UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Sri Lanka Didesak Hentikan Pembalasan Pasca Serangan Bom Paskah

Mei 15, 2019

Sri Lanka Didesak Hentikan Pembalasan Pasca Serangan Bom Paskah

Keterangan foto: Masjid di Negombo, Sri Lanka, ini memasang spanduk berisi ucapan dukacita setelah terjadi serangan bom bunuh diri yang menewaskan lebih dari 250 orang pada Minggu Paskah lalu. (Foto: ucanews.com)

Beberapa kelompok hak asasi manusia (HAM) internasional mendesak pemerintah Sri Lanka agar melindungi umat Islam serta para pengungsi asing dan pencari suaka menyusul serangan bom bunuh diri yang terjadi pada Minggu Paskah lalu.

Lebih dari 250 orang tewas dalam serangan yang dilakukan oleh milisi Muslim Sri Lanka pada 21 April tersebut.

Sejak saat itu terjadi sejumlah perselisihan komunal termasuk kasus penyerangan umat Kristen terhadap beberapa pemilik toko beragama Islam. Para korban dan sekitar 1.100 pengungsi dan pencari suaka sebagian besar tinggal di Negombo, dekat Kolombo.

Orang-orang yang rentan menjadi sasaran adalah umat Islam dari Pakistan dan Afganistan serta Iran dan Yaman. Mereka mengungsi karena mengalami persekusi agama, etnis dan politik di negara mereka.

Selain itu juga ada komunitas Ahmadiyah yang mengalami diskriminasi dari beberapa umat Islam.

Kelompok-kelompok HAM internasional itu mengatakan para pengungsi dan pencari suaka beragama Kristen juga berada dalam bahaya di tengah situasi saat ini.

Sebuah pernyataan bersama dikeluarkan oleh kelompok-kelompok HAM internasional tersebut, antara lain Amnesty International, FORUM-ASIA, Franciscans International, Freedom from Torture, Human Rights Watch dan International Commission of Jurists.

Mereka mengatakan otoritas di Sri Lanka hendaknya mengambil langkah untuk menjaga ketertiban dan mencegah aksi main hakim sendiri sebagai pembalasan.

“Sangat disayangkan, para pengungsi dan pencari suaka menjadi sasaran dan kehilangan tempat tinggal menyusul serangan (teroris) itu, sementara tuan tanah di bawah tekanan untuk mengusir mereka dari rumah mereka,” demikian bunyi pernyataan itu.

Kelompok-kelompok HAM internasional itu meminta orang-orang yang rentan terhadap aksi pungutan untuk direlokasi ke lokasi yang lebih layak dengan sanitasi, ruang tidur dan keamanan yang memadai. 

Sri Lanka menyediakan tempat pengungsian untuk orang asing ketika klaim mereka terkait perlindungan tengah diproses oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).

Secara khusus, kelompok-kelompok HAM internasional itu meminta perlindungan bagi anak-anak yang berada dalam bahaya. Para petinggi di Sri Lanka juga diminta untuk tidak mendeportasi orang-orang yang takut akan perlakuan buruk jika dikirim pulang ke negara mereka atau ke tempat lain di mana kehidupan dan kebebasan mereka terancam.

Melakukan hal itu berarti melanggar prinsip hukum internasionalnon-refoulement, artinya mengirim pengungsi atau pencari suaka ke tempat yang berbahaya.

Kelompok-kelompok HAM internasional itu mengatakan pemerintah Sri Lanka hendaknya menyatakan dengan jelas bahwa serangan komunal yang terjadi di negara itu terhadap orang-orang ini tidak akan ditoleransi.

Penting pula bagi otoritas untuk menekankan bahwa semua serangan terhadap pengungsi dan pencari suaka akan diselidiki dengan satu pandangan bahwa hal ini dilakukan untuk menuntut terduga pelaku pelanggaran.

Kelompok-kelompok HAM internasional itu juga meminta Sri Lanka untuk membantu mempercepat penempatan kembali sejumlah pengungsi ke negara ketiga.

Serangan Massa ke Sejumlah Toko

Di tengah ketegangan komunal yang semakin meningkat, sejumlah toko milik umat Islam diduga diserang pada 5 Mei. Serangan ini dipicu oleh perselisihan antara sopir taksi tuk tuk dan sekelompok warga desa di dekat Negombo.

Gereja St. Sebastian – yang terletak di kota berjarak 40 kilometer sebelah utara Kolombo – itu merupakan satu dari tiga gereja dan tiga hotel yang diserang para pelaku bom bunuh diri pada Minggu Paskah.

Pada 12 Mei, sekelompok orang menyerang sejumlah toko milik umat Islam di wilayah pesisir bagian barat Kota Chilaw.

Jam malam diberlakukan hingga pukul 04.00 keesokan harinya dan seorang pria Muslim yang dituduh memosting konten rasial di media sosial ditangkap.

Sejumlah pengungsi yang takut akan keselamatan mereka mengungsi di beberapa kantor polisi atau masjid.

Sementara itu, pada 6 Mei , sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah dibuka kembali untuk kelas 6 ke atas. Namun sekolah-sekolah yang dikelola Gereja tetap tutup.

Banyak Gereja mengadakan Misa Minggu dengan keamanan ketat, tetapi sebagian besar sekolah Minggu untuk anak-anak dibatalkan.

Kardinal Malcolm Ranjith – yang menolak tawaran pemerintah untuk menggunakan kendaraan anti-peluru – meyakinkan umat Islam bahwa Gereja menentang pembalasan terhadap mereka.

“Kami tidak menentang kalian dan kami tidak akan membiarkan perlakuan buruk apa pun dilakukan oleh umat kami terhadap kalian,” katanya.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi