UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Jaringan Jahat Perdagangan Orang

April 22, 2019

Jaringan Jahat Perdagangan Orang

Anak-anak yang tinggal di komunitas miskin perkotaan rentan menjadi korban perdagangan manusia. (Foto oleh Angie de Silva)

Di beberapa negara, pelecehan anak ditoleransi dengan kedok praktik budaya seperti pernikahan anak

Oleh: Pastor Shay Cullen, SSC

Kasus perdagangan manusia terbaru yang saya ikuti adalah tentang Angelica, seorang gadis berusia 15 tahun yang dijual oleh ibunya kepada majikannya, seorang pria kasar, kurang ajar yang memiliki banyak uang untuk membeli anak-anak untuk pelecehan seksual.

Angelica dibawa ke pria ini di kota yang jauh untuk dieksploitasi dan dilecehkan secara seksual. Pria itu membawanya ke sebuah hotel, di mana manajer dan staf hotel mengabaikan mereka atau terlibat dalam perdagangan manusia. Ibu Angelica juga bersalah atas perdagangan anaknya sendiri.

Pria itu melakukan kekerasan seksual terhadap Angelica beberapa kali. Ia memberi uang kepada Angelica dan ibunya. Anak itu tidak bisa menolak, karena masih di bawah umur dan di bawah kekuasaan dan pengaruh orang dewasa, termasuk ibunya.

Ada ratusan ribu kasus perdagangan manusia dan pelecehan serupa yang terjadi setiap hari di seluruh dunia. Ini terlalu biasa terutama di Asia Tenggara, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Serikat di mana hukumnya lemah dan tidak ditegakkan.

Di beberapa negara, pelecehan anak ditoleransi dengan kedok praktik budaya seperti pernikahan anak, yang merajalela di Afghanistan, India dan Pakistan.

Diperkirakan 24,5 juta orang dewasa, anak-anak dan remaja telah menjadi korban dan diperdagangkan di seluruh dunia dalam dekade terakhir oleh sindikat kejahatan terorganisir. Perdagangan manusia adalah kejahatan yang beroperasi dalam banyak cara. Sebagian besar dari 24,5 juta korban adalah perempuan dan 33 persen adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun.

Para korban hampir selalu miskin, menganggur, tidak berpendidikan dan rentan. Banyak anak di bawah umur berasal dari keluarga yang hancur, ditelantarkan dan tinggal kerabat jauh yang mengabaikan mereka dan memperlakukan mereka sebagai pelayan atau menjualnya kepada pelaku perdagangan orang.

Anak-anak sering dilecehkan, dibayar rendah, dan dieksploitasi secara seksual. Akar masalahnya adalah rumah tangga yang rusak. Tanpa keluarga yang aman, stabil, penuh kasih sayang dan perhatian, anak-anak tidak memiliki kesempatan untuk berhasil dalam hidup. Ketika orang tua tidak saling mencintai, anak ipada umumnya juga tidak dicintai. Mereka adalah mangsa yang mudah bagi para pedagang manusia.

Perdagangan manusia dan pelecehan terhadap perempuan dan anak di bawah umur sebagai buruh bayaran rendah begitu luas sehingga jutaan orang diperdagangkan di mana-mana.

Dari Eropa Timur, ribuan orang diperdagangkan dan dibawa ke orang-orang Eropa yang kaya di rumah-rumah bordil, yang legal meskipun para wanita tidak bebas untuk pergi dan terperangkap dalam jaring hutang yang berbahaya.

Di negara-negara seperti Filipina, usia yang dizinkan untuk hubungan anak menurut KUHP sangat rendah, yakni usia 12 tahun, dan pelaku kekerasan memanfaatkannya untuk membenarkan suatu hubungan.

KHUP harus diubah. Tetapi di Filipina undang-undang perlindungan anak menggantikan KUHP lama. Siapa pun yang melecehkan seorang anak secara seksual di bawah usia 18 tahun bertanggung jawab secara pidana. Jika anak di bawah 12 tahun, itu adalah pemerkosaan menurut hukum.

Jika Anda mengetahui seorang anak dilecehkan secara fisik, psikologis atau seksual, Anda secara moral dan hukum wajib melaporkan pelecehan tersebut kepada orang tua atau kerabat, kepada pekerja sosial yang terlatih, polisi atau pejabat pemerintah atau kepada siapa saja yang dapat membantu.

Kegagalan untuk melakukan hal itu membuat seseorang bertanggung jawab atas pengaduan tentang keterlibatan, membantu dan bersekongkol dalam pelecehan anak dan perdagangan manusia dan bahkan menghalangi keadilan jika seseorang menghentikan orang lain untuk melaporkan hal itudan terutama jika anak itu meminta bantuan dan ditolak.

Dalam kasus Angelica, ia adalah anak yang sangat menderita. Dia membenci apa yang dilakukan ibu dan lelaki itu kepadanya, dan suatu hari dalam suatu kesempatan di hotel, dia menemui pejabat pemerintah setempat dan melaporkan bahwa dia dilecehkan.

Dia tidak melaporkan bahwa ibunya menjualnya.

Tersangka ditangkap dan dipenjara segera setelah laporan diterima. Dia didakwa dengan perdagangan manusia dan pemerkosaan anak. Dia membayar nenek untuk mengajukan kasus “habeas corpus” untuk mengeluarkan anak dari Preda, rumah kami untuk anak-anak yang dilecehkan. Tetapi anak itu memberi tahu hakim bahwa dia ingin tetap tinggal di Preda.

Kasus perdagangan manusia dan pemerkosaan anak sedang berlangsung dan Angelica, setelah satu tahun dalam pemulihan, dapat bersaksi dengan jelas dan masuk akal. Pelakupasti akan dihukum.

Sangat penting bagi kita semua untuk memahami dan menyadari apa yang sedang terjadi di dunia. Perdagangan anak-anak untuk eksploitasi seksual adalah kejahatan sehari-hari. Pelecehan seksual terhadap anak ada di sekitar kita, kita tidak mengetahuinya karena para korban diperintahkan dengan ancaman untuk tetap diam.

Adalah fakta bahwa satu dari empat gadis mengalami pelecehan seksual setidaknya sekali seumur hidup mereka. Permintaan terus-menerus ada, para lelaki yang kasar bahkan menganggapnya sebagai hak untuk melakukannya dan mengabaikan dan menghindari hukum yang melarangnya dengan bantuan penyelundup manusia, polisi korup dan hotel-hotel wisata seks dan pemilik resor.

Beberapa pejabat adalah pelaku pelecehan anak itu sendiri. Ini adalah gekala yang dipicu oleh internet dan bisnis sex siberyang melayani para elit kaya yang menginginkan kepuasan seksual, dominasi, dan kendali terhadap manusia lain.

Eksploitasi manusia yang mengerikan ini seperti apa yang terjadi pada Angelica adalah perbudakan, dilarang tetapi tidak pernah ditaklukkan, dikutuk tetapi tidak pernah dihilangkan, ditentang tetapi masih terus hidup. Kita tidak boleh menyerah untuk mengatasi kejahatan t ini dan menyelamatkan jutaan korban yang dieksploitasi.

Pastor Shay Cullen, SSC, asal Irlandia, mendirikan Yayasan Preda di Kota Olongapo pada tahun 1974 untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan hak-hak anak, terutama para korban pelecehan seksual.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi