UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Imam Filipina Dorong Orang Muda untuk ‘Berkorban’ Selama Prapaskah

Maret 28, 2019

Imam Filipina Dorong Orang Muda untuk ‘Berkorban’ Selama Prapaskah

Orang muda Katolik Filipina membawakan tablo tentang Kisah Sengsara Yesus Kristus. (Foto: Basilio Sepe)

Praktek-praktek tradisi keagamaan mungkin kehilangan kekuatan di kalangan orang-orang Filipina, namun masih bisa menjadi harapan di kalangan orang muda.

Di kalangan generasi tua, masa Prapaskah adalah sebuah masa untuk berpuasa dan bertobat, bukan hanya selama sepekan, tapi sepanjang  40 hari. 

Namun,  dengan berjalannya waktu, praktek dan tradisi itu ditentang dan nampaknya akan punah.

Sedikit mengejutkan, karena sejumlah orang muda hari ini bertanya, “Apa yang Anda korbankan selama Prapaskah?” 

Percakapan terjadi di kalang kaum milenial yang berbicara tentang berhenti minum soda, menabung, dan bahkan memberikan tips tambahan untuk mengantar orang dan para pengemudi.

Banyak orang berupaya untuk tidak makan daging pada hari Jumat sementara yang lain berjanji untuk berjalan lebih banyak setiap hari.

Apapun narasi mereka, orang muda Katolik  Filipina berbicara tentang  “perubahan” hari ini, dan mereka sedang menemukan  harapan yang mereka sebut sebagai sebuah “redefinisi dari arti pengorbanan” tersebut.

Pastor Luis Lorenzo, anggota  Legio Kristus, mengatakan bahwa dibutuhkan mata yang segar untuk melihat praktek iman seseorang.

“Agar mampu mengikuti Kristus lebih baik, saya harus mencintai diri saya,” kata Pastor Lorenzo yang baru setahun menjadi imam.

Ia mengatakan “pertobatan” muncul di akhir dari semua  “pengorbanan … ketika Minggu Paskah tiba.”

“Saya akan menjadi pribadi yang lebih baik, tapi itu tidak datang sekarang.  Itu datang di akhir kesengsaraan  Yesus’. Itulah makna Prapaskah,” katanya.

“Seseorang akan meninggalkan sesuatu untuk mengikuti kisah pengorbanan Yesus,” katanya, seraya menambahkan bahwa “pengorbanan” tidak berarti membuat rasa sakit pada diri sendiri.

“Pengorbanan akan membantu Anda mencintai lebih banyak,” katanya, dan menambahkan bahwa Yesus menderita  “bukan karena ia ingin dipaku atau dimahkotai…. Yesus menderita karena ia mencintai.”

Imam itu menjelaskan bahwa pengorbanan umat Katolik telah berkembang selama bertahun-tahun, khususnya di kalangan orang muda.

Menurut imam itu, daripada bertanya tentang apa yang harus dikorbankan selama Prapaskah, seharusnya orang harus bertanya apakah yang sudah dilakukan sudah mengubah hidup mereka.

“Kalau apa yang biasa dilakukan membuat kita lebih baik, maka tidak perlu mengorbankannya.”

“Apakah Anda minum kopi? Pikirkan ini. Kalau kopi membuatmu menjadi orang yang lebih baik, lebih bersemangat untuk bekerja, maka tidak perlu mengorbankannya.”

Kini Pastor Lorenzo bekerja membantu para siswa sekolah menengah dan perguruan tinggi sebagai direktur Mission Youth Philippines.

Karyanya termasuk memberikan orang muda kesempatan untuk belajar dari iman orang miskin dan berbagi iman mereka di kalangan mereka.”

“Itu akan memberikan seseorang kesempatan untuk bertumbuh dalam sikap belarasa, cinta kasih dan pelayanan terhadap sesama,” katanya.

Dalam interaksinya dengan orang muda, ia mengingatkan mereka untuk “peduli kepada orang lain” dan “melayani dengan lebih baik, mencintai, (dan) peduli kepada sesama.”

Imam itu berharap bahwa orang muda akan memahami Prapaskah tidak berakhir pada Jumat Agung, seraya mengatakan bahwa “keindahan pengorbanan Yesus ketika ia bangkit lagi.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi