UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pater Neles Tebay, Pejuang Dialog Jakarta-Papua Tutup Usia

April 15, 2019

Pater Neles Tebay, Pejuang Dialog Jakarta-Papua Tutup Usia

Pastor Neles Tebay, Pr meninggal dunia pada 14 April di RS Sint Carolus Jakarta dalam usia 54 tahun karena penyakit kanker darah. Sejak tahun 2010, ia membentuk Jaringan Damai Papua, sebuah kelompok yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat yang bersuara dan berupaya untuk mencari jalan damai bagi penyelesian konflik Papua. (Ryan Dagur/ucanews.com)

Duka mendalam menyelimuti warga Papua atas meninggalnya Pastor Neles Kebadabi Tebay, imam yang berjuang tanpa henti bagi terwujudnya dialog damai antara pemerintah Indonesia dan penduduk Papua demi mengakhiri konflik berkepanjangan di daerah paling timur tersebut.

Pastor Neles meninggal dunia pada 14 April di Rumah Sakit Sint Carolus Jakarta dalam usia 54 tahun karena penyakit kanker darah.

Ungkapan duka cita disampaikan berbagai pihak, termasuk dari Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang mengirim karangan bunga ke ruang jenazah di rumah duka Sint Carolus.

Imam yang juga Ketua Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Abepura itu dikenal luas karena komitmen bagi penyelesaian masalah Papua.

Sejak tahun 2010, ia membentuk Jaringan Damai Papua, sebuah kelompok yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat yang bersuara dan berupaya untuk mencari jalan damai bagi penyelesian konflik Papua.

Pada 15 Agustus 2017, Pater Neles ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai tokoh kunci dialog Papua-Jakarta, saat ia bergabung dengan tokoh-tokoh Papua lain bertemu Jokowi di Jakarta.

Selain itu, Pater Neles produktif menulis artikel bertema perdamaian di media-media terkemuka di Indonesia dan media internasional.

Pastor Neles meninggal dunia pada 14 April di Rumah Sakit Sint Carolus Jakarta dalam usia 54 tahun karena penyakit kanker darah. Ungkapan duka cita disampaikan berbagai pihak, termasuk dari Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang mengirim karangan bunga. (Ryan Dagur)

Ia juga menulis banyak buku, beberapa di antaranya adalah “Dialog Jakarta-Papua: sebuah Perspektif Papua”, “Angkat Pena demi Dialog Papua” dan Reconciliation and Peace: Interfaith Endeavour for Peace in West Papua.

Pater John Djonga, aktivis hak asasi manusia di Papua mengatakan, kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi warga Papua.

“Ia telah berjuang tanpa henti untuk mewujudkan solusi bermartabat bagi masalah Papua,” kata Pater John kepada ucanews.com pada 15 April.

Pater Neles, kata dia, adalah sosok yang diterima oleh semua kalangan dan mampu masuk ke berbagai kelompok.

Markus Haluk, direktur eksekutif United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) untuk urusan di dalam negeri mengatakan, sulit menerima kepergian Pater Neles.

“Ia adalah jembatan permata emas yang kami miliki untuk membangun perdamaian atas konflik berkepanjangan di Papua.”

“Ia juga adalah seorang gembala bagi Bangsa Papua.” tambahnya.

Adriana Elisabeth, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, Pater Neles selalu merawat keyakinan semua pemangku kepentingan bahwa suatu saat dialog Jakarta-Papua akan terwujud.

“Kegigihan dan konsistensinya membuat banyak pemangku kepentingan dalam Jaringan Damai Papua tetap berusaha bekerja di tengah keraguan dari banyak pihak,” katanya

Mathen Goo, aktivis Papua menyebut Pater Neles adalah inspirator bagi perjuangan mereka, yang berusaha untuk berpikir positif tentang semua orang.

“Kami akan sangat sulit mendapati sosok seperti dia lagi,” katanya.

Pater Neles lahir di Kabupaten Dogiyai, pada 13 Februari 1964. Ia menyelesaikan studi sarjana di STFT Fajar Timur, lalu mengambil master dalam bidang pelayanan pastoral di Universitas Ateneo de Manila, Filipina dan menyelesaikan program doktoral dalam bidang misiologi diUniversitas Kepausan Urbaniana, Roma.

Pada 2013, ia menerima penghargaan Keadilan dan Perdamaian Tji Haksoon (The Tji Haksoon Justice and Peace Award) di Korea Selatan yang diberikan Yayasan  Keadilan dan Perdamaian Tji Haksoon karena komitmennya bagi misi perdamaian.

Jenazah Pater Neles diberangkatkan ke Jayapura pada 15 April malam dan rencananya dimakamkan pada 18 April di Timika.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi