UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Mantan Anggota Parlemen Banglades Didakwa Membunuh Tokoh Katolik

April 11, 2019

Mantan Anggota Parlemen Banglades Didakwa Membunuh Tokoh Katolik

Abul Kalam Azad, mantan anggota parlemen dari Partai Awami League yang berkuasa di Banglades. Azad dan 12 orang lainnya didakwa melakukan pembunuhan. (ucanews.com)

Seorang mantan anggota parlemen di Banglades didakwa membunuh seorang tokoh warga suku beragama Katolik yang tewas lima tahun yang lalu.

Pada 9 April, Abul Kalam Azad dari Partai Awami League di daerah pemilihan Govindaganj di Banglades bagian utara didakwa bersama 12 orang lainnya membunuh Ovidio Marandy.

Saudara Ovidio, Pastor Samson Marandy dari Keuskupan Danajpur, melaporkan kasus itu atas nama keluarganya. Anggota keluarga telah berusaha melaporkan kasus itu beberapa tahun lalu.

Partha Bhadra, seorang hakim senior, menerima laporan tersebut dan menetapkan 12 Juni sebagai hari sidang pertama.

Sebelum tewas, Ovidio – yang saat itu berusia 32 tahun – adalah asisten komisioner bidang pertanahan di Govindaganj, Distrik Gaibandha.

Ia ditemukan tewas dan sepeda motornya mengalami kerusakan sebagian di sebuah jalan desa di wilayah itu pada 11 Januari 2014. Ia dilaporkan sedang mengendarai sepeda motor menuju kantornya setelah menghabiskan akhir pekan di rumahnya di Distrik Naogaon.

Otoritas setempat menyatakan bahwa ia tewas akibat kecelakaan lalu lintas dan buru-buru memakamkan jenasahnya. Enam bulan kemudian, sebuah pengadilan memerintahkan penggalian terhadap jenasahnya untuk keperluan uji post-mortem

Laporan lanjutan belum disampaikan kepada publik tetapi Jahidul Islam, seorang petugas di Kantor Polisi Govindaganj, mengatakan kepada ucanews.com bahwa laporan lanjutan itu memperkuat klaim bahwa kematian Ovidio disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.

“Polisi juga mencatat bahwa kasus itu adalah RTA (road traffic accident) dan para detektif juga mengidentifikasinya sebagai sebuah kecelakaan,” katanya.

Namun polisi mengatakan mereka masih menyelidiki kasus itu.

Dugaan perencanaan pembunuhan

Dalam persidangan, ada dugaan bahwa terdakwa merencanakan dan membunuh Ovidio karena ia melawan kegiatan ilegal yang diduga dilakukan oleh Azab dan orang-orangnya.

Dari berbagai kegiatan kriminal yang diduga melibatkan Azad, kata keluarga Ovidio, salah satunya adalah perampasan lahan milik warga suku setempat.

“Azad meneror wilayah itu sejak lama,” kata Romo Samson Marandy kepada ucanews.com

“Ia merampas dan menyewakan lahan milik orang miskin termasuk warga suku plus lahan bebas pajak milik pemerintah,” lanjutnya.

Azad juga diduga terlibat dalam pengusiran yang disertai kekerasan terhadap ribuan umat Kristen Suku Santal dari lahan sengketa di wilayah itu pada November 2016.

Menurut imam itu, siapa pun yang melawan Azad, nyawanya terancam. “Saudara saya bertikai dengannya terkait isu sengketa lahan, maka Azad merencanakan dan membunuhnya,” katanya.

Azad kemudian menggunakan posisi politiknya untuk membuat kematian Ovidio seperti kecelakaan lalu lintas dan keluarganya tidak diperkenankan mencari keadilan lewat pengadilan, lanjutnya.

“Sekarang ia tidak punya kekuasaan karena ia bukan lagi anggota parlemen. Partainya tidak memberinya kesempatan untuk mencalonkan diri lagi pada pemilihan lalu, maka kita sekarang bisa mencari keadilan,” katanya.

Azad menjadi anggota parlemen pada pemilihan umum 2014 tetapi gagal mencalonkan diri kembali pada pemilihan nasional 30 Desember lalu.

Ia membantah melakukan apa yang dituduhkan dan menyebutnya sebagai “konspirasi politik.”

“Ini balas dendam politik. Ovidio Marandy tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas dan bukti polisi yang hampir selesai mendukungnya. Saya terkejut pengadilan menerima kasus baru dalam hal ini,” kata Azad kepada Bengali Daily Samakal pada 9 April.

Uskup Dinajpur Mgr Sebastian Tudu mengatakan Gereja akan mendukung keluarga Ovidio dalam mencari keadilan.

“Kasus itu sudah lama ditunda. Ia adalah mantan anggota parlemen dan mantan politikus yang berpengaruh, maka perlu waktu untuk menumbuhkan keberanian untuk menuntut dia,” kata Mgr Tudu.

“Gereja menyuarakan keadilan, begitu pun Ovidio Marandy,” lanjutnya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi