UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Dedikasi Bruder Lucio Bagi Anak Jalanan di Bangladesh

April 30, 2019

Dedikasi Bruder Lucio Bagi Anak Jalanan di Bangladesh

Br Lucio Beninati, seorang misionaris Katolik Italia dari Institut Kepausan untuk Misi Asing (PIME), menawarkan bantuan kepada anak-anak jalanan di Dhaka pada 9 April. (Foto: Ucanews.com)

Hari Selasa kedua pada bulan April tampak cerah. Tujuh anak Muslim miskin dengan pakaian tipis menunggu kedatangan seorang bule di terminal bus antardistrik di Dhaka, ibukota Bangladesh.

Bruder Lucio Beninati, 63, seorang misionaris Katolik asal Italia dari Institut Kepausan untuk Misi Asing (PIME) yang berbasis di Milan, telah bekerja di negara itu selama 19 tahun terakhir.

Ketika Br Lucio tiba di terminal bus, anak-anak menggenggam tangannya dengan sukacita.

“Kemon achen Lucio Bhai [Apa kabar, Br. Lucio],” kata mereka. Br Lucio bisa berbicara Bahasa Bengali, bahasa utama Bangladesh, dengan lancar.

Mengenakan baju kaus, celana olahraga dan sandal murah, ia segera menyapu area yang akan digunakan oleh anak-anak selama dua jam kegiatan.

Dua siswa relawan membantunya untuk sesi latihan fisik dan pelajaran seni, berhitung dan membaca.

Billal, 9, dan kelompok kecil anak-anak lainnya hingga dua tahun telah bertemu Br Lucio di terminal bus di daerah Gabtoli, Dhaka.

Dia tinggal di daerah kumuh dengan kakak laki-laki dan ibunya. Ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, ibunya mengemis di jalan untuk memberi makan kedua anaknya.

Billal belajar di kelas 5 di sekolah negeri, meskipun tidak selalu ke sekolah.

“Br Lucio adalah seorang teman yang baik. Dia sangat mencintai kami. Dia mengajar kami, bermain bersama kami dan bersenang-senang dengan kami. Dia juga mengajar menggambar, memberi obat-obatan dan makanan,” kata Billal kepada ucanews.com.

“Ketika saya dewasa, saya ingin melakukan sesuatu bagi orang lain seperti yang dilakukan Br Lucio,” katanya.

Memberi Hati

Berasal dari Napoli di Italia selatan, Br Lucio dan enam relawan lainnya pada 2007 mendirikan Pothoshishu Seba Sangathan (Organisasi Layanan Anak Jalanan), untuk menyediakan layanan dasar bagi anak-anak jalanan yang miskin di Dhaka.

Selama bertahun-tahun, ada ratusan relawan yang bergabung untuk memberikan dukungan kepada sekitar 12.000 anak yang kurang beruntung.

Enam hari seminggu, para relawan menggelar sekolah jalanan di berbagai tempat di Dhaka, termasuk di taman, terminal bus, pelabuhan, stasiun kereta api dan pasar.

Relawan termasuk siswa, guru, pelaku bisnis, pegawai pemerintah dan swasta serta dokter dan ibu rumah tangga. Di antara mereka ada Muslim, Hindu, Budha, Kristen, dan bahkan ateis.

Organisasi itu menyebarkan layanannya ke kota Sylhet di timur laut satu setengah tahun yang lalu dan sekarang sedang melebarkan sayap ke kota pelabuhan Chittagong.

Dari tujuh relawan awal, satu di antaranya adalah Muslim dan enam lainnnya adalah Kristen, kata Br Lucio kepada ucanews.com.

“Kami prihatin melihat anak-anak hidup dan mengemis di jalanan,” katanya.

Pertemuan dimulai tanpa meminta bantuan dari pemerintah, pemimpin politik atau organisasi lain.

Br Lucio telah tinggal di berbagai daerah kumuh di Dhaka demi menumbuhkan rasa hormat dan kebersamaan dengan anak-anak yang terpinggirkan serta dengan keluarga mereka.

Ada sekitar 700.000 anak jalanan di Bangladesh, termasuk 250.000 anak di Dhaka, demikian menurut lembaga non-pemerintah yang didanai Uni Eropa yang memerangi eksploitasi seksual anak-anak.

Sebagian besar anak jalanan rentan terhadap berbagai bentuk pelanggaran, termasuk bekerja di pabrik berbahaya dan lingkungan kerja lainnya.

Relawan membantu anak-anak jalanan membuat patung kecil. (Foto: Ucanews.com)

Demi Kemanusiaan

Br Lucio lahir pada tahun 1956 dalam keluarga dengan sepuluh bersaudra. Setelah menyelesaikan pendidikan, dia bekerja dan bahkan memiliki pacar, di mana keduanya berencana hidup bersama.

Namun, dia memutuskan untuk berbalik dari upaya mengejar materi.

Nasib orang-orang miskin menarik perhatiannya dan dia memutuskan untuk tidak membangun sebuah keluarga untuk dirinya sendiri, tetapi untuk melayani keluarga besar – demi kemanusiaan.

“Ketika saya bisa memahami kehendak Tuhan bahwa Dia memanggil saya untuk menjadi seorang misionaris, saya meninggalkan segalanya – keluarga saya tercinta, pekerjaan dan pacar saya, untuk mengikuti Yesus, dalam misi merawat kaum kecil,” kenang Br Lucio.

Pada tahun 1982, ia dikirim ke Brasil dan India, tempat dia bekerja masing-masing selama tujuh dan dua tahun, sebelum dia diberi tugas ke Bangladesh.

Br Lucio mengatakan bahwa pekerjaannya untuk anak-anak jalanan adalah bentuk ungkapan kasih dan solidaritas.

Dia menyatakan ada banyak bentuk diskriminasi, termasuk terkait agama, jenis kelamin dan pendapatan, serta menambahkan bahwa relawan menggunakan sumber daya lokal untuk membantu anak-anak dan sesama anggota keluarga manusia lainnya.

Pengubah Kehidupan

Firoj Kobir, 21, seorang mahasiswa pascasarjana di Dhaka, menjumpai kelompok Br Lucio di terminal bus setahun yang lalu dan termotivasi untuk bergabung dengan mereka.

“Ketika saya bersama anak-anak itu saya merasa sangat senang,” kata Kobir kepada ucanews.com.

Dia merasa bahagia karena dia merasa sedang melakukan sesuatu untuk orang-orang yang terabaikan dalam masyarakat.

“Dengan terlibat, saya telah belajar bagaimana mencintai manusia lain dengan lebih baik dan melihat lebih dalam kehidupan manusia,” kata Kobir, 

“Saya bermimpi suatu hari tidak akan ada anak-anak di jalanan, tetapi di rumah yang aman.”

Dalam lingkungan seperti itu, mereka akan memiliki peluang yang lebih besar untuk hidup sejahtera, tambahnya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi