UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Vatikan Beri Penghargaan kepada Misionaris di Timor-Leste

Maret 25, 2019

Vatikan Beri Penghargaan kepada Misionaris di Timor-Leste

Uskup Virgilio do Carmo da Silva, uskup keuskupan Dili menyerahkan medali kepada Pastor Francisco dos Santos Fatima Barreto (tengah), Pastor Eligio Locatelli (kiri), dan Suster Maria Chioda FDCC di katedral Dili pada 19 Maret. (Foto: Thomas Ora/ucanews.com)

Vatikan telah memberikan medali penghargaan ‘Pro Ecclesia et Pontifice” kepada empat imam dan seorang biarawati atas pengabdian mereka yang luar biasa untuk Gereja Katolik di Timor-Leste.

Perwakilan Vatikan, Msgr Marco Sprizzi dan Uskup Dili Mgr Virgillio do Carmo da Silva memberikan Medali Kehormatan kepada mereka. Medali kehormatan ini diberikan oleh Bapa Suci kepada orang awam dan klerus atas kontribusi mereka yang luar biasa bagi Gereja.

Para penerima penghargaan itu adalah Pastor Francisco dos Santos Fatima Barreto dan Pastor Francisco Tavares (keduanya imam diosesan Timor Leste), Pastor Eligio Locatelli, SDB asal Italia, Pastor Jose Alves Martins SJ asal Portugal, dan Suster Maria Chioda FDCC asal Italia.

“Mereka telah mendedikasikan hidup mereka untuk Gereja selama beberapa dekade,” kata Msgr Sprizzi ketika ia dan Uskup Virgilio menyerahkan medali tersebut di Katedral Maria Dikandung Tanpa Noda di di Dili pada 19 Maret.

Paus Leo XIII memperkenalkan penghargaan Pro Eclesia et Pontifice Cross itu tahun 1888 untuk menghormati orang-orang yang berpartisipasi dalam promosi yubileum emasnya. Penghargaan itu kemudian menjadi tanda kehormatan permanen kepausan.

Msgr Sprizzi mengatakan bahwa penghargaan tersebut diberikan supaya semua orang tetap percaya pada Gereja Katolik dan dengan setia mengikuti Kristus.

Pastor Barreto, yang ditahbiskan tahun 1977 – dua tahun setelah Indonesia mengambil alih Timor-Leste – mengatakan penghargaan itu adalah sebuah kejutan.

“Saya hanya bekerja sesuai dengan Injil, meskipun hal itu penuh resiko bagi kehidupan saya,” kata Pastor Barreto yang mengalami kesulitan ketika ia menyampaikan kepada TNI agar berhenti membunuh orang muda Timor-leste, serta berhenti melakukan tindakan represif kepada warga yang sudah terjadi selama tahun-tahun sebelum kemerdekaan tahun 2002.

“Penghargaan ini adalah sebuah kejutan dan bagi saya, ini menunjukkan bahwa  Vatikan memperhatikan umat Katolik di Timor-Leste,” kata Pastor Barreto yang merupakan pembibing rohani Rumah Sakit Guido Valdares dan  Penjara Becora, keduanya di Dili.

Suster Chioda, 79, yang tiba di Timor-Leste dari Italia ketika ia berusia  27 tahun, mengatakan bahwa ia menghargai pengakuan Paus Fransiskus kepada para imam dan biarawati di negara itu.

Segera setelah tiba di distrik Manatuto tahun 1966, dia berperan penting dalam mendirikan Kolese Canossian di mana dia mengajarkan berbagai keterampilan kepada kaum wanita seperti menjahit, menyulam, dan keterampilan pastoral lainnya.

“Itu tidak mudah karena kami mulai dari nol,” katanya kepada ucanews.com pada 22 Maret.

Kondisi tambah memburuk setelah diambil alih oleh Indonesia tahun 1975, tetapi ia dan rekan-rekannya berhasil mendirikan kolese serupa di distrik lain.

Estanislau de Sousa Fatima, yang bekerja di Kolese Fatumaca yang didirikan Pastor Locatelli di distrik Baucau, 149 kilometer timur Dili, mengatakan imam Italia itu layak mendapat penghargaan itu.

Pastor Locatelli tiba di Timor-Leste tahun 1964 ketika masih di bawah pemerintahan kolonial Portugis, dan Sekolah Tinggi Fatumaca adalah salah satu dari usaha pertamanya.

Banyak imam Timor-Leste lulus dari perguruan tinggi ini termasuk Peraih Nobel Perdamaian Uskup Emeritus Carlos Filipe Ximenes Belo dan Uskup Dili saat ini, Mgr. Virglio do Carmo da Silva.

Menurut Fatima, Pastor Locatelli berusia 82 itu, telah bekerja tak kenal lelah untuk membantu rakyat Timor-Leste sejak kedatangannya lebih dari lima puluh tahun lalu.

“Ia membantu para petani, seperti memberikan mereka traktor untuk membajak tanah di mana mereka bisa menanam padi, jagung dan tanaman lainnya,” kata Fatima.

“Ia secara rutin mengunjungi umat dengan menunggang kuda, bahkan hingga hari ini,” katanya.

Pastor Martins tiba di Timor-Leste tahun 1974 dan menggunakan banyak waktu dengan membantu memperbaiki standard pendidikan di negara itu. Bersama rekan-rekan imam Yesuit, Martins ikut mendirikan dan membesarkan sekolah milik Serikat Yesus di Timor-Leste.

Saat menjadi pengajar di seminari menengah di Timor-Leste, ia pernah mendapat ancaman dari militer Indonesia.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi