UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Biarawati Pejuang HAM Filipina Meninggal di Jakarta

Mei 16, 2019

Biarawati Pejuang HAM Filipina Meninggal di Jakarta

Suster Crescencia "Cres" Lucero dari tarekat SFIC terkenal karena upayanya bagi perjuangan hak asasi manusia di Filipina. Suster Cres meninggal saat mengikuti pertemuan di RSPAD Jakarta, 15 Mei. (Foto oleh Joe Torres/ucanews.com)

Seorang biarawati Fransiskan Filipina yang terkenal karena perjuangannya bagi penegakan HAM di negaranya dan di arena internasional meninggal di Jakarta saat mengikuti pertemuan.

Suster Crescencia Lucero, SFIC meninggal di Rumah Sakit Gatot Soebroto pada 15 Mei setelah mengalami stroke saat menghadiri pertemuan hak asasi manusia di Jakarta.

Biarawati berusia 77 tahun itu menjalani operasi karena mengalami pendarahan otak pada 9 Mei, tetapi tidak kunjung pulih.

Suster Lucero adalah mantan ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan dari Asosiasi Para Pemimpin Tarekat Religius di Filipina.

Dia mengepalai Satuan Tugas Tahanan Filipina pada 1980-an dan terpilih kembali sebagai ketua bersama organisasi itu pada tahun 2016.

Dia pernah menjabat sebagai anggota dewan Philippine-Misereor Partnership Inc. yang bekerja sama dengan lembaga Katolik Misereor di Jerman.

Pada saat kematiannya, Suster Lucero adalah anggota dewan eksekutif Forum Asia untuk Hak Asasi Manusia dan Pembangunan, yang sebelumnya dikenal sebagai Forum-Asia, sebuah aliansi dari 58 organisasi hak asasi manusia di 19 negara di Asia.

Kehilangan pejuang keadilan dan gerakan perdamaian

Kelompok hak asasi manusia dan gereja di Filipina mengatakan kematiannya merupakan kerugian besar bagi gerakan keadilan dan perdamaian negara itu.

Pastor Edwin Gariguez, sekretaris eksekutif Sekretariat Nasional Aksi Sosial Konferensi Waligereja Katolik Filipina, mengatakan bahwa Suster Lucero “tak tergantikan.”

“Di masa-masa kelam seperti apa yang kita alami sekarang di bawah situasi hak asasi manusia yang memburuk di negara ini, kita membutuhkan seseorang yang akan mengatakan kebenaran,” kata Pastor Gariguez.

“Suster Cres selalu begitu,” katanya.

Forum Ekumenis Para Uskup mengatakan kematian Suster Lucero “akan sangat dirasakan oleh gerakan ekumenis dimana dia telah membagikan imannya dan bekerja bersama dengan komitmen kenabian untuk keadilan dan perdamaian dan martabat manusia.”

Aktivis hak asasi Yolanda Esguerra mengatakan, Suster Lucero adalah salah satu wanita paling berani yang menyentuh kehidupan banyak korban hak asasi manusia dan orang-orang yang selamat dari darurat militer di Filipina.

“Saya melihat bagaimana dia bekerja untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi orang-orang biasa yang kehilangan hak dan keadilan mereka,” kata Esguerra, koordinator nasional Philippine-Misereor Partnership Inc.

Dalam wawancara tahun 2014 dengan ucanews.com, Suster Lucero mengatakan tahun-tahun yang ia habiskan dalam pekerjaan hak asasi manusia telah menjadikannya lebih kuat.

“Tetapi terlepas dari optimisme saya, ada pemikiran yang mengganggu bahwa apa yang saya terus perjuangkan menjauh,” katanya.

“Saya khawatir bagaimana segala sesuatu berjalan sekarang [di negara ini], bahwa mungkin ada peluang suatu saat nanti keluarga Marcos akan berada di pucuk kekuasaan lagi.”

“Ya Tuhan. Itu akan menjadi mimpi buruk yang aku tidak akan pernah harapakan akan dialami orang lain.”

Sehari sebelum Suster Lucero meninggal, salah satu anak mendiang diktator terpilih menjadi anggota Senat Filipina dalam pemilu paruh waktu beberapa hari lalu.

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi