UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Biarawati PMY Dedikasikan Hidupnya Membahagiakan Para Lansia

Maret 27, 2019

Biarawati PMY Dedikasikan Hidupnya Membahagiakan  Para Lansia

Suster Veronica Indrawati mengatakan para lanais memerlukan banyak Kasih sayang.

Suster Veronica Indrawati, 71,  tidak memikirkan usianya yang semakin tua dan fisiknya yang semakin lemah.

Dengan berjalan menggunakan tongkat, ia terus membantu puluhan opa-oma dari berbagai latar belakang yang tinggal di sebuah panti wreda yang ia pimpin di Purwokerto,  Jawa Tengah.

Suster Indrawati dari Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yoseph (PMY) mengelola Panti Wreda Catur Nugraha lebih dari satu dekade  lalu untuk memberikan cintanya  dan membantu para lasia yang dilantarkan oleh keluarga mereka.

Dari hanya beberapa orang, sekarang menjadi 52 lansia yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. 

“Trauma akibat ditolak keluarga mereka merupakan sebuah beban yang berat yang harus dilalui di masa-masa akhir kehidupan mereka,” kata Suster Indrawati.

“Semua mereka membutuhkan kasih sayang.”

Ia mengatakan pelayanan tersebut merupakan misinya untuk membuat mereka bahagia bahkan untuk memenuhi kebutuhan mereka setiap hari ia harus mengetuk hati orang untuk mendukungnya.

“Sejumlah orang telah membantu,” katanya, seraya menambahkan ia secara aktif mencari donasi dan relawan untuk membatu panti itu untuk menyediakan para opa-oma yang membutukan banyak perhatian dan pendampingan.

Memperhatikan orang-orang seperti  mereka adalah tujuan sebelum ia menjadi biarawati, kata Suster Indrawati.

“Sejak bergabung dengan kongregasi PMY tahun 1971, saya pernah merawat orang-orang terlantar terutama lansia,” katanya.

Sebelum melayani panti itu, Suster Indrawati bekerja di sejumlah panti wreda yang dikelola oleh Yayasan Sosial Soegijapranata, nama uskup pertama Indonedia.

Ini memberikan pengalaman yang tak ternilai dalam merawat para lansia dan membuat mereka bahagia.

Untuk mengatasi kebosanan dan kesepian, ia mengadakan berbagai kegiatan seperti menjahit, kerajinan tangan, membuat rosario, memasak, olahraga, berdoa, dan membuat souvenir. 

Ia mengatakan banyak keluarga atau kerabat menitipkan orangtua mereka  dan tidak pernah kembali untuk membesuk dan bahkan telepon.

“Itu menyedihkan ketika sejumlah lansia di sini menyebut nama anak-anak mereka, tapi tak satu pun yang datang melihat mereka dan bahkan hingga mereka meninggal,”  katanya.

Ia mengatakan sejak panti itu didirikan sejak 2006, 30 orang telah dimakamkan di pemakaman  panti itu.

“Bahkan ketika mereka meninggal, tak satu pun dari anak-anak mereka datang melihat,” katanya.

Selain membantu para lansia di panti itu, Suster Indrawati, juga secara rutin mengunjungi para lansia di rumah-rumah mereka untuk berdoa dan bercerita dengan mereka.

Seorang wanita menjahit pakaian di Panti Wreda Catur Nugraha, rumah bagi para lansia di Purwokerto, Jawa Tengah. 


  
Membantu para janda dan difabel

Suster Indrawati mengatakan selain membantu para opa-oma, ia  juga memberdayakan  para janda korban G30S/PKI selama  15 tahun, yang mana saat itu lebih dari setengah juta orang tewas dibantai.

Ia mengatakan ia dan biarawati lain dari tarekatnya membantu 30 janda tersebut dari tahun 1979 hingga 1993 di Semarang, Jawa Tengah, dengan mengajarkan mereka keterampilan, seperti menjahit dan kerajinan tangan.

Kondisi para janda saat itu menemukan diri mereka  tidak jauh berbeda dengan para lansia di panti itu saat ini.

Pada dasarnya mereka semua adalah korban dari diskriminasi dan marjinalisasi, katanya.

Ia mengatakan ia membantu para janda karena pada saat itu tidak hanya lansia tetapi juga dikucilkan oleh masyarakat. Mereka tidak bisa memperoleh pekerjaan karena mereka dituduh terkait dengan PKI pada saat itu dianggap tabu orang masyarakat, kata Suster Indrawati.

Para janda tersebut  mendapat dana untuk menghidupkan keluarga mereka dengan menjual hasil jahitan dan kerajinan tangan mereka. Cara yang sama dilakukan di panti itu tapi hanya mengisi waktu senggang.

Suster Veronica Indrawati (kiri) foto bersama dengan seorang oma di Panti Wreda Catur Nughara di Purwokerto, Jawa Tengah.



Pengakuan

Upayanya untuk memperhatikan dan melayani orang yang terlantar dengan tidak melihat latar belakang mereka baik etnis dan agama mendapatkan pengakuan.

Tahun 2015, Suster Indrawati menerima penghargaan   Srikandi Pemuda Pancasila, sebuah kelompok wanita dari Pemuda Pancasila.

Organisasi itu mengatakan penghargaan itu diberikan kepada biarawati itu atas dedikasinya dalam membantu orang yang nasibnya kurang beruntung.

Romo Valentinus Sumanto, pastor kepala Paroki St Yoseph Purwokerto mengatakan biarawati itu memiliki karunia khusus untuk membuat orang merasa bahwa mereka dicintai.

Ia mengatakan umat Katolik dari parokinya sering membantu panti itu secara fonansial dan juga makanan.  

Mia, 64,  seorang janda yang tinggal di panti itu selama tiga tahun, mengatakan ia merasa senang diterima di panti itu. Sebelumnya, ia pernah tinggal di empat panti wreda tapi tidak cocok dan hanya bertahan beberapa bulan lalu keluar.

“Suster [Indrawati] sungguh luar biasa  memperhatikan dan melayani kami meskipun usiannya lebih tua dari kami,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi