UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Biarawati di Myanmar Bahagia Melayani Penderita Kusta

April 22, 2019

Biarawati di Myanmar Bahagia Melayani Penderita Kusta

Suster Lina Na Po dari Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih sedang bersiap-siap untuk melakukan tes tekanan darah seorang pasien di sebuah klinik di pemukiman penderita kusta Naung Kan, dekat Kengtung di Negara Bagian Shan, Myanmar pada 9 Maret. (Foto: ucanews.com)

Seorang biarawati di Myanmar menghabiskan hampir separuh hidupnya merawat para penderita kusta. 

“Saya meyakini bahwa Tuhan menggunakan saya untuk merawat anak-anak-Nya yang membutuhkan perhatian khusus,” kata Suster Lina Na Po.

Dengan wajahnya yang tenang dan penuh senyum serta semangat pengabdian akan tugasnya, anggota Kongregasi Suster Cinta Kasih itu sedang menjalani penugasan keduanya di pemukiman penderita kusta Naung Kan yang dikelola gereja di dekat Kengtung, Negara Bagian Shan. Ia kembali bertugas di sana pada awal tahun ini.

Setelah menjadi biarawati pada usia 26 tahun pada 1987, suster yang kini berusia 59 tahun itu ditugaskan ke Loilem di Keuskupan Agung Taunggyi di Negara Bagian Shan, tempat ia pertama kali berinteraksi dengan pengidap penyakit kusta, yang juga dikenal dengan sebutan penyakit Hansen.

Setelah empat tahun bekerja di sana, ia sempat berpikir tidak akan merawat penderita kusta lagi. Namun, dia kemudian ditugaskan lagi ke Naung Kang, tempat ia menghabiskan waktu 18 tahun.

Pada 2010, ia ditugaskan kembali ke Loilem hingga ia kemudian dipindahkan ke paroki Mong Pawk di wilayah perbukitan Wa di Negara Bagian Shan pada tahun 2016.

Namun, dia dan dua biarawati lainnya terpaksa meninggalkan daerah konflik itu pada November lalu setelah diancam akan ditangkap oleh pejabat di Wa. Tentara Negara Bagian Kesatuan Wa yang didukung China telah merepresi agama Kristen.

Suster Na Po senang menerima tugas selanjutnya melayani penderita kusta di Naung Kan.

“Saya senang bisa kembali ke Naung Kan di mana saya menghabiskan hampir dua dekade dan rasanya seperti kembali ke rumah,” katanya.

Ia ingat ketika pertama kali ditugaskan di Naung Kan, di mana ia biasa membawa pasien ke rumah sakit yang dikelola pemerintah. 

“Seiring bertambahnya usia, saya tidak bisa membawa pasien lagi, tetapi saya berusaha sebaik mungkin untuk merawat mereka,” katanya.

Biarawati itu, yang bertanggung jawab atas klinik di pemukiman itu, membantu merawat hampir 100 orang, beberapa di antaranya berusia 80 tahun. Ia menyediakan makanan, tempat tinggal, dan bantuan medis bagi para pasien, yang beberapa di antaranya menerima dukungan finansial dari anak-anak mereka yang bekerja di berbagai tempat.

Sebagian besar pasien beragama Katolik tetapi ada juga yang beragama Budha dan animis dari etnis Shan, Lahu, Akha, Palaung, Wa dan Cina.

Kusta masih menjadi masalah di Myanmar di mana kasus-kasus baru bermunculan. Ditelantarkan oleh keluarga dan kerabat, penderita penyakit ini sering tidak memiliki siapa pun untuk merawat mereka.

Suster Na Po mengikuti pelatihan keperawatan di Yangon dan memperoleh pengalaman praktis di rumah sakit Muslim di sana. Ia juga belajar bagaimana memberikan perawatan kepada pasien di rumah sakit Kristen untuk penderita kusta di Mawlamyine, Myanmar selatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kusta adalah penyakit kronis tetapi tidak mudah menular. Jika tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota badan dan mata. Program perawatan dengan berbagai macam obat telah mengurangi jumlah orang yang menderita penyakit ini di seluruh dunia.

Myanmar adalah satu dari 16 negara yang masih melaporkan lebih dari 1.000 kasus kusta baru per tahun. Myanmar mencapai target pencegahan kusta WHO pada tahun 2003, yang berarti kurang dari satu dari 1.000 orang terinfeksi. Tetapi setidaknya 3.000 kasus baru kusta dilaporkan setiap tahun.

“Waktu berlalu dengan cepat dan saya berterima kasih kepada Tuhan karena memberi saya kesempatan untuk melayani orang-orang dengan penyakit Hansen selama 30 tahun,” kata Suster Na Po.

Dia termasuk anggota Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Bartolomea Capitanio dan Vincenza Gerosa yang didirikan di Italia pada tahun 1830-an dan tiba di Myanmar hampir seabad yang lalu.

Kongregasi ini sekarang memiliki 196 anggota yang melayani di enam keuskupan. Misi mereka antara lain pelayanan bagi para lansia, pemukiman untuk penderita kusta, sekolah berasrama dan panti asuhan.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi