UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Kecam Pembunuhan Aktivis HAM di Filipina

April 26, 2019

Uskup Kecam Pembunuhan Aktivis HAM di Filipina

Bernardino Patigas Sr. adalah aktivis HAM terakhir yang dibunuh di Filipina. (Potongan gambar dari sebuah video yang diunggah oleh Komisi HAM Asia)

Seorang uskup di Filipina bagian tengah mengecam pembunuhan seorang pekerja hak asasi manusia (HAM) dan mendesak agar “pembantaian terencana dan biadab” dihentikan.

Bernardino Patigas Sr., 72, ditembak mati oleh seorang pria bersenjata di Propinsi Negros Oriental pada 22 April atau tiga minggu setelah aparat kepolisian bertopeng menembak 14 petani di wilayah tersebut.

Uskup San Carlos Mgr Gerardo Alminaza menyebut pekerja HAM yang dibunuh itu sebagai “martir perjuangan para petani tebu” di Pulau Negros.

“Dalam kesedihan, kita semua berteriak: Hentikan Pembunuhan! Pembantaian terencana dan biadab ini harus dihentikan! Kita seharusnya tidak menoleransi kejahatan semacam ini,” kata prelatus itu dalam sebuah pernyataan.

Selain berkarya di bidang HAM, Patigas adalah rekan pelayanan dari para imam Karmelit di Kota Escalante dan juga ketua Dewan Pastoral Paroki.

“Iman menggerakannya untuk melayani Saudara-Saudari kita yang miskin. Dan ia dikagumi oleh warga setempat karena kerendahan hati dan kesederhanaannya,” kata Mgr Alminaza.

Patigas selamat dari pembantaian 1985 di Kota Escalante ketika pasukan paramiliter pemerintah menembak dan membunuh 20 warga sipil yang melakukan aksi protes untuk memperingati deklarasi undang-undang darurat militer.

“Pengalaman yang mengerikan itu … membuatnya berani untuk semakin memperjuangkan HAM,” kata prelatus itu.

Mgr Alminaza mengatakan Patigas “masuk dalam daftar target pembunuhan yang mengintai di tengah-tengah kita, meskipun ia sering dikagumi masyarakat Filipina.”

Karapatan, sebuah kelompok HAM, mengatakan pembunuhan terhadap Patigas merupakan pembunuhan terakhir dalam “serangkaian serangan terhadap para aktivis dan pembela HAM.”

Di Pulau Negros, sedikitnya 50 petani dan pekerja HAM yang dituduh militer sebagai pemberontak dibunuh sejak 2016 ketika Presiden Rodrigo Duterte mulai berkuasa.

Wakil Sekjen Karapatan Roneo Clamor mengatakan Patigas menjadi target sebelum dibunuh.

Meskipun menjadi penasihat Kota Escalante terpilih, pembela HAM yang dibunuh itu termasuk dalam daftar sejumlah individu pada sebuah poster yang diduga memiliki keterkaitan dengan komunis.

Selain Patigas, ada pengacara HAM Benjamin Ramos yang dibunuh pada November 2018.

“Poster yang disebarkan ke berbagai wilayah di Negros itu berubah menjadi daftar panas secara de facto, secara berani menargetkan para pemimpin organisasi progresif dan aktivis,” kata Clamor.

Mgr Alminaza berdoa agar “daftar kematian yang semakin bertambah itu menggugah hati nurani para pembunuh.”

“Inilah doa saya, para pembunuh terbuka matanya akan realitas kebenaran dan bukan melakukan kekerasan – bahwa hidup itu berharga, bahwa membunuh itu perbuatan dosa,” kata prelatus itu.

Ia mengatakan dedikasi Patigas terhadap karya keadilan sosial “sangat terpuji karena ia tanpa pamrih menyerahkan hidupnya untuk melayani mereka yang tertindas dan tereksploitasi.”

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi