UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus Fransiskus Mengajak Orang untuk Belajar dari Bunda Teresa

Mei 10, 2019

Paus Fransiskus Mengajak Orang untuk Belajar dari Bunda Teresa

Paus Fransiskus berjabat tangan dengan seorang biarawati Misionaris Cinta Kasih, setelah mengunjungi monumen peringatan yang didedikasikan untuk Bunda Teresa di ibukota Makedonia, Skopje pada 7 Mei. (Foto oleh Andreas Solaro / AFP)

Paus Fransiskus mengunjungi negara Balkan kecil di Makedonia Utara untuk memberikan penghormatan kepada orang kudus yang bersahaja yang telah melakukan hal-hal besar: Santa Teresa Dari Kalkuta.

Bunda Teresa terlahir sebagai Agnes Ganxhe Bojaxhiu dari orang tua Albania di Skopje, 26 Agustus 1910.

Setelah melakukan kunjungan resmi kepada presiden Makedonia Utara, Paus Fransiskus pada 7 Mei mengunjungi monumen dan museum yang dibangun di situs gereja tempat Bunda Teresa dibaptis. Gereja itu kemudian hancur oleh gempa bumi.

“Tergerak oleh kasih Tuhan, Bunda Teresa menjadikan kasih terhadap sesama manusia sebagai hukum tertinggi dalam hidupnya,”kata paus.

Di monumen peringatan itu, Paus Fransiskus tidak berbicara tentang santa pendiri Misionaris Cinta Kasih, tetapi setelah berdoa dengan tenang di hadapan relikuinya, ia memuliakan Tuhan atas karunia kehidupannya dan berdoa dengan perantaraannya bagi Makedonia Utara.

Paus Fransiskus juga berdoa agar Tuhan memberikan berkat bagi orang Kristen “untuk menjadi tanda cinta dan harapan di zaman kita sekarang di mana begitu banyak orang miskin, terbuang, terpinggirkan, dan pendatang.”

Menurut Vatikan, di antara para tamu yang hadir di monumen peringatan itu adalah sejumlah Misionaris Cinta Kasih, sekitar 100 orang yang mereka layani di Skopje, dan dua sepupu Bunda Teresa.

Merayakan Misa di Lapangan Makedonia saat pagi musim semi yang indah, Paus Fransiskus menarik perhatian orang pada kelaparan manusia, bukan saja kelaparan akan roti, tetapi juga kelaparan akan kebenaran, akan Tuhan dan cinta.

“Bunda Teresa mengetahui semua ini dengan sangat baik dan ingin membangun hidupnya di atas dua pilar, yaitu Yesus yang terinkarnasi dalam Ekaristi dan Yesus yang berinkarnasi dalam orang miskin,” kata paus.

Menerima dan memberi cinta menandai perjalanannya dari Skopje ke India dan membuatnya terus maju.

Sudah terlalu banyak orang ‘terbiasa makan roti basi dari disinformasi’ dan akhirnya mereka menjadi tawanan pandangan dunia yang membuat mereka acuh tak acuh pada orang lain atau benar-benar bermusuhan, katanya.

“Orang-orang Kristen tidak boleh takut untuk mengatakan kepada Tuhan bahwa mereka lapar akan pengalaman persaudaraan di mana ketidakpedulian, caci maki, dan penghinaan dijauhkan dari meja kita atau tidak mengambil alih tempat di rumah kita,” kata paus.

“Kami lapar, Tuhan, akan pertemuan-pertemuan di mana Sabdamu dapat membangkitkan harapan, membangkitkan kelembutan dan menyadarkan hati dengan membuka jalan transformasi dan pertobatan,” lanjut paus.

Rasa lapar akan hubungan damai dan dunia yang lebih baik adalah hal-hal yang diimpikan oleh orang-orang muda, kata Paus Fransiskus saat pertemuan dengan orang-orang muda Kristen, Muslim dan Yahudi di pusat pastoral Katedral Hati Kudus.

“Dunia kita lelah dan terpecah, dan kita bisa tergoda untuk membiarkannya terpecah dan membiarkan diri kita juga terpecah,” katanya.

Tetapi orang-orang muda harus terus bermimpi untuk “tetap memastikan bahwa dunia lain benar-benar memungkinkan, dan bahwa kita dipanggil untuk terlibat, untuk membantu membangun dunia itu melalui pekerjaan kita, upaya kita, dan tindakan kita.”

Pikirkan tentang Bunda Teresa, kata paus kepada orang-orang muda. Dia tidak bisa memikirkan akan jadi seperti apa hidupnya nanti, tetapi dia terus bermimpi dan mencoba melihat wajah Yesus, dan cintanya yang luar biasa, pada semua orang di pinggir-pinggir jalan di Kalkuta.

“Cita-citanya sangat besar, dan itulah sebabnya mengapa cintanya juga besar.”

“Bunda Teresa suka menyebut dirinya ‘sebuah pensil di tangan Tuhan,” dan ketika dia memberi Tuhan kuasa atas hidupnya, Tuhanpun mulai menulis halaman sejarah baru dan menakjubkan dengan pensil itu.”

“Masing-masing dari kalian dipanggil, seperti Bunda Teresa, untuk bekerja dengan tangan kalian, untuk menjalani kehidupan dengan serius dan mengubahnya menjadi sesuatu yang indah,” kata paus kepada orang-orang muda.

Pastor Goce Kostov, seorang imam ritus Timur, dan istrinya, Gabriela Kostova, berbicara kepada paus pada acara terakhirnya di Makedonia Utara, dalam sebuah pertemuan sore hari dengan para imam dan keluarga mereka dan dengan para anggota tarekat religius.

Kostova mengatakan kepada paus bahwa sebagai istri seorang pastor “saya berbagi dengan semua kegembiraan dan keprihatinannya.” Dengan empat anak lelaki, usia 1-15, dan dengan seorang putri yang meninggal saat masih bayi, keluarga itu mengakui bahwa doa keluarga membawa kekuatan, katanya.

“Sebagai seorang imam,” kata Pastor Kostov, “Tuhan telah memberi saya rahmat untuk dapat mengalami ayah secara fisik dalam keluarga saya dan, pada saat yang sama, ayah rohani di paroki saya. Keduanya saling melengkapi dan melengkapi satu sama lain. Kelembutan, cinta, kesabaran dan kasih sayang untuk keluarga saya, terutama anak-anak, tercermin di paroki, dan berbuah manis.”

Paus Fransiskus berterima kasih kepada para imam, keluarga mereka dan para religius dari komunitas Katolik ritus Latin dan ritus Timur karena telah membantunya mengalami kepenuhan identitas Katolik.

Menurut statistik Vatikan, hanya ada sekitar 15.000 umat Katolik di negara itu, kurang dari 1 persen dari populasi, tetapi paus memberi tahu para imam dan religius bahwa jika mereka terobsesi dengan angka, mereka akan mulai berpikir bahwa semuanya terserah mereka.

Sebaliknya, paus sekali lagi merujuk pada Bunda Teresa, sebagai suatu “tanda konkrit tentang bagaimana seorang yang kecil, yang diurapi oleh Tuhan,” dapat menyebarkan keharuman Injil ke tempat yang jauh dan luas.

“Sejarah ditulis oleh orang-orang seperti ini, oleh orang-orang yang tidak takut menawarkan hidup mereka untuk cinta,” kata paus.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi