UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pasca Penembakan Teroris di Bekasi, Gereja dan Vihara Diimbau Waspada

Mei 7, 2019

Pasca Penembakan Teroris di Bekasi, Gereja dan Vihara Diimbau Waspada

Polisi menyelidiki puing-puing setelah pemboman Gereja Pentakosta di Surabaya, Jawa Timur, pada 13 Mei 2018. Serangkaian ledakan menggoncang tiga gereja di ibukota provinsi itu yang menewaskan 30 orang dan puluhan luka-luka. (Foto: AFP)

Seorang pakar terorisme menghimbau gereja, vihara, dan polisi agar meningkatkan kewaspadaan menyusul pemembakan dan penangkapan para terduga teroris di Bekasi, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Al Chaidar, seorang pakar terorisme dari Universitas Malikussaleh di Aceh, mengatakan para anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS masih eksis di Indonesia.

“Kelompok ini masih aktif, sangat kuat dan terstruktur,” katanya kepada ucanews.com.

JAD memiliki sekitar 34.000 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia, walaupun kelompok itu telah dilarang pemerintah pada Juli 2018, katanya.

Pemimpin  dan pendiri JAD Aman Abdurrahman dijatuhi hukuman mati pada  Juni 2018 atas keterlibatannya dalam berbagai serangan teror di Indonesia, termasuk serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada Mei 2018 yang menewaskan 30 orang.

Al Chaidar mengingatkan kemungkinan serangan dari kelompok itu. Ada juga kelompok lain terpisah dari JAD yakni Mujahidin Indonesia Timur (MIT), yang berbasis di Poso, Sulawesi Tengah. Kelompok ini akan bergerak di Indonesia bagian timur.

“Kini kelompok-kelompok itu tidak memiliki pemimpin, namun anggotanya berjuang sendiri dan membentuk sel-sel kecil dan menggunakan sisa-sisa sumber daya setelah ISIS kalah,” katanya.

Ia mengatakan kelompok-kelompok itu berencana menjadikan Indonesia sebagai basis mereka setelah  ISIS dikalahkan di Suriah.

Al Chaidar menghimbau polisi tetap waspada karena mereka akan menyusup jika kerusuhan terjadi terkait hasil perhitungan suara pemilu.

“Mereka (teroris) akan menyusup ketika terjadi kerusuhan,” katanya, seraya menambahkan bahwa protes massa yang menciptakan kerusuhan akan lebih mudah bagi mereka untuk merampas sejata.

Sementara memuji polisi  “melakukan upaya pencegahan” di Bekasi, ia mengatakan tindakan polisi sudah sesuai prosedur berdasarkan UU Tahun 2018 tentang Pemberantasan Terorisme.

Penyergapan teroris

Polisi telah menangkap delapan terduga teroris di sejumlah tempat menyusul penggebrekan di Bekasi pada 4 Mei.

Seorang ditembak mati di Bekasi karena melawan polisi dan satu lainnya tewas meledakan diri untuk menghindari penangkapan polisi di Bekasi.

Dari keterangan seorang teroris yang ditangkap di Bekasi, Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror Polri juga menangkap sejumlah terduga teroris lain di Bekasi, Bitung di Sulawesi Utara, dan Tegal di Jawa Tengah pada 5 dan 6 Mei.

Dua tersangka teroris ditangkap di Bitung, Sulawesi Utara. Keduanya akan bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin oleh Ali Kalora. Keduanya ditangkap di atas kapal dalam perjalanan dari Bitung ke Poso.

Juru Bicara Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan orang-orang yang ditangkap adalah anggota JAD yang memiliki jaringan dengan ISIS, yang mendalangi sejumlah serangan ke gereja-gereja dan tempat lain termasuk polisi.

“Kelompok itu berencana menyerang polisi saat pemilu,” kata Prasetyo kepada seperti dikutip detik.com.

Ia mengatakan para teroris yang tewas dan ditangkap memiliki jaringan dengan kelompok JAD di Lampung, sejumlah dari mereka tewas selama penggebrekan di Sibolga, Sumatra Utara, pada pertengahan Maret lalu. Mereka ingin membentuk sel baru di Bekasi karena banyak kontrakan dan banyak pendatang di daerah itu.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi