UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Sri Lanka Minta Pejabat yang Tidak Hiraukan Peringatan Bom Dipecat

April 25, 2019

Kardinal Sri Lanka Minta Pejabat yang Tidak Hiraukan Peringatan Bom Dipecat

Para imam dan kerabat membawa peti mayat korban ledakan bom setelah upacara pemakaman di Gereja St Sebastian di Negombo pada 23 April, dua hari setelah serangkaian ledakan bom yang menargetkan gereja dan hotel mewah di Sri Lanka. (Foto oleh Jewel Samad / AFP)

Kardinal Malcolm Ranjith mengatakan para pejabat Sri Lanka yang gagal mengambil tindakan setelah adanya peringatan tentang rencana serangan bom hari Minggu Paskah harus diberhentikan dari jabatannya.

ISIS mengklaim bertanggung jawab atas ledakan terkoordinasi yang menewaskan sedikitnya 359 orang dan melukai lebih dari 500 orang. Kelompok ekstrimis domestik, Jamaah Thowheeth Nasional (NTJ), juga terlibat. Lebih dari 40 tersangka telah ditangkap.

Setelah pemboman, diketahui bahwa pemerintah Sri Lanka tidak mengambil tindakan setelah adanya peringatan intelijen bahwa teroris telah merencanakan serangan, termasuk menargetkan gereja-gereja Katolik.

Kardinal Ranjith – yang adalah uskup agung Kolombo – mengatakan kepada radio CBC bahwa perilaku pejabat tingkat tinggi, seperti Menteri Pertahanan Hemasiri Fernando, yang gagal bertindak atas informasi itu sama sekali tidak dapat diterima.

“Pejabat-pejabat seperti ini harus segera dipecat, diberhentikan dari posisi mereka. Orang-orang yang memiliki simpati terhadap orang lain dan kebutuhan rakyat harus mengambil alih jabatan ini, “kata Kardinal Ranjith.

Pemerintah dilaporkan telah diperingatkan tiga kali dalam beberapa pekan terakhir akan kemungkinan serangan selama perayaan suci.

CNN melaporkan bahwa dinas intelijen India telah menyampaikan peringatan kepada para pejabat Sri Lanka sebelum pengeboman Paskah berdasarkan informasi yang mereka peroleh dari seorang tersangka ISIS.

Laporan-laporan lain mengungkapkan bahwa kepala polisi Pujitha Jayasundara telah mengirim laporan intelijen kepada para perwira tinggi pada 11 April memperingatkan mereka bahwa akan ada aksi bom bunuh diri di sejumlah “gereja-gereja terkemuka” dan komisi tinggi India di Kolombo.

Kardinal mengatakan seandainya dia mengetahui adanya peringatan tentang rencana teroris, dia akan membatalkan Misa Minggu Paskah dan bahkan acara Pekan Suci.

“Saya akan membatalkannya, karena bagi saya, yang paling penting adalah nyawa manusia. Mereka manusia, mereka adalah kekayaan kita,” katanya.

Kardinal Ranjith merujuk pada korban jiwa dari serangan itu, termasuk pemboman Gereja St Sebastian di Negombo dan St Anthony’s Shrine di Kochchikade.

“Seluruh keluarga telah musnah – suami, istri, anak-anak dan orang tua serta kakek-nenek. Dan itu luar biasa menyedihkan, ”katanya.

“Kita tidak bisa membayangkan penderitaan yang terjadi pada manusia dengan aktivitas seperti ini.”

Sekitar 800 orang menghadiri Misa Paskah di Gereja St. Sebastian pada saat terjadi serangan yang menewaskan 91 dan melukai ratusan lainnya.

“Saya berangkat dan memimpin dua pemakaman. Satu di Negombo, di mana ada dua keluarga di mana lima orang terbunuh dalam dua keluarga yang sama,” kata Kardinal Ranjith.

“Dan kemudian pada sore hari, saya pergi ke pemakaman di mana seorang ayah, ibu dan dua anak perempuan terbunuh. Jadi, sangat menyakitkan bagi orang-orang untuk melihat ini.”

Gereja Zion di Batticaloa juga menjadi sasaran para teroris seperti halnya hotel-hotel Grand Shangri-La, Kingsbury dan Cinnamon di ibukota.

Ketika polisi memburu mereka yang bertanggung jawab, dua ledakan susulan terjadi. Satu ledakan menghantam dekat kebun binatang di Dehiwala, Kolombo selatan, dan yang kedelapan dilaporkan di dekat distrik Dematagoda, Kolombo saat polisi melakukan serangan, menewaskan tiga petugas.

Menteri Pengembangan Pariwisata dan Urusan Kristen, John Amaratunga, mengatakan kepada ucanews.com pada 23 April bahwa baik Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe maupun anggota kabinet lainnya tidak mengetahui peringatan semacam itu.

Sekitar 40 warga negara asing yang berlibur di negara kepulauan itu juga terbunuh dalam serangan teror. Di antara yang tewas adalah wisatawan dari Bangladesh, Cina, India, Jepang, Belanda, Portugal, Arab Saudi, Spanyol, Swiss, Turki, Inggris, Amerika Serikat dan dua orang yang memegang paspor ganda Australia dan Sri Lanka.

Para korban termasuk tiga anak miliarder Denmark Anders Holch Povlsen serta Zayan Chowdhury, cucu anggota parlemen Bangladesh dan anggota Liga Awami, Sheikh Fazlul Karim.

Sekitar sembilan wisatawan masih belum terhitung hingga 23 April, kata Kepala Biro Promosi Pariwisata Sri Lanka Kishu Gomes kepada ucanews.com.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi