UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Siaran ‘Oase Rohani Katolik’ Meneguhkan Iman Umat

Maret 20, 2019

Siaran ‘Oase Rohani Katolik’ Meneguhkan Iman Umat

Matius Samijan, seorang penyandang tunanetra, menghadiri Misa syukur untuk merayakan peringatan ke-12 siaran ORK pada 23 Februari di aula Paroki St. Perawan Maria Diangkat ke Surga di Jakarta Pusat. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

Beberapa tahun lalu, jalan hidup yang dilalui Matius Samijan tidak mudah. Sebagai seorang penyandang tunanetra, satu-satunya hal yang bisa dilakukannya saat itu untuk menafkahi keluarganya adalah bekerja sebagai tukang pijat panggilan.

“Sulit. Tidak banyak pelanggan,” katanya.

Namun ia tidak menyerah. Umat Paroki St. Arnoldus di Bekasi itu melakukan apa harus dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan istrinya yang juga seorang penyandang tunanetra dan anak laki-laki satu-satunya.

Hingga suatu hari, kala itu tahun 2008, ia mendapati sebuah siaran siraman rohani yang dikelola oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) di sebuah stasiun radio yang saat itu masih bernama Radio Cakrawala. Sejak saat itu, ia rutin mendengarkan acara tersebut setiap pagi, mulai dari pukul 05:30 WIB hingga pukul 06:30 WIB. 

“Ini bagus, membantu saya menumbuhkan iman saya dan menguatkan saya,” katanya.

Kini, menginjak usia 50-an tahun, umat awam Katolik yang dibaptis pada 1986 setelah sebelumnya menganut agama Islam itu mencoba keberuntungan sebagai seorang penyanyi untuk sebuah kelompok musik Jawa.

Tidak seperti Matius, Cicilia Kelen dari Paroki Keluarga Kudus di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, lebih memilih untuk menonton siaran siraman rohani itu melalui streaming video di saluran YouTube milik Komsos KAJ.  

Wanita berusia 40 tahun itu meluangkan waktu sekitar 15 menit mulai pukul 05:00 WIB setiap hari untuk menonton siaran siraman rohani itu melalui telepon selularnya.

“Saya harus berangkat ke gereja untuk mengikuti Misa harian pagi. Tapi saya masih bisa mendengar bacaan Kitab Suci saat siaran itu. Dengan mendengarkan bacaan hari itu membantu saya untuk lebih memahami bacaan tersebut,” katanya.

“Pernah ketika saya sedang ada masalah, saya mendengar bacaan Kitab Suci melalui siaran itu. Bacaan Kitab Suci saat itupas sekali dengan situasi yang saya rasakan. Ini yang menguatkan saya,” lanjutnya.

Sekitar 30.000 umat Katolik, termasuk Matius dan Cicilia, rutin mendengarkan atau menonton siaran siraman rohani yang diberi nama OASE Rohani Katolik (ORK) dan yang diinisiasi oleh Romo Peter Pehan Tuhan SDB tersebut.

Program pertama di Indonesia

Semua berawal pada 2007 ketika Romo Tukan – saat itu masih berkarya sebagai formator para seminaris Salesian – merasa prihatin bahwa program pembinaan spiritual di kalangan umat Katolik masih minim.

“Kalau hanya mengajar di kampus, sekolah dan gereja, kotbah tidak cukup. Banyak umat perlu mendengarkan lebih sering. Kalau kotbah kan hanya Hari Minggu. Mengajar kan hanya kelompok kecil,” katanya.

Setahun kemudian, ia meluncurkan program itu setelah mendapat persetujuan dari uskup agung Jakarta saat itu, Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja, dan dukungan dari temannya yang menjadi pemilik stasiun radio yang kini bernama Mandarin Station itu.

“Tujuan dari siaran ORK adalah menyampaikan firman Tuhan kepada khalayak dan membuat umat Katolik menjadi segar setiap hari dengan firman Tuhan,” katanya.

Saat ini, 12 penyiar perempuan dan lebih dari 30 imam yang berkarya di KAJ terlibat dalam siaran ORK yang berisi bacaan Kitab Suci dan renungan serta tanya-jawab.

ORK disiarkan di stasiun radio itu setiap pagi. Sementara itu, siaran melalui streaming video di saluran YouTube milik Komsos KAJ dilakukan setiap pagi dan diulang lima kali sepanjang hari itu.

Romo Ignatius Ismartono SJ, mantan sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antar-agama dan Kepercayaan KWI, adalah salah satu imam yang terlibat dalam siaran ORK.

“Selama ini bacaan sudah ada tema, berdasarkan kalender liturgi. Biasanya ini menjadi bacaan rohani bagi siapa pun, juga bagi kami. Ini menjadi makanan rohani. Maka cara tafsirnya adalah bagaimana naskah itu meneguhkan iman, mencintai firman dan kemudian bergembira karenanya. Itu kerangka tafsirnya,” katanya.

Siaran ORK merupakan program yang unik di Indonesia.

“Di Indonesia, belum ada siaran renungan harian dengan bahan bacaan Kitab Suci. yang melibatkan banyak romo,” kata Ketua Komisi Komsos KAJ Romo Matius Harry Sulistyo Pr.

“Untuk namanya ORK memang pertama di Indonesia,” kata Romo Tukan. “Tetapi kita juga harus tahu bahwa beberapa keuskupan di sejumlah propinsi mempunyai radio, masing-masing punya kontennya. Tapi siaran semacam ini baru pertama kali karena benar-benar membahas liturgi harian dan melibatkan romo dalam jumlah banyak. Ini tidak pernah terjadi di keuskupan lain di Indonesia.”

Perumpamaan seorang penabur

Belum lama ini, Komisi Komsos KAJ merayakan peringatan ke-12 siaran ORK dengan Misa konselebrasi yang diadakan di aula Paroki Katedral St. Perawan Maria Diangkat ke Surga di Jakarta Pusat.

Dalam homilinya, Vikep KAJ Romo Alexius Andang Listya Binawan SJ membacakan perumpamaan seorang penabur yang diambil dari Injil Matius.

“Perumpamaan tentang benih yang ditabur atau tentang penabur bagi saya menjadi sangat inspiratif juga dalam konteks ini. Saya suka mengumpamakan bagaimana iman harus dipelihara di dalam hati kita dan hati kita harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Salah satunya adalah kita pupuk baik-baik.” katanya. 

“Bagaimana kita memupuk hati kita adalah mendengarkan, membuka hati supaya dengan demikian apa yang kita dengarkan dapat menjadi kekayaaan kita. Maka sekali lagi, mendengarkan ORK adalah salah satu upaya, salah satu saja tentunya, tapi bermakna bagaimana kita memupuk iman kita … .”

“Harapannya tentunya bukan hanya supaya ORK bisa makin panjang. Tidak. Tapi supaya iman kita yang justru makin bertumbuh dan berbuah dan di sanalah kita menjadi tanda bahwa Kerajaan Allah sungguh hadir, bukan hanya di dalam masyarakat tetapi terutama di dalam hati kita,” katanya.

Ungkapan yang sama datang dari Bernadette Marita, seorang penyiar siaran ORK berusia 52 tahun dari Paroki St. Yohanes Bosco di Sunter, Jakarta Utara. 

“Saya merasakan ketenangan batin sejak menjadi penyiar siaran ORK. Dengan mendengarkan permenungan, saya merasa lebih dikuatkan juga,” katanya.

Ditulis oleh Katharina Reny Lestari

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi