UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Komitmen Romo Magnis Bagi Demokrasi dan Pluralisme

April 15, 2019

Komitmen Romo Magnis Bagi Demokrasi dan Pluralisme

Romo Franz Magnis Suseno, 82, mengatakan dalam membangun hubungan dengan umat beragama lain, penting bagi orang Kristen untuk peka dan menghindari upaya menjadikan diri superior. (Siktus Harson/ucanews.com)

Pada Maret lalu, Romo Franz Magnis Suseno SJ memantik perdebatan publik di tengah persiapan Indonesia menyambut Pemilu serentak, 17 April.

Ia menyebut orang-orang yang akan golput dalam pesta demokrasi itu sebagai stupid, benalu dan psyco-freak. Komentar pedasnya itu muncul dalam sebuah artikel di Harian Kompas.

Banyak yang mengkritiknya karena pernyataan itu, beberapa bahkan mengiriminya surat protes, meski banyak juga yang mendukungnya.

Imam kelahiran Jerman itu, seorang guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, telah meminta maaf atas kata-katanya yang ia sebut terlalu keras, tetapi berpendapat bahwa artikel itu adalah panggilan bagi semua warga negara untuk memelihara demokrasi dan mencegah kandidat terburuk yang akan terpilih.

“Kita sudah berjuang dengan susah payah untuk demokrasi yang baru bisa dicapai 50 tahun setelah kemerdekaan,” kata Romo Magnis kepada ucanews.com dalam sebuah wawancara di ruangannya di STF.

“Sekarang, kita mesti menjaganya,” tambahnya.

Imam berusia 82 tahun itu yang lahir dalam keluarga bangsawan dikenal luas sebagai filsuf, pembela hak asasi manusia, dan budayawan, dengan bidang keahlian utamanya adalah budaya Jawa.

Dia telah menulis 41 buku tentang filsafat, etika politik, dan agama Kristen, serta sering tampil di televisi.

Ia merupakan saksi yang melihat pergeseran sistem politik Indonesia dari era orde baru di bahwa Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun, hingga beralih ke reformasi pada 1998, di mana keran demokrasi dibuka.

“Adalah kewajiban moral saya untuk berbicara ketika demokrasi terancam,” katanya.

Ia optimis Indonesia akan tetap menjadi negara demokrasi terdepan di Asia Tenggara. Namun, ia menyadari bahwa ancaman terhadap ideologi itu selalu ada, terutama karena radikalisme agama yang terus membuntuti perjalanan bangsa Indonesia.

Jika isu agama terus-menerus dimainkan, kata dia, Indonesia akan mungkin jatuh kembali ke rezim otoriter seperti di bawah Soeharto.

“Bagi banyak orang, agama lebih penting dari demokrasi,” katanya.

Berelasi dengan Muslim

Salah satu cara untuk mencegah penyalahgunaan agama dalam politik adalah membangun jembatan dengan umat beragama lain, terutama dengan mayoritas Muslim, katanya.

Magnis, yang telah menjadi warga negara Indonesia pada tahun 197 telah melibatkan diri dalam dialog dengan berbagai kelompok Muslim.

“Saya memakai kesempatan perjumpaan seperti itu untuk mengatakan apa yang saya harapkan dari mereka,” katanya.

Magnis adalah kawan akrab Abdurahman Wahid atau Gusdur, tokoh Muslim yang sangat disegani yang menjadi presiden keempat dan Nurcholish Majid yang dikenal sebagai tokoh Muslim pluralis.

Mengadakan dialog dengan kelompok ekstrim juga penting, katanya, terutama ketika konflik terjadi.

Ia beberapa kali bertemu dengan tokoh Front Pembela Islam, Muhammad Rizieq Shihab yang saat ini sedang berada di Arab Saudi, membicarakan masalah pelarangan aktivitas beribadah di sejumlah Gereja di Jakarta.

Pada tahun 2011, ia pernah bertemu dengan Rizieq, membicarakan masalah pembakaran Al Quran di Florida, Amerika Serikat oleh seorang pendeta, di mana waktu itu kelompok Muslim di seluruh dunia marah. 

Menyusul pembicaraan itu, Rizieq menyatakan meski darah pembakar Al Quran adalah halal, namun umat Kristiani di Indonesia tidak memiliki kaitannya dengan pelaku itu.

Dalam membangun hubungan dengan umat beragama lain, jelas Magnis, penting bagi orang Kristen untuk peka dan menghindari upaya menjadikan diri superior.

Karena itu, ia menyatakan ketidaksetujuan dengan pembangunan gereja yang megah, juga patung-patung berukuran besar, terutama di daerah-daerah di mana Kristen adalah minoritas kecil.

“Lebih baik kita low profile, daripada mendirikan sesuatu yang mewah,” katanya.

Salah satu yang pernah ia kritik keras adalah patung Bunda Maria setinggi 46 meter di Ambarawa, Jawa Tengah yang didirikan pada 2015. Kritiknya itu pernah dimuat di majalah Mingguan Katolik, HIDUP.

“Saya anggap (pendirian patung itu) tidak tepat dan menyesalkan uskup memberkati patung itu. Harusnya tidak,” katanya, menyinggung almarhum Uskup Agung Semarang, Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta .

Magnis menjelaskan, kritiknya itu merujuk pada sebuah studi yang menyatakan bahwa Islam yang tradisional akan toleran apabila umat yang berbeda mencocokan diri dalam budaya umum, yang bagi umat Islam adalah budaya mereka juga.

“Di sini, kita tidak perlu menciptakan budaya sendiri, yang membuat mereka merasa teralienasi.” katanya.

Magnis juga mengingatkan,  umat Kristen perlu mengatasi apa yang disebutnya sebagai minority complex, yang tidak mau disebut sebagai minoritas. 

Memang, kata dia, mesti disyukuri bahwa dalam konstitusi tidak ada istilah mayoritas-minoritas. 

“Namun, secara sosial dan kultural itu kenyataan itu ada dan sebaiknya disadari, tidak untuk dilumpuhkan.”

Hindari Kristenisasi Agresif

Romo Magnis juga kritis terhadap kelompok Kristen yang mengukur kesuksesan dengan banyaknya orang yang dibabtis.

“Misi kita adalah membawa kebaikan Kristus ke tengah masyarakat. Biarkan mereka sendiri yang memutuskan apakah akan bergabung dengan kita,” katanya.

Dia mengatakan Indonesia akan tetap menjadi negara Islam, dan apa yang dapat dilakukan orang Kristen adalah membantu membangun sistem demokrasi yang lebih baik, di mana kebebasan beragama ditegakkan dan hubungan antaragama terjalin dengan baik.

Romo Antonius Benny Sustyo Pr, menyebut Magnis adalah contoh orang Katolik yang mau terbuka dengan dunia luar.

“Berbagai bentuk upayanya menyumbangkan gagasan bagi bangsa ini menjadi kekayaan yang tidak ternilai harganya,” katanya.

Achmad Nurcholish, seorang intelektual Muslim terkemuka, mengatakan Magnis telah banyak berkontribusi pada kemajuan umat manusia di Indonesia, terutama melalui tulisan-tulisannya yang memperkaya perspektif.

Dalam hal relasi antaragama, menurut Nurcholish, Magnis berupaya memulihkan agama sebagai sumber kebajikan yang membuat penganutnya mencintai orang lain, terlepas dari latar belakang etnis atau agama.

Penghargaan

Komitmen Romo Maganis mendapat banyak pengakuan dan membuatnya ia menerima sejumlah penghargaan.

Pada 2015, ia menerima penghargaan dari Presiden Indonesia Joko Widodo atas dedikasinya pada bidang kebudayaan dan filsafat.

Setahun kemudian, ia memenangkan penghargaan interonasional Internasional Matteo Ricci atas komitmennya untuk mempromosikan dialog antaragama dari Universita Cattolica del Sacro Cuore (Universitas Katolik Hati Kudus) di Milan.

Namun, di antara berbagai penghargaan yang ia peroleh, yang paling berkesan adalah apa yang disebut sebagai “Mud Award,” yang diberikan oleh warga di Jawa Timur yang tanah dan rumahnya tenggelam akibat aktivitas perusahaan milik Aburizal Bakrie, seorang pengusaha dan politisi.

Penghargaan dalam bentuk lukisan itu diterimanya setelah ia menolak menerima Bakrie Award pada 2007 – yang diberikan oleh keluarga Aburizal Bakrie – untuk menunjukkan solidaritas kepada korban lumpur.

“Saya sangat senang dengan penghargaan itu. Saya akan selalu menghargainya,” katanya.

Ditulis oleh Ryan Dagur

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi