UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Dosen di Sumatra Dituntut Satu Tahun Penjara Karena Sebarkan Kebencian

April 24, 2019

Dosen di Sumatra Dituntut Satu Tahun Penjara Karena Sebarkan Kebencian

Serangan bom ke Gereja Santa Maria Tak Bercela di Surabaya pada Mei 2018. (Foto: Ryan Dagur)

Seorang dosen di Universitas Sumatra Utara (USU) dinyatakan bersalah dan dituntut satu tahun penjara karena ia menulis di akun Facebook-nya bahwa serangan bom di tiga gereja di Suarabaya pada Mei tahun lalu adalah sebuah skenario politik.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Medan, mengatakan pada 22 April bahwa Himmah Dewiyana Lubis, 46, seorang dosen ilmu perpustakaan, dinyatakan bersalah karena menyebarkan ujaran kebencian dan melanggar UU Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Lubis menulis dalam Facebook-nya ‘Skenario pengalihan yang sempurna, #2019gantipresiden,” terkait teror bom di Surabaya pada Mei 2018.

Enam hari kemudian ia ditangkap polisi. Namun, ia dibebaskan sambil menunggu proses hukumnya. 

“Terdakwa dinyatakan bersalah karena perbuatannya telah menimbulkan kebencian terhadap etnis dan agama,” kata Tiorida Juliana Hutagaol, dalam sidang tersebut di Pengadilan Tinggi Negeri Medan.

“Oleh karena itu, ia harus dituntut satu tahun penjara, denda 10 juta dan subsidier tiga bulan penjara,” katanya. 

Namun, penasehat hukum Lubis, Rina Melati Sitompul, mengklaim bahwa tuntutan jaksa bernuansa politik karena terlalu berlebihan dan tidak ada korban. 

“Keputusan itu bernuansa politik dan berlebihan bagi klien kami,” kata Sitompul, seraya menambahkan bahwa hingga sekarang  belum ada bukti apapun, etnik atau agama mana yang dimaksud. 

Bonar Tigor Naipospos, wakil ketua Setara Institute, mengatakan orang yang melanggar UU ITE, termasuk Lubis, tidak perlu dihukum penjara.

Ia mengatakan mereka harus diberikan kesempatan untuk berdamai, bayar denda, atau kerja sosial seperti membantu di panti jompo atau lembaga sosial lainnya.

“Kasus-kasus ujaran kebencian harus ditinjau ulang karena mereka terpengaruh oleh rasa emosi ketika mereka menulis dan menyebarkan tulisan mereka,” katanya kepada ucanews.com.     

Petrus Selestinus, seorang advokat, mengatakan kasus yang dihadapi Lubis harus dipahami dengan baik oleh jaksa.

“Untuk itu Majelis Hakim harus mencermati betul kadar informasi yang disebar itu seberapa jauh dapat menimbulkan rasa permusuhan antar individu/golongan berdasarkan SARA,” kata Selestinus, yang juga koordinator TPDI & Advokat PERADI itu.

Menurutnya, bisa saja Lubis tidak bertujuan untuk menimbulkan rasa permusuhan, tapi hanya sekedar memberi pencerahan atau mengingatkan pihak penerima informasi, maka dalam hal demikian ia tidak dapat dituntut sebagai penyebar kebencian, apalagi kebencian yang dimunculkan itu bisa diorder dan digerakan utk tujuan politik tertentu.

Majelis Hakim, lanjutnya, dituntut “harus arif dan bijaksana dengan melihat posisi Lubis sebagai seorang dosen tentu saja faktor itikad baiknya dalam memyebarkan sebuah informasi itu tidak ditujukan untuk membangun permusuhan melainkan hanya bertujuan memcerahkan”.

 Sidang pleidoinya akan dilanjutkan pada 29 April pekan depan.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi