UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Dengan eKatolik, Semuanya Jadi Praktis

Maret 22, 2019

Dengan eKatolik, Semuanya Jadi Praktis

Aplikasi eKatolik sejak diluncurkan pada 2013 sudah diunduh di hampir satu juta perangkat.

Hampir setiap hari, sebelum memulai kegiatan hariannya, Agustinus Sina Koten membuka telepon seluler untuk membaca Alkitab dan renungan harian dalam aplikasi eKatolik.

Selama empat tahun terakhir, pensiunan guru berusia 64 tahun ini secara rutin mengakses aplikasi itu, yang menyediakan bacaan Kitab Suci, doa-doa dan fitur lainnya.

“Saya merasa ada sesuatu yang hilang jika tidak membukanya. Jika saya tidak punya waktu untuk membukanya di pagi hari karena harus melakukan pekerjaan yang lain, saya akan meluangkan waktu di siang hari atau di malam hari,” katanya kepada ucanews.com.

Koten adalah prodiakon di Paroki St. Helena, Karawaci, sebuah kota di Provinsi Banten, sebelah barat Jakarta.

Mengakses aplikasi itu secara rutin juga membantunya mempersiapkan renungan ketika diminta untuk memimpin ibadat di lingkungannya.

“Semuanya menjadi praktis dengan aplikasi ini,” katanya.

eKatolik tidak hanya populer di kalangan umat awam seperti Koten, tetapi juga digunakan oleh para imam.

Romo Valerianus Paulinus Jempau, seorang kepala sekolah sebuah SMP di Flores telah menggunakan eKatolik sejak 2017.

Pastor muda itu memanfaatkannya untuk memeriksa bacaan harian, refleksi dan membaca riwayat orang-orang kudus.

“Aplikasi ini sangat membantu dan membuat tugas saya lebih mudah, karena saya dapat mengaksesnya dari mana saja,” katanya.

Sejak dirilis hampir tujuh tahun lalu, aplikasi tersebut telah diunduh di hampir satu juta perangkat, demikian menurut pengembangnya, Bernardus Dominicus, 34, seorang umat di Surabaya, Jawa Timur.

Aplikasi eKatolik menyediakan bacaan Kitab Suci, renungan, doa-doa, teks Misa, teks lagi dan fitur lainnya.

Gagasan membuat aplikasi ini, yang tersedia di platform Android dan iOS, kembali pada pengalamannya pada 2013.

“Kala itu, saya kesusahan ketika mencari aplikasi Alkitab yang lengkap dengan Deuterokanonika,” katanya.

Dominicus, yang mempelajari dunia informasi dan teknologi, termasuk pemrograman kemudian memutuskan untuk membuatnya. Awalnya, fitur yang tersedia hanya Alkitab, kalender liturgi dan kumpulan doa.

Kala itu, hanya puluhan orang yang mengunduh aplikasi tersebut dan Dominicus tidak punya banyak waktu atau sumber daya untuk mengembangkannya, hingga seorang dermawan Katolik menghubunginya dan memintanya untuk mengembangkan aplikasi itu lebih lanjut.

“Ia menyumbangkan dana untuk menyewa programmer yang bisa melanjutkan aplikasi ini,” kata Dominicus.

Pada tahun 2014, fitur lain ditambahkan termasuk biografi orang-orang kudus, refleksi harian, jadwal Misa dan podcast yang disebut Daily Fresh Juice.

Podcast itu berisi refleksi harian yang disampaikan oleh para pastor, biarawati, dan kaum awam dari seluruh negeri dan luar negeri.

Setahun kemudian, lebih banyak fitur ditambahkan seperti teks dan lagu Misa, serta alarm untuk mengingatkan orang-orang tentang Doa Angelus dan Kerahiman Ilahi.

“Pada akhir 2018, eKatolik berubah tampilan menjadi lebih kekinian dan modern,” kata Dominicus.

Ia mengatakan bahwa ia bekerja sama dengan Lembaga Biblika Indonesia, yang memiliki terjemahan Alkitab yang paling banyak digunakan dan juga dengan penerbit buku untuk mendapatkan teks refleksi harian.

Selain itu, ia juga bekerja dengan Kompak, sebuah komunitas yang menyediakan layanan untuk para penyandang disabilitas.

“eKatolik mencoba untuk mendukung kebutuhan spiritual para penyandang disabilitas,” katanya.

Ia menjelaskan masih ada banyak hal untuk ditambahkan ke aplikasi di waktu mendatang, termasuk media sosial kerohanian dan fitur geografis yang menyediakan lokasi Misa terdekat.

“Yang paling utama adalah efektifitas dan kecepatan sistem yang saat ini sudah dikembangkan,” ujarnya.

Romo Kamilus Pantus, sekretaris eksekutif Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), mengatakan aplikasi ini sangat membantu untuk umat yang sebagian besar waktunya bergaul dengan internet.

“Potensi internet yang menjangkau orang tanpa dibatasi ruang dan waktu, menjadi lahan yang baik untuk berbagi ajaran iman kepada umat dan simpatisan Katolik,” katanya.

Bernardus Dominicus, perintis eKatolik mengatakan bangga karena talentanya bisa berguna bagi banyak orang dan bagi kemuliaan Tuhan.

Romo Antonius Haryanto, sekretaris eksekutif Komisi Kepemudaan KWI mengatakan, sudah sangat penting gereja mewartakan lewat media digital seperti aplikasi itu, karena hidup kita saat ini tidak lepas dari gadget.

“Lebih dari 51 persen orang Indonesia menggunakan internet dan setidaknya 40 persen generasi milenial sudah akrab dengan gadget sejak lahir,” katanya.

“Setiap hari mereka mencari jawaban atas berbagai pertanyaan, termasuk masalah iman, di internet,” katanya.

Keberhasilan membangun eKatolik membuat Dominicus mendapat banyak permintaan dari berbagai pihak untuk mengembangkan aplikasi Android lainnya.

Ia mengatakan, selalu bangga karena talentanya berguna bagi banyak orang dan bagi kemuliaan Tuhan.

“Dengan aplikasi ini, sekarang orang Katolik dapat dengan mudah mengakses Firman Tuhan, kapan saja dan di mana saja,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi