UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

MA Tolak Upaya Kasasi Meliana Terkait Kasus Penodaan Agama

April 10, 2019

MA Tolak Upaya Kasasi Meliana Terkait Kasus Penodaan Agama

Dalam foto pada 21 Agustus 2018 ini, Meliana, seorang wanita beragama Buddha sedang mengikuti persidangan di pengadilan di Medan, Sumatera Utara. (Foto milik Ranto Sibarani)

Mahkamah Agung (MA) mengumumkan penolakan terhadap upaya kasasi oleh Meliana, seorang perempuan Agama Budha yang dipenjara terkait kasus penodaan agama.

Dalam putusannya yang dipublikasi pada 8 April, MA menyebut permintaan kasasi ibu 44 tahun itu yang dipenjara 18 bulan oleh pengadilan di Medan, Sumatera Utara pada Agustus tahun lalu ditolak dan karena itu ia tetap menjalani sisa hukuman.

Ranto Sibarani, pengacara Meliana mengatakan kekecewaan pada putusan itu dan menyebutnya menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum dan toleransi beragama di Indonesia.

“Awalnya kami berharap MA atau hakim kasasi bisa lebih obyektif memeriksa perkara ini, ternyata tidak,” katanya kepada ucanews.com.

Ranto menilai, “putusan itu justru akan melegitimasi hoaks tentang Meliana, padahal tidak ada bukti Meliana melakukan apa yang dituduhkan.

Meliana, ibu empat anak dinyatakan bersalah karena dinilai melanggar pasal 156A KUHP yaitu dengan sengaja menunjukkan perasaan atau melakukan perbuatan di depan umum, yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Kejadian bermula dari pernyataannya kepada tetangganya di Kabupaten Tanjung Balai pada 2016 bahwa volume suara dari masjid di dekat rumahnya terlalu keras. 

Keluhan itu kemudian menyebar, termasuk ke media sosial, di mana kemudian hal itu diplintir dan Meliana dikatakan meminta agar adzan ditiadakan.

Tidak lama setelah isu itu meluas, sepekan kemudian massa mengamuk dan membakar sedikitnya 14 kuil Budha dan rumah Meliana dirusak.

Para pelaku dipenjara antara satu sampai lima bulan.

Ranto menyebut, Meliana adalah korban hoaks. “Ia malah dipenjara karena hoaks itu,” tegasnya.

Ia mengatakan, dirinya akan membahas langkah selanjutnya dengan Meliana.

Sementara itu, Surya Tjandra, dosen hukum dan juru bicara Partai Solidaritas Indonesia mengecam putusan itu dan menyebut Meliana adalah “korban dari tindakan intoleransi, karena itu seharusnya ia dibela bukan malah dihukum.”

Ia pun mengatakan mereka akan memintanya mengajukan cuti bersyarat, yang memberi kesempatan bagi Meliana untuk bebas bersyarat setelah menjalani dua per tiga masa hukumannya pada bulan depan.

“Kami siap menjadi penjamin dengan memberikan jaminan moral dan hukum baginya,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Kasus ini menjadi salah satu kasus penodaan agama yang mendapat sorotan luas dari berbagai pihak.

Dalam laporannya, Setara Institute for Democracy and Peace menyebut, kasus penodaan agama di Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat tahun lalu.

Mereka mencatat 25 kasus penodaan agama pada 2018, naik drastis dari 9 kasus pada 2017.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi