindak demi transformasi dalam masyarakat.”

Sebelumnya, Keuskupan Cubao di ibukota Filipina menyatakan keprihatinannya atas ancaman yang diterima oleh beberapa imam.

“Ancaman terhadap kehidupan para gembala kita ini bukan hal yang hampa atau tidak berdasar,” kata Uskup Honesto Ongtioco, samil menambahkan bahwa situasi ini menuntut “kesaksian iman kita … untuk menjadi nabi dan berbicara menentang segala jenis ketidakadilan.”

Sementara itu, seorang pejabat konferensi para uskup,mendesak para imam dan uskup yang telah menerima ancaman untuk tidak takut meski ada serangan terhadap Gereja dan para klerus.

“Bahkan dengan ancaman atau kata-kata yang menyerang, kami para imam harus tegas dalam iman Katolik kami, dan setia pada panggilan kami,” kata Uskup Rupanga Santos dari Balanga, Ketua Komisi untuk Migran dan Perantau di Konferensi Para Uskup.

“Sebagai imam, hidup kami adalah untuk Gereja, untuk umat Tuhan. Ini adalah panggilan kami, kami hanya memenuhi panggilan Tuhan,” tambahnya.

Dalam sebuah pernyataan setelah terungkap bahwa beberapa imam telah menerima ancaman, Duterte mengatakan dia tidak peduli jika para imam akhirnya terbunuh.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi