UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Myanmar Desak Hentikan Bendungan yang Melibatkan China

April 23, 2019

Kardinal Myanmar Desak Hentikan Bendungan yang Melibatkan China

Sejumlah warga di Waimaw, Negara Bagian Kachin, Mynamar menggelar protes pada 22 April menolak proyek Bendungan Myitsone. Bendungan kontroversial itu dihentikan oleh Pemerintah Myanmar pada tahun 2011 menyusul adanya protes terkait masalah lingkungan dan keselamatan. (Foto oleh Zau Ring Hpra / AFP)

Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon mendesak semua pemangku kepentingan untuk menghentikan upaya membuat bendungan di Sungai Irrawaddy.

Dalam sebuah pesan video yang menandai Tahun Baru Myanmar pada 17 April, ia mengimbau agar para pemimpin Myanmar dan China tidak melanjutkan kembali proyek Bendungan Myitsone yang sempat terhenti.

“Kami sangat prihatin dan khawatir. Ada tanda-tanda bahwa tekanan ekstrem sedang terjadi pada para pemimpin kita untuk memulai kembali Bendungan Myitsone, ”kata Kardinal Bo.

“Jutaan orang kehilangan mata pencaharian. Bencana lingkungan dan ekonomi sudah diprediksi oleh kalangan ilmiah. ”

Proyek senilai 3,8 miliar dolar Amerika Serikat di Irrawaddy, jalur air utama Myanmar, bertujuan untuk menyediakan listrik tenaga hidro yang akan digunakan hampir seluruhnya untuk negara tetangga Cina.

Pada 2010, pembangunan bendungan itu telah menyebabkan setidaknya 3.000 orang diungsikan dari rumah mereka ke desa-desa yang baru dibangun.

Pemerintah Presiden Thein Sein yang didukung militer menangguhkan pembangunan pada September 2011, tetapi Cina dengan penuh semangat meminta untuk melanjutkan proyek tersebut

Kardinal Bo, 70, mengatakan China adalah negara adikuasa dan telah menjadi sahabat dalam segala hal bagi Myanmar, tetapi negara itu bisa berkontribusi pada kesejahteraan jutaan orang dengan menghentikan proyek bendungan dan membantu orang miskin Myanmar dalam banyak cara lain.

“Sekali lagi, mata berkaca-kaca, hati kami terbebani dengan resiko yang akan datang kepada jutaan orang. Kami memohon kepada semua pemangku kepentingan menghentikan proyek bendungan ini untuk selamanya,” katanya.

“Irrawaddy adalah ibu suci bagi kita semua. Mohon membatalakan perjanjian itu. Kepada pemimpin militer dan sipil kami, kami sangat percaya akan selalu berpihak pada kesejahteraan rakyat miskin Myanmar dalam rencana mereka.

“Sumber daya alam Myanmar adalah milik rakyat Myanmar. Sayangnya, Bendungan Myitsone tidak menguntungkan rakyat Myanmar. ”

Kardinal Bo telah mengirim surat kepada Presiden Myanmar Win Myint, Penasehat Negara Aung San Suu Kyi dan Pimpinan Militerr Jenderal Min Aung Hlaing. Dia juga mengirim surat ke Presiden Cina Xi Jinping dalam bahasa Cina.

Pada bulan Januari, kardinal yang vokal itu menyerukan kepada semua pemangku kepentingan untuk menghentikan proyek bendungan, menyebutnya sebagai “bencana lingkungan” dan “hukuman mati” bagi rakyat Myanmar.

Suu Kyi mengunjungi Cina untuk menghadiri Belt and Road Forum pada 26 April mendatang, di mana dia akan mengadakan pertemuan bilateral dengan presiden China. Dia telah mendesak publik untuk berpikiran terbuka tentang megaproyek dan mengatakan pemerintahnya akan membuat keputusan secara bertanggung jawab.

Kekhawatiran baru terhadap proyek ini muncul menyusul kunjungan pada Desember oleh Duta Besar China Hong Liang ke Negara Bagian Kachin, di mana ia bertemu dengan partai-partai politik dan organisasi sosial.

Di tengah upaya Cina untuk memulai kembali proyek bendungan, pemerhati lingkungan terkemuka, aktivis dan penulis membentuk komite nasional pada 1 April untuk menentang proyektersebut.

Beberapa aksi unjuk rasa terhadap bendungan itu juga digelar di Yangon dan Negara Bagian Kachin dalam beberapa bulan terakhir.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi