UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Sri Lanka Kutuk Serangan Bom yang Menewaskan 290 Orang

April 22, 2019

Kardinal Sri Lanka Kutuk Serangan Bom yang Menewaskan 290 Orang

Kardinal Malcolm Ranjith (tengah) mengunjungi Gereja St. Sebastian di Negombo, Sri Lanka, setelah serangan bom pada Minggu Paskah, 21 April yang menewaskan 91 orang. (ucanews.com)

Kardinal Malcolm Ranjith mengutuk serangan bom hari Minggu Paskah di gereja-gereja dan hotel-hotel di Sri Lanka yang menyebabkan 290 tewas dan ratusan terluka.

Dia juga menyerukan penyelidikan yang mendalam dan tidak memihak untuk menemukan mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan paling mematikan di negara itu sejak perang saudara 26 tahun berakhir pada 2009.

“Saya mengutuk dengan segala kemampuan saya tindakan biadab ini yang telah menyebabkan begitu banyak kematian dan penderitaan bagi warga,” kata Kardinal Ranjith, uskup agung Kolombo.

“Saya memohon kepada para dokter untuk membantu mereka yang membutuhkan dengan mengorbankan cuti hari Minggu Anda.”

Dia juga mengimbau masyarakat untuk menyumbangkan darah dan mendesak orang untuk tetap tenang dan tidak mengambil tindakan sendiri di luar hukum.

Polisi mengatakan 24 orang telah ditangkap atas serangan itu tetapi belum diketahui siapa yang melakukan pemboman, yang menyebabkan lebih dari 500 orang terluka.

Gereja St Sebastian setelah ledakan bom (ucanews.com)

Setidaknya 36 orang asing termasuk di antara yang tewas.

Tiga gereja di Negombo, Batticaloa, dan distrik Kochchikade di Kolombia menjadi sasaran selama kebaktian Paskah dan ledakan juga mengguncang hotel-hotel Shangri-La, Kingsbury dan Cinnamon Grand di ibukota.

Ketika polisi memburu mereka yang bertanggung jawab, dua ledakan susulan terjadi. Satu ledakan terjadi dekat kebun binatang di Dehiwala, Kolombo selatan, dan yang kedelapan dilaporkan di dekat distrik Dematagoda, Kolombo saat polisi menggerebek, menewaskan tiga petugas.

Beberapa bom meledak di Gereja St Sebastian di Negombo, Kuil St Anthony di Kochchikade dan Gereja Sion di Batticaloa antara jam 8.45 pagi dan 9.30 pagi.

Pemerintah memberlakukan jam malam polisi pada hari Minggu malam dan memblokir akses ke media sosial termasuk Facebook, WhatsApp dan Viber. Semua sekolah diliburkan pada 22 dan 23 April.

Salah seorang umat paroki, Ranjitha Fernando, yang menangis dan mencari kerabatnya di antara mayat-mayat di Gereja St. Sebastian, mengatakan rekaman CCTV menunjukkan seorang pembom bunuh diri yang membawa tas berat memasuki gereja selama Misa.

Dia meledakkan alatnya saat bagian terakhir Misa yang dihadiri oleh 800 umat, yang menyebabkan 91 tewas dan melukai 104. Tubuh dan daging manusia tersebar di sekitar bangku dan tembok, sementara atap gereja hancur.

“Adalah tanggung jawab pemerintah untuk menemukan pelaku dan memberikan hukuman yang pantas. Apakah kita akan kembali ke zaman kegelapan lagi?” kata Fernando.

Serangan di Gereja St Antonius menewaskan 28 orang.

Interior Gereja St Sebastian, Ngembo, Sri Lanka mengalami rusak parah akibat ledakan bom. (Foto: Facebok St. Sebastian’s Church)

Pradeep Kumar, seorang Hindu yang tinggal di dekat gereja itu, mengatakan ia mendengar ledakan dari tempat itu sekitar pukul 8.45 pagi.

“Saya mendengar suara itu dan segera berlari ke gereja. Kemudian saya melihat banyak orang terbunuh dan terluka. Saya membantu mengangkut orang yang terluka ke rumah sakit. Kami membawa selimut dari rumah-rumah terdekat dan menutupi yang mati, ”kata Kumar.

Seorang wanita Hindu yang bernama Ranjani menunjukkan foto-foto di ponselnya tentang saudara perempuan dan iparnya yang menghadiri Misa Paskah di gereja.

“Adikku, 35, menikah dengan seorang Katolik. Dia bekerja di sebuah rumah di Kolombo dan suaminya, 45, bekerja di sebuah toko. Mereka memiliki dua anak dan mereka bersama kami. Begitu kami mendengar tentang kejadian ini, kami pergi ke rumah sakit , kamar mayat dan sekarang kami datang ke sini untuk mencari mereka, “katanya kepada ucanews.com.

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengakui bahwa tindakan pencegahan belum memadai meskipun ada informasi sebelumnya tentang kemungkinan serangan.

Saat ini tidak jelas siapa yang berada di balik pemboman.

Menurut sensus 2012, dari populasi Sri Lanka sekitar 22 juta, 70 persen beragama Budha, 12,6 persen Hindu, 9,7 persen Muslim, dan 7,6 persen Kristen.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi