UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Warga Terpinggirkan di Manila Adakan Napak Tilas Menuju Kalvari

April 16, 2019

Warga Terpinggirkan di Manila Adakan Napak Tilas Menuju Kalvari

Seorang wanita memikul salib mewakili beban orang miskin selama napak tilas 'Calvary of the People' di Manila pada 12 Maret. (Foto: Mark Saludes)

Komunitas warga miskin kota di Manila mengadakan kegiatan “napak tilas modern menuju Kalvari” untuk menyambut peringatan Pekan Suci di negara mayoritas Katolik itu.

Sambil memikul salib yang melambangkan “kemiskinan,” “kediktatoran,” “penindasan,” terhadap rakyat, para pemrotes berpawai di jalan-jalan  ibukota negara itu dalam bentuk Jalan Salib.

Para aktivis kaum muda bergabung dalam prosesi itu sambil membawa spanduk-spanduk yang mengecam apa yang mereka sebut sebagai  “penderitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya” dari warga Filipina di bawah Presiden Rodrigo Duterte.

Dalam sebuah pernyataan, kelomok miskin kota Kadamay mengatakan peningkatan pembunuhan terkait narkoba sejak Duterte berkuasa telah memperburuk kondisi ekonomi orang miskin poor.

Kelompok HAM mengklaim sekitar  30.000 orang, kebanyakan mereka berasal dari komunitas-komunitas miskin kota, telah dibunuh dalam “perang total” pemerintah melawan narkoba sejak Juli 2016.

“Tidak ada standar hidup yang layak di bawah ditaktor seorang presiden,” kata Gloria Arellano, ketua Kadamay.

Ia mengatakan warga Filipina akan memiliki “kehidupan layak” jika “kita bersama membangun kekuatan dan iman kita untuk memecat (Duterte) dan meratakan jalan menuju masa depan yang lebih baik.”

Pemimpin miskin kota itu mengatakan peringatan Pekan Suci “mencerminkan situasi miskin dengan memikul salib kemiskinan dan penindasan.”

Kelompok-kelompok Gereja ekumenis yang bekerja dalam komunitas orang miskin mengatakan Gereja harus “memperkeraskan tangisan orang miskin” dan menekan pemerintah dengan menyampaikan isu-isu yang berdampak bagi kehidupan orang msikin.

Nardy Sabino, sekjen Promotion of Church People’s Response, mengatakan masalah itu telah menaikan harga barang-barang,  pengangguran, dan tidak memiliki tanah “memukul warga Filipina dalam masa Prapaskah ini.”

“Kita harus menyampaikan suara kita kepada setiap warga Filipina yang berada di bawah realitas yang mengganggu ini,” katanya, seraya menambahkan bahwa “Gereja-gereja harus menentang keras semua kebijakan yang menimbulkan penderitaan massal.”

Ia mengatakan harga barang meningkat telah menyebabkan pendapatan warga di bawah upah minimum setiap hari, sekitar 120.000 per hari.

Pastor Dionito Cabillas dari Gereja Independen Filipina mengatakan kebijakan ekonomi pemerintah telah menimbulkan para pekerja Filipina menjadi pengangguran. 

Irma Balaba dari Persekutuan Gereja-gereja di Filipina mengatakan pemerintah harus meringankan warga dari penderitaan.

“Prapaskah adalah sebuah kisah Kristus menuju pembebasan, bukan hanya menderita. Penderitaan-Nya telah membebaskan orang dari dosa. Itu berarti apa yang pemerintah harus lakukan,” kata pendeta itu.

“Calvary of the People” menyoroti penderitaan Yesus dan paralel dengan penderitaan warga miskin Filipina.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi