UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Franco Mulakkal Hadapi Dakwaan Terkait Pemerkosaan Biarawati

April 11, 2019

Uskup Franco Mulakkal Hadapi Dakwaan Terkait Pemerkosaan Biarawati

Para suster berdemonstrasi di Kochi, Kerala, pada 11 September 2018, mendesak adanya tindakan terhadap Uskup Franco Mulakkal setelah ia dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap seorang suster yang tergabung dalam Kongregasi Misionaris Yesus di negara bagian India selatan. (Foto oleh IANS)

Polisi telah mendakwa Uskup Franco Mulakkal dari Jalandhar memperkosa seorang suster beberapa kali, sembilan bulan setelah dia diadukan di negara bagian Kerala, India selatan.

Tim polisi yang menyelidiki tuduhan itu mengajukan tuntutan pada 9 April di hadapan hakim di distrik Kottayam, tempat biara suster itu berada.

Dokumen setebal 2.000 halaman itu mencantumkan sejumlah dakwaaan seperti pengurungan, pemerkosaan, menyebabkan luka yang parah selama pemerkosaan, perlakuan yang tidak wajar dan intimidasi kriminal.

Jika dinyatakan bersalah, uskup menghadapi hukuman penjara minimal 10 tahun hingga seumur hidup.

Dokumen dakwaan itu juga mencantumkan 83 saksi, 40 di antaranya pemimpin Gereja Katolik termasuk Kardinal George Alencherry, uskup agung utama dan kepala Gereja Siro-Malabar.

Tiga uskup – Joseph Kallarangatt dari Pala, Kurian Valiakandathil dari Bhagalpur dan Sebastian Vadakkel dari Ujjain – dan 25 biarawati serta 11 imam juga disebut sebagai saksi.

Para biarawati, yang telah mengkampanyekan keadilan bagi korban, menyebut perkembangan ini sebagai titik balik dalam kasus yang telah menarik perhatian internasional ini.

“Kami melewati satu langkah besar dalam perjuangan untuk memastikan keadilan bagi saudari kami,” kata Suster Anupama Kelamangalathuveli, salah satu pendukung suster pelapor.

Suster yang diduga sebagai korban adalah mantan superior jenderal Misionaris Yesus, sebuah kongregasi diosesan yang berada di bawah perlindungan Uskup Mulakkal.

Suster itu mengadu kepada polisi pada 27 Juni tahun lalu bahwa Uskup Mulakkal telah melakukan pelecehan seksual 13 kali dari 2014 hingga 2016 ketika mengunjungi biara di desa Kuravilangad di distrik Kottayam.

Suster Anupama dan empat suster lainnya mendukung mantan atasan mereka. Mereka juga bergabung dengan protes publik yang diselenggarakan oleh forum Save Our Sisters (SOS), yang dibentuk oleh sekelompok aktivis sosial.

Setelah protes publik, polisi menangkap Uskup Mulakkal pada 21 September dan menempatkannya dalam tahanan peradilan. Dia kemudian dibebaskan dengan jaminan oleh Pengadilan Tinggi Kerala. Dia selalu bersikukuh mengaku tidak bersalah.

Vatikan memindahkannya dari tanggung jawab administratifnya dan menunjuk seorang administrator. Namun uskup itu terus tinggal di rumah uskup di Jalandhar di negara bagian Punjab utara.

“Kami tahu uskup itu kuat dan berpengaruh dan dapat melakukan apa saja untuk menghentikan kasus itu,” kata Suster Anupama kepada ucanews.com.

“Kami mengandalkan keadilan Tuhan yang menopang kami sepanjang perjuangan untuk keadilan ini,” katanya, seraya menambahkan bahwa hierarki Katolik yang kuat “akan melakukan segalanya untuk mempengaruhi para saksi.”

Cara hierarki menanggapi kasus ini akan menentukan masa depan Gereja Katolik di India, kata  Shaiju Antony, dari SOS.

“Orang-orang di India, terlepas dari agamanya, percaya para pastor dan biarawati Katolik. Jika seorang pastor atau biarawati adalah saksi dalam suatu kasus, mereka percaya mereka akan mengatakan yang sebenarnya dan korban akan mendapatkan keadilan. Tetapi dalam kasus ini situasinya sama sekali berbeda, ”katanya kepada ucanews.com.

Antony mengatakan polisi memiliki pernyataan saksi yang direkam dalam bentuk video seandainya ada tekanan dari pimpinan gereja.

Pastor Augustine Vattoli, yang dipaksa untuk berhenti dari keterlibatannya d SOS setelah atasannya menghukumnya, melihat perkembangan terakhir sebagai hal yang “sangat positif.”

“Ini akan membuka jalan bagi pembaruan Gereja Katolik di negara ini karena memberikan pesan bahwa, betapapun kuatnya seseorang, hukum akan mengambil jalannya sendiri,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi